7/12/2008

Sawitri

~Danarto~

PEREMPUAN itu terhuyung-huyung, lalu sesaat kemudian jatuh tersungkur. Seperti telah memunggah beban berat dari pundaknya, dia tak sadarkan diri. Tergolek dalam semak-belukar rimba raya yang lebat, dia seolah lelap tertidur. Kelihatan kumuh, pakaian yang robek-robek, rambut yang acak-acakan, dan tubuh yang tergores-gores, perempuan itu menyiratkan kecantikan yang perkasa. Telapak kakinya yang merah-jambu pecah-pecah. Di sana-sini berdarah. Kuku-kuku jari kaki dan jari tangannya yang memanjang, tentu tak dapat dihentikan pertumbuhannya. Dia juga tak berhasil menyembunyikan tubuhnya yang indah, bahkan ketika tubuh itu tak sempat dirawat. Setiap langkah dalam setiap saat baginya merupakan waktu yang sangat menentukan jalan hidupnya.

Sudah 99 hari dia menguntit Batara Yamadipati, Dewa Kematian, yang memanggul beban Setiawan, suaminya, yang sudah menjadi mayat. Perempuan ini, Sawitri, tidak rela atas kematian suaminya. Merasa diperlakukan tidak adil, dia menuntut Dewa Kematian itu untuk memberikan nyawa suaminya kembali, secepat mungkin. Tentu saja Sanghyang Yamadipati merasa terpojok oleh tuntutan Sawitri. Pertama, Sang Dewa sangat heran, bagaimana mungkin Sawitri bisa melihat badannya yang sebenarnya tidak kasat mata. Demikian juga apa-apa yang dibawanya tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Kedua, Sang Dewa sangat kagum atas ketahanan tubuh Sawitri yang mampu menguntit ke mana saja kepergiannya tanpa kelihatan merasa lelah dan tak kehilangan jejak. Di mana ada Yamadipayi, di situ tegak Sawitri.

Sebaliknya Sawitri juga merasa heran bahwa kematian Setiawan di luar akal sehat dan kenapa jenazahnya tak ditinggalkannya. Sawitri lalu menuduh para dewa berlaku curang terhadapnya. Bagaimana tidak curang, Setiawan seorang ksatria yang sehat jasmani dan rohani. Setiap hari selalu berolahraga. Makannya bagus. Istirahatnya bagus. Dan pikiran-pikirannya bagus. Tak mungkin seseorang yang dalam kondisi sebagus-bagusnya, tiba-tiba begitu saja meninggal dunia. Bagaimana dengan takdir? Mendengar perkataan takdir, Sawitri hanya mencibir. Perempuan cantik ini telah terbang menembus langit ke kerajaan para dewa. Sebelum sampai menembus istana, Sawitri sudah dicegat para dewa penjaga. Lalu para dewa penjaga itu dengan memaksa mengantarkannya ke istana Batara Narada.

“Takdir selalu mengikuti kehendak tubuh yang memiliki takdir tersebut. Jika keadaan tubuhnya sehat-walafiat jasmani dan rohani, takdir akan setuju saja memperpanjang usia si orang itu,” kata Sawitri di depan Batara Narada, wakil penguasa tertinggi para dewa di Kahyangan, yang lantas terbahak-bahak mendengar pendapat Sawitri itu.

Sesaat ditatapnya Sawitri, lalu Batara Narada berujar, “Sawitri, putriku yang jelita. Kamu jangan ngarang, ya. Takdir manusia adalah urusan para dewa. Jika takdir sudah tiba, umur manusia tidak bisa ditunda. Tidak mungkin ditambah atau dikurangi, meski keadaan badannya sehat-sesehat-sehatnya.”

“Banyak umur yang bisa ditawar-tawar.”

“Ah, kamu jangan mendongeng.”

“Ada seorang pertama yang sudah sampai ajalnya, ia didatangi Betara Yamadipati yang memintanya untuk mengikhlaskan nyawanya. Pertapa itu memohon Sang Dewa untuk memperpanjang umurnya barang secukupnya karena ia merasa bertapanya belum cukup. Lalu Eyang Yamadipatyi mengabulkannya.”

“Lagi-lagi, kamu mengarang.”

“Betul, yang mulia. Hamba tidak bohong. Hamba bertemu sang pertapa itu.”

“Ketahuilah, putriku yang manis. Sosok yang menemui pertapa itu bukan Batara Yamadipati, melainkan orang biasa yang bisa mengubah bentuk tubuhnya persis Dewa Pencabut Nyawa itu.”

“Ah, tidak mungkin. Sang pertapa sendiri sangat yakin, ia Dewa Yamadipati.”

“Kalau begitu ia bukan pertapa yang mumpuni. Tak mungkin pertapa yang andal bisa ditipu.”

“Ia seorang yang jujur.”

“Saya percaya, pertapa itu seorang yang jujur. Barangkali sangat jujur. Tapi orang jujur kan tidak mungkin tidak tertipu.”

“Kalau begitu hamba harus mempercayai siapa?”

“Percayailah Dewa yang ada di hadapanmu ini. Ia sangat berkuasa terhadap kerajaan langit dan bumi.”

“Hamba ingin bukti bahwa ajal suami hamba memang telah sampai.”

“Kok kamu masih bertanya pula. Suamimu sudah di alam lain.”

“Kenapa jenazahnya dibawa serta?”

“Ketentuan takdir itu macam-macam. Ada yang meninggal secara biasa. Ada pula yang meninggal secara luar biasa. Suamimu termasuk yang luar biasa. Ketika suamimu meninggal, ia cukup suci sehingga tubuhnya cukup pantas untuk diterbangkan ke langit.”

“Hamba tidak rela.”

“Lho, bukan urusan para dewa untuk merasakan suasana hatimu.”

“Kalau begitu para dewa curang.”

“Dalam urusan takdir, tidak ada hal curang atau tidak curang.”

“Duh, Sanghyang yang menguasai langit. Paduka mengetahui bahwa kami adalah pengantin baru. Baru menikmati sedikit kelezatan perkawinan, Paduka telah mencabut nyawa suami hamba. Di mana lalu keadilan para dewa.”

“Dalam urusan takdir, tidak ada hal adil dan tidak adil. Takdir berdiri di luar hukum alam. Takdir sepenuhnya berada di dalam daftar yang tersusun rapi.”

“Jika demikian, anugerahi kami keringanan sedikit. Kami berdua berjanji akan menurunkan lima orang anak dan cucu sebanyak dua puluh lima orang. Jika waktu mendesak, izinkan suami hamba meninggal setelah melihat cucunya yang ke lima.”

“Sawitri, putriku yang gagah berani. Kami harus yakin bahwa dalam takdir tidak ada tawar-menawar.”

“Kalau begitu para dewa itu kejam.”

“Dalam takdir, tidak ada hal yang kejam dan tak kejam.”

“Kalau begitu para dewa itu bekerja tanpa patokan.”

“Ha ha ha.”

Tanpa pamit kepada Batara Narada, Sawitri berkelebat bagai kain yang dihembus angin, pergi meninggalkan Kahyangan turun ke Mayapada. Sawitri masih tergeletak dan semakin tenggelam di dalam semak-belukar rimba raya. Lembab bau daun yang beguguran menumpuk, bercampur akar dan ranting memberi aroma sampah yang sedap. Parfum hutan lebat. Gelap pekat sinar matahari tak mampu menembus rimbun daunnya. Hutan rimba adalah samudra yang tak terjamah. Tak terukur kedalamannya. Pusat kehidupan roh alam. Sulur-sulur menghubungkannya. Pipa darah yang lancar mengalirkan daya hidup. Kelestarian lingkungan. Seekor babi hutan mendekat, mengendus-endus dan menggulingkan tubuhnya dengan taringnya yang besar dan melingkar itu. Tiba-tiba saja sebatang belalai mencomot badan babi hutan itu dan melemparkannya jauh-jauh. Kemrosak bunyi badan binatang yang berbulu tajam itu menerjang ranting dan daun. Entahlah, ia terbirit menghilang di balik pohon raksana, kemana.

Esoknya baru Sawitri terbangun. Dia kaget sekali karena dia telah tidur berkasur ular raksasa. Tubuh ular itu lebih besar dari batang-batang kayu yang besar dan tumbuh subur. Ketika Sawitri mau lari, ular itu mencegahnya sambil berkata, “Sawitri, cucuku. Cobalah tatap wajahku.”

Begitu Sawitri memperhatikan kepala ular yang bermahkota itu, sadarlah ia lalu menyembahnya.

“Eyang Anantaboga, mohon maaf, Cucunda tidak mengenali.”

“Tak apalah, Cucuku. Karena sudah lama kita tidak berjumpa, kamu jadi pangling.”

“Tapi ijinkan Cucunda untuk cepat-cepat pergi sebelum buruan Cucunda berlari lebih jauh lagi.”

“Ha ha ha. Aku mahfum. Berpuluh hari kamu menguntit Sanghyang Yamadipati untuk meminta jenazah suamimu yang kemana-mana dipanggulnya guna dihidupkan kembali dan diserahkan kepadamu. Aku merasakan getaran jiwamu yang keras di dasar bumi, kerajaanku.”

“Mohon maaf sebesar-besarnya, Cucunda telah mengganggu Eyang.”

“Sebaiknya aku memang perlu diganggu. Bagi kamu barangkali aku ini orangtua yang kurang berguna.”

“Tidak sekali-kali, Eyang, Cucunda punya pikiran yang seperti itu.”

“Dengan berat hati aku katakan kepadamu, apa yang diutarakan Batara Narada, benar adanya. Begitulah takdir.”

“Cucunda mohon pamit,” tiba-tiba saja Sawitri memotong pembicaraan sambil tubuhnya berkelebat bagai berpacu dengan angin meninggalkan Sanghyang Anantaboga, maharaja kerajaan dasar bumi itu.

“Jangan begitu Cucuku. Maksudku…,” teriak maharaja ular itu sambil menjulur mengejar putri yang semangatnya berkobar-kobar itu. Dengan sigap Anantaboga menggaet tubuh Sawitri lalu memanggulnya dan meluncurlah ular raksasa dengan kecepatan penuh, menyusuri sela-sela batang-batang pohon besar dalam rimba-raya yang pekat itu.

“Turunkan Cucunda, Eyang. Aku tidak butuh pertolongan Eyang.”

Anantaboga tidak menggubris omongannya, terus meluncur bagai kapal layar yang didorong angin buritan.

“Turunkan Cucunda, Eyang. Aku tidak butuh pertolongan Eyang.”

Anantaboga tetap tidak menggubrisnya, terus meluncur bagai anak panah yang melesat dari busurnya.

Sikap Anantaboga ini bagi Sawitri mengingatkan sikap Yamadipati yang tidak pernah menggubrisnya.

“Eyang Yamadipati, kami adalah pengantin baru. Kamu sedang mereguk kebahagiaan ketika tiba-tiba Eyang muncul dan mencabut nyawa suami saya. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apa kesalahan dan dosa kami sehingga secara tiba-tiba kami dipisahkan?” begitulah perkataan yang keluar dari mulut Sawitri mula-mula ketika menghadapi kenyataan yang sangat pahit itu, setelah menangis menjerit-jerit sambil memeluk Setiawan, suaminya yang tiba-tiba terbujur lemas, telah menjadi mayat, sementara itu di pojok taman kolam renang istananya berdiri Batara Yamadipati persis batu, kokoh dan dingin.

Dewa Pencabut Nyawa itu hanya diam, tak memberi jawaban, juga tidak berkata-kata. Dewa yang berbadan bongsor ini lalu mendekat yang membuat Sawitri ketakutan dan mundur. Ditariknya mayat Setiawan dan dipanggulnya yang menyebabkan Sawitri menjerit lalu menubruk suaminya dan berebut jenazahnya. Tapi pegangan sang dewa sangat kuatnya sehingga Sawitri yang tak mau melepaskan cengkeraman tangannya atas tubuh suaminya, terseret. Sawitri meronta. Sawitri memukuli dada Yamadipati, namun Dewa itu tidak peduli. Ia terus berjalan sambil memanggul Setiawan di pundaknya seperti memanggul karung berisi beras.

Sawitri merangkul erat-erat kedua kaki sang Dewa, ditahannya supaya tidak bisa melangkah, tapi dengan mudahnya dihempaskannya. Sawitri menangis sepanjang jalan, sambil menyeret kakinya ke mana sang Dewa pergi. Sesekali Sawitri menciumi tubuh Setiawan yang kepalanya terjulur di punggung sang Dewa, sesekali perempuan ini mencoba terus untuk merebut jenazah suaminya dengan menarik-narik kedua kakinya yang erat dicengkeram sang Dewa. Jika Yamadipati terbang, terbang pula Sawitri. Jika sang Dewa menyeberangi lautan, begitu pula Sawitri sanggup menyeberangi lautan. Jika Dewa itu melintas gurun yang panas-terik, melintas pula Sawitri tanpa ragu-ragu. Sampai Yamadipati ragu, benarkah putri yang lembut ini Sawitri atau jelmaan kekuatan para dewa yang mencoba membelanya.

Dalam berlari atau berjalan menguntit sang Barata, sering Sawitri jatuh tertidur sampai terguling-guling ke bawah bukit. Begitu tubuhnya terbentur pada bebatuan, dia terbangun dan mengejar Yamadipati kembali. Atau dalam keadaan tertidur tangannya memegangi erat kaki Yamadipati yang terus menyeretnya tidak peduli. Atau pernah pula karena Yamadipati kasihan, dalam keadaan tertidur Sawitri dipanggulnya di pundak bersebelahan dengan Setiawan. Tak jarang Yamadipati yang tak pernah sepatah kata pun berbicara kepadanya, meninggalkan Sawitri di sembarang tempat—termasuk tempat yang berbahaya—karena perempuan itu kelelahan. Sebagai dewa dengan tugas khusus, Yamadipati tentu membutuhkan syaraf baja untuk melaksanakan tugas dan kewajiban itu.

Yang menjadi pertanyaan besar Sawitri adalah, mau dibawa ke mana jenazah suaminya itu. Jika Setiawan seorang suci, sejauh apa kesuciannya sehingga badan-wadagnya perlu dikuburkan di langit. Jika tindakan Dewa itu perlu guna mengecoh istrinya, apakah seorang perempuan seperti Sawitri begitu penting untuk dikecoh. Jika para dewa ingin memberi pelajaran tentang filosofi moral kepada umat manusia, kenapa harus dengan jalan memutus tali cinta antarsesama manusia, mengapa tidak bercerita tentang percintaan para dewa saja. Yamadipati yang tidak mau berbicara karena disiplin akan tugasnya yang hanya mencabut nyawa, menggiring Sawitri ke pertanyaan-pertanyaannya yang lebih mendasar tentang mekanisme birokrasi pemerintahan kedewataan yang mustahil bisa ditembus oleh manusia. Bagi Sawitri, tragedi percintaannya itu sungguh diliputi kabut yang aneh dan musykil.

Sampai tibalah hari ke-999 ketika Sawitri ditemui Sanghyang Anantaboga itu, yang lantas membawanya melaju seperti kapas yang diterbangkan angin. Kemarahan Sawitri terobati sedikit ketika dia melihat Yamadipati yang berlari bak angina—tetap memeluk erat jenazah Setiawan—tersusul. Begitu Yamadipati lepas landas mau terbang, ekor Anantaboga menggaet tubuh Dewa Kematian itu hingga tak bisa bergerak. Anantaboga mendesis sesaat, menghadangnya, tersenyum sambil berkata: “Terserahlah Anda mau pergi ke mana dan seberapa lama, tapi jangan ditinggal Sawitri.”

Yamadipati diam, sebagaimana biasanya. Tegak persis batang pohon yang tak tergoyahkan oleh angin kencang.

Anantaboga lalu mencium kening Sawitri sambil berkata, “Sawitri, cucuku yang manis, ikhlaskan suamimu dan belajarlah tentang takdir.”

“Bagaimana kalau Eyang Anantaoga belajar hidup menggelandang seperti saya?”

Anantaboga tak menjawab ucapan Sawitri, lalu ngeloyor pergi, lenyap ditelan pepohonan besar dan lebatnya rimba-raya. Sambil duduk bersimpuh di depan Batara Yamadipati yang tetap erat memanggul jenazah Setiawan, Sawitri berkata dengan santun.

“Duh, Eyang yang berkuasa atas nyawa manusia. Mohon maaf, telah ratusan hari hamba tempuh mengikuti langkah paduka. Hamba ulangi lagi permohonan hamba untuk kesekian kalinya yang mendesak untuk minta dikabulkan, hamba mohon paduka menghidupkan kembali Setiawan, suami tercinta hamba. Dan izinkan kami dan keturunan kami untuk menikmasi kebahagiaan rumah tangga sampai cucu-cicit-canggah-wareng. Sampai kami dan keturunan kami dijauhkan dari siksa neraka dan kesengsaraan hidup, yang akhirnya di surga rumah kami yang sebenarnya.”

Sesaat kemudian, tak dinyana Batara Yamadipati pelan menurunkan jenazah Setiawan dari pundaknya. Ksatria itu lalu tegak berdiri, sesaat kemudian berjalan ke arah Sawitri yang kelihatan terheran-heran. Begitu sadar, Sawitri berlari dan menghambur ke pelukan suaminya yang menyambutnya dengan mesranya, erap mendekap dan pecah tangis putri yang gigih itu. 

***

Republika, 20 Desember 1998

7/05/2008

Raja Kuru

~Yanusa Nugroho~

Lampu minyak bergoyang perlahan, tersapu angin kemarau. Apinya berkebit-kebit, bahkan pada saat tertentu nyaris padam. Malam pekat di luar sana, namun juga sepekat kabut yang menyelimuti perasaan Duryudana.

Karna. Nama itu kini seakan menambah persoalan yang dihadapinya. Dulu, hanya Arjuna yang dikhawatirkannya akan merebut Surtikanti, namun setelah dilihatnya Surtikanti agak tak acuh pada Arjuna, Duryudana agak tenteram.

Piala anggur di tangan kirinya. Rambutnya kusut. Wajahnya keruh dimainkan cahaya api minyak. ”Suruh Togog kemari.” perintahnya dingin pada penjaga ruangan.

Sang penjaga segera undur dan beberapa saat kemudian kembali bersama seorang laki-laki tua, gemuk. Laki-laki itu membawa sebuah kotak, berisi sitar.

”Tuanku?” sapa si laki-laki gemuk dengan suara seperti terkulum oleh bentuk mulutnya yang tampak terlalu besar dibandingkan keseluruhan kepalanya. Sedemikian besar mulutnya sehingga seolah-olah orang hanya melihat wajah Togog Tejamantri hanyalah bibir yang bermata dan bertelinga.

Tanpa memandang kehadiran Togog, raja muda itu meneguk anggurnya. Lalu, ”Gog… apa yang bisa mengobati kekhawatiran hati manusia.”

Togog tertawa. Lalu jemarinya mulai memetik dawai-dawai sitar. Nada pun mendenting-denting.

”Kekhawatiran,” Togog tersenyum dan menggantung ucapannya sesaat. ”Ya…, perasaan takut kehilangan. Kehilangan karena kita merasa memiliki….”

”Apa ini sebuah permainan, Gog?”

”Permainan, tuanku?”

”Aku merasakan diriku dipermainkan.”

”Dipermainkan, tuanku?”

”Dia seperti melihat dan menimbang dengan kedua bola matanya sekaligus, yang anehnya masing-masing melihat sesuatu yang berbeda.”

”Ha-ha-ha-ha-ha… perasaan tuanku mengatakannya demikian, tetapi, menurut hamba….”

”Memang aneh, Gog, perasaanku ini…”

”Ha-ha-ha-ha… Mengapa tuanku tidak melihat dengan seribu mata?”

”Gog, jangan memberiku pertanyaan aneh. Hidupku sudah aneh.”

”Tuanku adalah raja segala raja. Lebih tinggi daripada Gunung Mahameru. Menjulang menggapai awan gemawan.. tentunya tuanku memiliki apa yang hamba maksudkan.”

”Gog…”

”Hamba, tuanku….”

”Menyanyilah….”

Togog tersenyum. Jemarinya menjentik-jentik nada-nada yang tersimpan pada setiap dawai sitar.

”Ada yang berkisah, tentang seorang lelaki resah…
hidupnya bergelimang harta dan mewah
bersama angin dia pergi, mencari sunyi
dengan kaki luka, dia menghancurkan keangkuhannya
berjalan menyeruak semak, seorang diri
mencari jalan menuju keabadian sejati
Tak ada lagi pintu untuk diketuk
Tak ada saudara untuk dijenguk
Dia abaikan istana, dialah Pa..”

”Berhenti sebentar.” Duryudana menabrak keheningan yang mengalir dari suara Togog.

Togog berhenti menembang. Jemarinya masih sesekali menjentik-jentik dawai. Nada merambat nyaring memenuhi sepi malam.

”Apa kau percaya pada perempuan?”

Togog tersenyum. Majikannya terbakar asmara. Putri dari Mandaraka itu memang jelita. Dan Togog tahu, siapa yang telah bertahta jauh di lubuk hati putri cantik itu.

Majikannya memang memiliki takhta kekuasaan gading, berbalut emas, namun tak mampu memindahkannya ke ruang paling dalam kehidupan Surtikanti. Menyakitkan, memang. Namun, itulah harga yang harus dibayar ketika manusia harus memilih.

”Hamba percaya, tuanku….”

”Mengapa?” Duryudana meneguk anggur, lalu menyambungnya, ”Apa yang membuatmu percaya?”

”Karena perempuan berkata dengan hatinya, tuanku.”

”Togog, jangan menyindirku….”

Togog diam, hanya tersenyum.

”Aku tahu, dia memilih Karna. Tetapi, bagaimana dengan aku? Mengapa dia memilih Karna. Apa hebatnya Karna? Bahkan, derajatnya pun aku yang memberinya. Kini, bahkan dia menjadi pembicaraan para prajurit. Namanya berkobar bagai api, siap menghanguskan rimba raya kejayaanku. Bangsat!” dan piala anggur itu dilemparkannya. Bergelontang benda yang sesaat lalu ditimang dan dipandangnya penuh kebanggaan itu. Menggema jauh suaranya, sesaat kemudian teredam sunyi.

Togog hanya diam. Dia hanya tersenyum dalam hati dan menjawab pertanyaan Duryudana dengan pertanyaan sederhana: mampukah kau, wahai anak Drestrarastra, berguru pada Parasu? Mampukah kau, wahai anak Gendari, berpisah dari kedua orangtuamu? Karna mampu menelan kenyataan paling pahit dalam hidupnya, dan karenanya dia layak menerima kemampuan itu. Dia bagai sebuah pedang yang terasah batu paling keras, sehingga layak mendapat ketajaman sehebat itu.

”Togog, apa kau pernah merasakan kepedihan seperti ini?”

”Tuanku.. tak ada obat untuk perasaan sakit seperti itu. Apakah tuanku pernah menyatakan perasaan tuanku pada Surtikanti….”

”Tentu saja.”

”Oh, tentu tuanku, tentu….”

”Tentu saja, dia seharusnya mengerti..”

”Ooh? Ha-ha-ha… ha-ha-ha…” dan seperti menirukan ucapan Duryudana Togog bergumam, ”dia seharusnya mengerti….”

”Diam, kau Togog.”

Namun, Togog malah terbahak-bahak. Duryudana tertunduk, kalah oleh gema suara Togog yang terasa jauh lebih tua daripada segala yang ada di ruangan itu.

”Tentu, seharusnya dia mengerti. haha-ha, Duryudana tuanku, junjunganku, tuanku seharusnya bicara sebagai Duryudana, bukan sebagai raja Hastina.

Karena sebagai raja, tuanku hanya memperoleh setangkup sembah. Tuanku adalah kekuasaan. Mana mungkin orang mampu bicara di depan kekuasaan?

Namun, bila tuanku bicara sebagai Duryudana, yang laki-laki biasa.. maka hatinya akan terbuka….”

”Ajari aku tentang itu,” ucap Duryudana lirih. Dikenakannya selimut kain untuk membungkus tubuhnya yang tiba-tiba terasa dingin.

Denting dawai mengisi sunyi. Menenangkan gelegak amarah. Suara Togog menggaung menembangkan kisah manusia yang bersedia ”menelanjangi” diri. Kisah seorang manusia bernama Palasara, yang mengembara, membuang semua kilau harta. Menjelajah lembah, menyeruak semak, membiarkan diri ditelan hutan. Dialah moyang keluarga besar Hastinapura.

Palasara manusia yang menghamba dan karena itu tak ingin memperhamba orang lain. Dia tolak singgasana dan memilih kegelapan gua-gua sebagai gantinya. Dia mencari keheningan nurani di jalan orang papa, dan menjauhi kehirukpikukan istana. Palasara mempersiapkan keabadian hidupnya, dan sedang berlatih menjalani kehidupannya kelak di alam kekal. Dan apalah arti hidupnya yang hanya terdiri dari darah, daging dan tulang-belulang ini, jika dengan meninggalkannya dia memperoleh hidup yang jauh lebih bermakna? Maka, wahai anak tertua bangsa Kuru, apalah arti seorang perempuan yang bahkan tak mengganggapmu ada, sedangkan Palasara dengan senang hati menyerahkan istri yang dicintainya kepada orang lain?

***

Belum lagi usai Togog mendendangkan tembangnya, dilihatnya Duryudana tertunduk. Dia menangis bagai anak kecil kehilangan mainan dan takut dimarahi ibu-bapaknya. Pundaknya terguncang-guncang, merasakan sakit yang menusuk ulu jiwanya.

Togog, manusia tua itu, berjalan mendekati rajanya. Kini dia adalah orangtua, yang jauh lebih memahami perasaan seorang anak kecil yang kini terendam kepedihan. Diusapnya kepala Duryudana, sebagaimana dulu ketika dia masih bocah. Di mata Togog, Duryudana tak lebih dari seorang bocah yang harus memikul beban terlalu berat. Harapan dan impian ibundanya, orang yang melahirkannya, terlalu besar. Di balik kegagahannya, Duryudana ternyata hanyalah bayangan, atau bahkan hanya sebuah telapak kaki bagi kehendak dan impian Gendari; ibundanya.

Telah untuk kedua kalinya raja muda itu mengalami kepahitan menghadapi perempuan. Dulu, ketika dia diam-diam dijodohkan dengan Erawati—putri tertua Prabu Salya, sebetulnya Duryudana kurang suka. Namun, karena Gendari mencengkeramkan kuku elangnya, dan Duryudana hanyalah seekor anak ayam, maka anak muda itu pun mengalah. Dia mencoba menyukai pilihan bundanya dan memang pada akhirnya dia merasa tertarik pada Erawati.

Erawati pun—sepengetahuan Togog, sebetulnya tak memiliki alasan untuk menolak Duryudana. Nyaris sempurna. Maka, hubungan diam-diam itu pun sebetulnya telah terjalin. Namun, setelah Duryudana mulai terbawa oleh perasaan kerinduannya pada Erawati—yang diam-diam dirindukannya lebih sebagai ibu daripada istri, tiba-tiba perkawinan itu batal begitu saja. Erawati dikawinkan dengan Kakrasana dari Mandura.

Maka dengan kepahitan yang serupa, Duryudana pun dipaksa menelan kenyataan, harus memilih Surtikanti—anak Prabu Salya yang nomor dua. Namun, kini, ketika semua bahkan sudah mengetahui secara gamblang hubungan keduanya, tiba-tiba muncul Karna. Dan Karna, seakan tak memandang sebelah mata pada Duryudana. Pesona dan kehebatan Karna memang tak bisa dilawan dengan harta dan kekuasaan.

Itulah sebabnya Togog merasa iba dengan anak muda yang kini menangis sesenggukan itu. Sejak kecil dia tak pernah diberi pilihan, dan hanya menjalani apa kata Gendari, yang dibantu Suman; adiknya. Duryudana tak bisa melihat pilihan lain. Otaknya seperti kosong dan hanya bisa melakukan sesuatu atas perintah dan petunjuk ibunya. Kakinya hanya melangkah manakala ibunya menyuruhnya melangkah. Sementara, mungkin, jauh di lubuk jiwanya, keinginan untuk memberontak itu sudah ada, hanya saja.. tak mungkin dia mampu mewujudkannya. Persoalan pelik itu terus bergulung-gulung di dalam jiwanya.

Kekhawatiran akan hilangnya Surtikanti dari tangannya, bukanlah semata-mata sebuah tamparan besar karena dia seorang raja. Kegagalan menyunting Surtikanti adalah sebuah tusukan telak bahwa dirinya bukanlah laki-laki yang layak mendapatkan cinta seorang perempuan. Inilah, yang di mata Togog, membuat Duryudana menangis merasakan kepedihannya.

”Tuanku.. ini sebuah pelajaran..” ucap Togog dengan suara parau. Ucapan yang keluar, setelah menyimak gemulung persoalan Duryudana.

”Tetapi, ini terlalu mahal…,” jawab Duryudana. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Togog, yang berdiri dengan ketuaannya.

”Tak ada pelajaran yang tak berharga, tuanku.”

Duryudana tegak perlahan, kemudian berjalan menuju jendela yang terbuka lebar, seakan ingin menghirup kekelaman malam beku di luar sana.

Raja bangsa Kurawa itu mencoba memandang jauh ke depan. Dibiarkannya kebekuan malam kemarau panjang itu berhembus menerpa kulitnya. Dongeng kuna tentang Raja Palasara yang mengembara, seakan memberinya kekuatan. Dulu dongeng itu diabaikannya karena baginya hanyalah sebuah isapan jempol. Dulu kisah itu dianggapnya sebagai upaya manusia untuk menutupi ketidakmampuannya mengurus kerajaan. Namun, kini, kisah itu sesungguhnya mengajarkan betapa besar kekuatan dan kekuasaan Palasara. Sedemikian besar dan kuatnya, sehingga Palasara mampu menentukan pilihan hidupnya. Palasara mampu menepiskan keakuannya, menjadikan dirinya sebagai humus, yang akan menyuburkan pertumbuhan anak cucunya di kelak kemudian hari..

Sementara Togog melantunkan sepenggal tembang:

Ada lagi sebuah kisah tentang seorang raksasa
Menyiramkan darahnya sendiri bagi kebebasan negerinya…
*terjemahan bebas dari Serat Tripama.

6/21/2008

Nistagmus

~Danarto~

Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Istri saya memberi tahu, banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Istri saya belum menemui mereka. Anak-anak yang bersiap ke sekolah, setelah sarapan, menjenguk lewat jendela. Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Saya rasa kali ini juga begitu. Karena istri saya gelisah, saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit, saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah, mengular sampai jalanan. Ada apa?

Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Di samping para tetangga, juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. Kadang datang berbondong. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng, ramai. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Juga tentang hubungan suami istri, menantu dengan mertua, bawahan dengan atasan, persoalan anak dengan orangtuanya, juga masalah percintaan antaranak-anak remaja.

Jika ditanya, saya menjawab sekenanya, sekadar yang saya tahu. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan. Sungguh menghabiskan waktu. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan.

Kadang-kadang saya juga diundang camat, bupati, maupun wali kota, diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik, yang sama sekali tidak saya ketahui. Misalnya, soal usaha tambak udang, perbankan, perburuhan, pengairan sawah, bibit tanaman, dan banyak lagi sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman.

Rasanya camat, bupati, dan wali kota, tidak benar-benar membutuhkan saya. Rasa saya mereka sekadar butuh teman ngobrol. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari, lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Dan pembicaraan beralih ke olahraga, misalnya, juga tayangan televisi. Selama pertemuan-pertemuan dengan para tetangga, teman-teman, ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Untuk sikap saya itu, saya dijuluki “pendengar yang baik”.

Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Sebagai penulis lepas, mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat, menyadarkan saya, mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. Cukup menyenangkan. Orang-orang kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya, di sebuah desa yang lengang, yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal, lalu saya cari alamatnya. Saya interviu keluarganya. Saya catat riwayat hidupnya, pekerjaan terakhirnya, dan berapa orang saudaranya. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara, keluarga, teman, sampai kenalan baru.

Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran lokal yang memberi saya kebebasan. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5.000 orang. Seluruhnya orang- orang biasa, lewat mesin ketik manual yang kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Saya menolak ketika diminta menulis obituari orang-orang ternama. Alasan saya, orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya, sedangkan untuk orang-orang biasa, agaknya hanya saya seorang.

Tulisan obituari itu tidak panjang, sekitar 5.000 karakter. Kadang sampai 8.000 karakter jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Misalnya, ada seorang tukang becak yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Si kepala tibum menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si tukang becak. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor usia, saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu.

Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil, sementara beban keluarganya besar. Kepala kantor orang itu kebingungan, lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. Masa pensiun pasti datang, sebagaimana kematian itu pasti tiba. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. Begitulah. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil, dibawa pulang ke rumahnya. Begitu siuman, ia kaget, kenapa tidur di rumah. Keluarganya memberi tahu, ia seharian di rumah saja, tidak ke mana-mana.

Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu, apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya, menyebabkan banyak orang mengenal saya. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya.

Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar, kompleks pertokoan, ataupun di stasiun bus, yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Banyak komentar. Banyak usulan. Yang jail maupun pelesetan. Dan sebagainya.

“Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!”

“Biar kamu mati, tak ada yang menulis, meski kamu membayar Pak Jurnalis!”

“Kamu tidak akan mati, sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!”

Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios, selalu saja orang nyeletuk: “Pak Jurnalis. Saya nggak mau ditulis sekarang.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. Ntar saya yang menulis Bapak.”

Tapi, ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. Ada yang bilang, seseorang yang ngobrol dengan saya, ada yang mengartikan, saya sedang mewawancarainya. Sementara itu ada pula yang bilang, jika seseorang ngobrol dengan saya, itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Wah, ini bahaya. Memang ada seorang yang sehabis ngobrol dengan saya, ia meninggal. Tapi ini kebetulan saja. Dari kejadian itu, saya mendapat sebutan yang aneh-aneh, yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. Maka ada saja orang yang anti-saya. Ini benar-benar klenik.

“Pak, tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya.

“Maaf, Pak Jurnalis. Saya tak bisa menjawab,” jawabnya.

“Lho, kenapa?”

“Maaf, Pak. Tidak kenapa-kenapa.”

“Baiklah, Pak.”

“Saya permisi, Pak.”

“Jangan ditinggal korek apinya ini.”

“Biar untuk Bapak saja.”

“Lho, kenapa?”

“Maaf, Pak. Tidak kenapa-kenapa.”

Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Keterlaluan.

Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Di pertemuan-pertemuan desa, saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Ketika orang menanyakan pendapat saya, sedikit saja saya ngomong. Lalu malah terjadi serba-salah. Banyak ngomong dianggap meramal, sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang, orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Apa yang akan terjadi dengan saya, Pak?”

Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. Ada yang berubah dengan tingkah-laku saya, katanya. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Memangnya saya cenayang. Anak-anak saya, lima orang, terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2, dan si bungsu di SD kelas 5, yang paling kritis. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Kritiknya tidak berdasar. Menurut mereka, tulisan saya tidak adil terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala, wah, anak-anak ini sok tahu. Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Pernah saya menyergah anak-anak saya itu:

“Dari mana kalian tahu, sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?”

“Dari Ayah,” jawab anak-anak itu.

“Kalian ngawur.”

“Ayah marah kena keritik.”

“Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala.”

“Boleh saja, kan.”

“Tidak bisa seenaknya begitu.”

“Semua orang bicara dosa dan pahala.”

“Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu.”

“Semuanya.”

“Nah, kalian ngawur.”

“Begini. Ayah pernah menulis obituari. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. Nah, ini dosa, karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga.”

“Itu harapan saya. Itu doa saya. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari,” jawab saya.

“Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. Nah, ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain.”

“Nah, itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan anak-anaknya yang lain. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan mereka. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan.”

Mendengar keterangan saya, anak-anak saya itu diam. Saya sering lelah berdebat dengan anak- anak saya tersebut. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Padahal saya selalu bilang, kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. Sebagai ayah, saya mendidik anak-anak saya itu dengan keras. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu berat. Lima anak semuanya sekolah, sedang rakus-rakusnya makan, itu semua yang menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.

Kami sebenarnya keluarga bahagia. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. Istri saya guru SMP, sedangkan saya sejak remaja penulis lepas, yang untuk makan sehari-harinya saja suka empot-empotan. Saya menulis apa saja, termasuk menulis berita. Di Jogja itulah sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Kami menikah dan pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. Anak-anak mewarisi sifat-sifat ibunya, cerdas dan berani.

Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Istri saya memberi tahu, banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Istri saya belum menemui mereka. Anak-anak yang bersiap ke sekolah, setelah sarapan, menjenguk lewat jendela. Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Saya rasa kali ini juga begitu. Karena istri saya gelisah, saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit, saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah, mengular sampai jalanan. Ada apa?

Setelah sarapan, dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli, saya menyiapkan kertas dan alat tulis. Hari baru membuka matanya. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Jam baru menunjukkan pukul 05.00. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar aum macan, merangsek ke depan meja saya. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus?

Mata mereka nanar. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja, di luar kemauan, nistagmus, mereka menatap kebenaran, mencecap pencerahan. Alhamdulillah. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk, berserak, lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya Allah…tanggal akhir hayat, Ahad, 26 Desember 2004.

Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur, entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini, terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Entah berapa lama saya pingsan. Waktu saya siuman, seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan tanah. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Mayat-mayat itu lebih mengesankan sedang tidur pulas. Seluruh mayat itu, laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, bayi, diselimuti lumpur, berserakan memenuhi ruang dan udara, di reruntuhan rumah, di pekarangan, di kebun, di jalan, di atas pohon. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Bahkan burung-burung, tak seekor pun tampak terbang. Saya tak tahu lagi di mana rumah saya.

Cuaca cerah. Sinar matahari memancar, panas. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota.

Tangerang, 20 Januari 2005.

5/17/2008

Bengawan Solo

~Danarto~

Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Semalam, saya berkelahi melawan Pak Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. Saya terjerembab tak sadarkan diri. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. Ada yang sibuk mencarikan minuman panas. Ada yang mau memanggil dokter. Ada yang memijit. Malam itu, karena peristiwa itu, penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa, tidak penting untuk dipersoalkan. Tapi, apa pun yang terjadi, kami, penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon, telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Nining, gadis kecil hitam manis tujuh tahun, memang milik Pak Darkin, meski hanya sebagai ayah tirinya.

Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. Ibunya, yang selalu membela putri kandungnya itu, sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. Pada suatu malam, dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. Kami menyambutnya dengan sukacita. Di dalam gerombolan kami itulah, Nining merasa aman dan nyaman.

Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah, saya hidup. Sehari-harinya saya pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang berserakan di mana-mana. Saya ditemani kompor minyak tanah, teko, panci, gelas, piring, sendok garpu, ember, dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak.

Kemudian satu-dua anak datang dan pergi, mereka belajar apa saja, juga memasak, rame-rame makan, dan tidur. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak gelandangan, pengamen, pengemis, pemulung, anak baik-baik yang tidak betah di rumah karena berbagai alasan. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan lalu mengatur mereka dengan marah-marah, lelah, dan sedih, sejak tahun 1997.

Sebagai tukang sapu pasar, saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak itu. Untung, beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu menulis, menyanyi, membaca, dan bercocok tanam. Setiap minggu, anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri, juga cerpen, esai, dan menyanyikan lagu yang ditulisnya sendiri. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah, Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul, tindih-menindih. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. Sayup-sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya.

Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Setiap habis gajian, tak ada sisa sama sekali, bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Tapi, yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. Pedagang beras menyumbang beras. Pedagang sayur menyumbang sayur. Pedagang ikan menyumbang ikan. Bumbu-bumbu dapur rasanya tak pernah kehabisan.

Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur, tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. Ternyata tidak hanya beras, juga minyak goreng beberapa botol, telor beberapa kilo, gula, kopi, teh, beberapa ekor daging ayam segar. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung, kaus oblong, dan peralatan mandi. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu.

Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. Hari itu kami masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Anak-anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. Aduh, meriahnya. Aduh, bahagianya. Sayang sekali, Nining tidak bersama kami. Tapi, kami sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau kami akan bersedih sepanjang masa.

Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Ia meradang.

”Kamu sembunyikan Nining di mana!”

Saya tak bisa menjawab. Bernapas saja sangat sulit. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya.

”Saya tidak tahu,” jawab saya.

”Mau kamu saya bikin modar!”

”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining.”

”Bohong!”

”Kalau memang Nining hilang, saya bisa membantu mencarinya.”

”Sontoloyo!”

Saya terbatuk-batuk. Saya diseretnya keluar. Saya heran, tak seorang pun anak yang terbangun. Saya digelandang terus. Sesampai di jalan raya, saya dinaikkan ke becak. Pak Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Rupanya saya dibawa ke sebuah pekuburan yang gelap gulita. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya, membanting dan membalut dengan kain kafan.

”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya.

Saya tak bisa bergerak, ketat sekali balutannya, membujur kaku bagai jenazah.

Tiba-tiba:

”Pak Totok,” suara seorang gadis membisik, ”Saya Nining.”

”Mengapa kamu di sini?” sergah saya.

”Saya menunggu Bapak,” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya.

”Dari mana kamu tahu saya di sini?”

”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari.”

”Sekarang beliau di mana?”

”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo.”

”Wah, gawat!”

Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Itulah jalan spiritualnya.

Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. Maka semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu mengiriminya duit. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini, kalian akan menangis terus-menerus sepanjang hidup kalian.

Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. Tidak bergaul, tidak menerima santri, tidak mengajar, tidak mau diwawancara, tidak mau diundang makan. Pokoknya serba tidak. Saya sadar, semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu, merupakan sumbangan Kiai Kintir. Beliau selalu bisa membahagiakan orang, sedang untuk dirinya sendiri, beliau tidak berniat sedikit pun. Cerita lainnya adalah, pernah sejumlah wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. Ternyata wajah beliau tidak terekam, yang muncul hanya gelap gulita. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo, itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu.

Sejak dini hari, ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai, hanyut dibawa arus. Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian, diam mengambang hanyut seperti mayat. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. Sampai fajar merekah, rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Tak ada seorang pun yang berucap. Semuanya diam. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar, bisa-bisa Kiai Kintir tenggelam, begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikin-bikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Dari jauh, Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang.

Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Tak terdengar geledek. Tak terjadi gerimis. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. Tampak tubuh Kiai Kintir telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Satu-dua orang penonton terseret ke tengah bengawan. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Sesampai di jalan raya, banjir sudah melahap seluruh kota Solo. Mobil, motor, andong, becak ditinggalkan pemiliknya. Sejauh mata memandang, cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri.

Tangerang, 17 Maret 2008

Banjir di Pasar Kliwon, Solo Baru, Semanggi, Joyontakan.

5/10/2008

Ibu yang Anaknya Diculik Itu

Ibu terkulai di kursi seperti orang mati. Pintu, jendela, televisi, telepon, perabotan, buku, cangkir teh, dan lain-lain masih seperti dulu—tetapi waktu telah berlalu sepuluh tahun. Tinggal Ibu kini di ruang keluarga itu, masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Rambut, wajah, dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu.

Telepon berdering. Ibu tersentak bangun dan langsung menyambar telepon. Diangkatnya ke telinga. Ternyata yang berbunyi telepon genggam. Ketika disambarnya pula, deringnya sudah berhenti. Ibu bergumam.

”Hmmh. Ibu Saleha, ibunya Saras yang dulu jadi pacar Satria. Sekarang apapun yang terjadi dengan Saras dibicarakannya sama aku, seperti Saras itu punya dua ibu. Dulu almarhum Bapak suka sinis sama Ibu Saleha, karena seperti memberi tanda kalau Saras itu tentunya tidak bisa terus menerus menunggu Satria. ’Orang hilang diculik kok tidak mendapat simpati,’ kata Bapak. Kenyataannya selama sepuluh tahun Saras tidak pernah bisa pacaran sama siapapun. ’Saya selalu teringat Satria, Ibu, saya tidak bisa’,” katanya.

”Tapi inilah soal yang pernah kubicarakan sama Si Saras. ’Kuhargai cintamu yang besar kepada Satria, sehingga kamu selalu terlibat urusan orang-orang hilang ini,’ kataku, ’tapi cinta adalah soal kata hati, Saras, karena kalau terlalu banyak alasan dan perhitungan dalam percintaan, nanti tidak ada tempat untuk hati lagi…’ Ah, Saras, memang rasanya ia seperti anakku juga. Semenjak Bapak meninggal setahun yang lalu, rasanya semakin peduli dia kepada rumah ini, membantu aku membereskan kamar Satria, seperti tahu betul rasa kehilanganku setelah ditinggal Bapak…”

Ibu sudah sampai ke kursi tempatnya duduk tadi, dan duduk lagi di situ. Ibu terdiam, melihat ke kursi tempat Bapak biasanya duduk. Lantas melihat ke sekeliling.

”Bapak… Kursi itu, meja itu, lukisan itu, ruangan ini, ruang dan waktu yang seperti ini, kok semuanya mengingatkan kembali kepada Bapak. Seperti ini juga keadaannya, bahkan aku masih ingat juga pakai daster ini ketika kami berbicara tentang hilangnya Satria. Waktu itu sudah setahun Satria tidak kembali, dan kami masih seperti orang menunggu. Aku waktu itu masih percaya Satria suatu hari akan kembali… Kenapa harus tidak percaya, kalau memang tidak pernah kulihat sesuatu yang membuktikan betapa Satria tidak akan kembali… Apa salahnya punya harapan… Hidup begitu singkat, apa jadinya kalau harapan saja kita tidak punya…

”Jadi dalam setahun itu harapanlah yang membuatku bertahan hidup. Harapan bahwa pada suatu hari Satria pasti pulang kembali… Berharap dan menunggu. Berharap dan menunggu. Berharap dan menunggu. Tapi Bapak memaksa aku untuk percaya bahwa Satria sudah pergi. ’Satria sudah mati,’ katanya!”

Ia menggigit bibir, berusaha sangat amat keras untuk menahan tangis.

”Tidak! Aku tidak mau percaya itu! Meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku, bahwa kemungkinan besar Satria mestinya sudah mati.”

Ibu memandang ke arah kursi Bapak.

”Pak, Bapak, kenapa kamu hancurkan semua harapanku? ’Kita harus menerima kenyataan,’ katamu. Nanti dulu, Pak. Menerima? Menerima? Baik. Aku terima Satria sudah mati sekarang. Tapi aku tidak terima kalau Satria itu boleh diculik, dianiaya, dan akhirnya dibunuh.”

Perempuan dengan rambut kelabu itu tampak kuat kembali.

”Bapak sendiri yang bilang, ada teman Satria yang dibebaskan bercerita: Sebelum dilepas tutup matanya dibuka. Di hadapannya, orang-orang yang menculiknya itu menggelar foto-foto di atas meja. Itulah foto-foto keluarga teman Satria yang diculik. Foto orangtuanya, foto saudara-saudaranya. Lantas orang-orang itu berkata, ’Kami tahu siapa saja keluarga Saudara.’

”Huh! Saudara! Mana mungkin manusia bersaudara dengan monyet-monyet! Apalagi maksudnya kalau bukan mengancam kan? Bapak bilang teman Satria ini juga bercerita, suatu hari salah seorang yang waktu itu mengancam terlihat sedang memandangi dirinya waktu dia baru naik bis kota. Ini apa maksudnya Pak? Supaya teman Satria itu tidak boleh bercerita tentang perbuatan mereka? Teror kelas kambing maksudnya? Apakah ini semua boleh kita terima begitu saja?”

Saat Ibu menghela nafas, ruangan itu bagaikan mendadak sunyi.

”Sudah sepuluh tahun. Satria sudah mati. Bapak sudah mati. Munir juga sudah mati.”

Dipandangnya kursi Bapak lagi. Sebuah kursi kayu dengan bantalan jalinan rotan. Jalinan yang sudah lepas dan ujungnya menceruat di sana-sini.

”Apa Bapak ketemu sama Satria di sana? Enak bener Bapak ya? Meninggalkan aku sunyi sendiri di sini. Apa Bapak dan Satria tertawa-tawa di atas sana melihat aku membereskan kamar Satria, menata gelas dan piring, sekarang untuk kalian berdua, setiap waktu makan tiba, padahal aku selalu makan sendirian saja. Memang aku tahu Bapak dan Satria tidak ada lagi di muka bumi ini, tapi apa salahnya aku menganggap kalian berdua ada di dalam hatiku? Apakah kalian berdua selalu menertawakan aku dan menganggapku konyol kalau berpikiran seperti itu?”

Sejenak Ibu terdiam, hanya untuk menyambungnya dengan suara bergetar.

”Kadang-kadang aku bermimpi tentang kalian berdua, tetapi kalau terbangun, aku masih juga terkenang-kenang kalian berdua, dengan begitu nyata seolah-olah kalian tidak pernah mati. Impian, kenangan, kenyataan sehari-hari tidak bisa kupisahkan lagi.

Jiwa terasa memberat, tapi tubuh serasa melayang-layang…”

Lantas nada ucapannya berubah sama sekali, seperti Ibu berada di dunia yang lain.

”…. jauh, jauh, ke langit, mengembara dalam kekelaman semesta, bagaikan jiwa dan tubuh telah terpisah, meski setiap kali tersadar tubuh yang melayang terjerembab, menyatu dengan jiwa terluka, luka sayatan yang panjang dan dalam, seperti palung terpanjang dan terdalam, o palung-palung luka setiap jiwa, palung tanpa dasar yang dalam kekelamannya membara, membara dan menyala-nyala, berkobar menantikan saat membakar dunia…”

Ibu mendadak berhenti bicara, berbisik tertahan, memegang kepalanya, menutupi wajahnya.

”Ah! Ya ampun! Jauhkan aku dari dendam!”

Namun ia segera melepaskan tangannya.

”Tapi…. bagaimana mungkin aku merasa perlu melupakan semuanya, jika kemarahanku belum juga hilang atas perilaku kurangajar semacam itu.”

Nada bicaranya menjadi dingin.

”Menculik anak orang dan membunuhnya. Apakah setiap orang harus kehilangan anggota keluarganya sendiri lebih dulu supaya bisa sama marahnya seperti aku?”

Hanya Ibu sendiri di ruangan itu, tetapi Ibu bagaikan merasa banyak orang menontonnya, meski semakin disadarinya betapa ia sungguh-sungguh sendiri.

”Bapak… aku yakin dia ada di sana, karena kusaksikan bagaimana dia dengan tenang meninggalkan dunia yang fana; tetapi aku tidak bisa mendapatkan keyakinan yang sama jika teringat kepada Satria. Memang akalku tidak bisa berpikir lain sekarang, bahwa Satria tentu sudah tidak ada. Tetapi Ibu mana yang kehilangan anak tanpa kejelasan bisa tenang dan bahagia hanya dengan akalnya, tanpa membawa-bawa perasaannya? Bagaimana perasaanku bisa membuatku yakin, jika Satria pada suatu hari memang hilang begitu saja? Ya, begitu saja… Bahkan orang mati saja masih bisa kita lihat jenazahnya!”

Seperti masih ada yang disebutnya Bapak di kursi itu, tempat seolah-olah ada seseorang diajaknya bicara.

”Pak, Bapak, apakah Bapak melihat Satria di sana Pak? Apakah Bapak ketemu Satria? Apa cerita dia kepada Bapak? Apakah sekarang Bapak sudah tahu semuanya? Apakah Bapak sekarang sudah mendapat jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan kita?”

Namun Ibu segera menoleh ke arah lain.

”Ah! Bapak! Dia sudah tahu semuanya! Tapi aku? Aku tentunya juga harus mati lebih dulu kalau ingin tahu semuanya! Tapi aku masih hidup, dan aku masih tidak tahu apa-apa. Hanya bertanya-tanya. Mencoba menjawab sendiri. Lantas bertanya-tanya lagi. Dulu aku bisa bertanya jawab dengan Bapak. Sekarang aku bertanya jawab sendiri….

”Tapi apa iya aku sendiri? Apa iya aku masih harus merasa sendiri jika begitu banyak orang yang juga kehilangan? Waktu itu, ya waktu yang seperti takpernah dan takperlu berlalu itu, bukankah ratusan ribu orang juga hilang seketika?”

Terdengar dentang jam tua. Tidak jelas jam berapa, tetapi malam bagaikan lebih malam dari malam. Ibu masih berbicara sendiri, dan hanya didengarnya sendiri.

”Bapak, kadang aku seperti melihatnya di sana, di kursi itu, membaca koran, menonton televisi, memberi komentar tentang situasi negeri. Seperti masih selalu duduk di situ Bapak itu, pakai kaos oblong dan sarung, menyeruput teh panas, makan pisang goreng yang disediakan Si Mbok, lantas ngomong tentang dunia. Tapi Si Mbok juga sudah meninggal, menyusul Bapak, menyusul teman-temannya pemain ludruk yang semuanya terbantai dan mayat-mayatnya mengambang di Kali Madiun…

”Sebetulnya memang tidak pernah Bapak itu membicarakan Satria, malah seperti lupa, sampai setahun lamanya, sebelum akhirnya mendadak keluar semua ingatannya pada suatu malam entah karena apa.

”Sudah sepuluh tahun, banyak yang sudah berubah, banyak juga yang tidak pernah berubah.”

Di luar rumah, tukang bakmi tek-tek yang dulu-dulu juga, tukang bakmi langganan Satria, lewat. Ibu tampak mengenali, tapi tidak memanggilnya.

”Bagiku Satria masih selalu ada. Tidak pernah ketemu lagi memang. Tapi selalu ada. Memang lain sekali Satria dengan kakak-kakaknya. Dua-duanya tidak mau pulang lagi dari luar negeri, datang menengok cuma hari Lebaran. Yang sulung Si Bowo jadi pialang saham, satunya lagi Si Yanti jadi kurator galeri lukisan, kata Bapak dua-duanya pekerjaan ngibulin orang. ’Ya enggaklah kalau ngibul,’ kataku, ’apa semua orang harus ikut aliran kebatinan seperti Bapak?’. Biasanya Bapak ya cuma cengengesan. Dasar Bapak. Ada saja yang dia omongin itu.

”Aku sendiri rasanya juga sudah mulai pelupa sekarang. Susah rasanya mengingat-ingat apapun. Belakangan sebelum meninggal Bapak juga mulai pikun. Lupa ini-itu. Kacamata terpasang saja dicarinya ke mana-mana…”

Ibu tersenyum geli sendiri.

”Tapi ia tidak pernah lupa tentang Satria. Ia selalu bertanya, ’Seperti apa Satria kalau masih hidup sekarang?’, atau ’Sedang apa ya Satria di sana?’, atau kadang-kadang keluar amarahnya: ’Para penculik itu pengecut semuanya! Tidak punya nyali berterus terang! Bisanya membunuh orang sipil tidak bersenjata, sembunyi-sembunyi pula!’

Wajah Ibu kini tampak sendu sekali. Bahkan tokek untuk sementara tidak berani berbunyi.

”Bapak, kenapa kamu tidak pernah muncul dalam mimpiku untuk bercerita tentang Satria? Pasti Satria menceritakan semua hal yang tidak diketahui selama ini, bagaimana dia diperlakukan, dan apa sebenarnya yang telah terjadi.

”Kenapa kamu tidak sekali-sekali muncul Bapak. Muncul dong sekali-sekali Bapak. Duduk di kursi itu seperti biasanya.

”Memang kamu selalu muncul dalam kenanganku Pak, bahkan juga dalam mimpi-mimpiku, tetapi kamu hanya muncul sebagai bayangan yang lewat. Hanya lewat, tanpa senyum, seperti baru menyadari betapa kenyataan begitu buruk.

”Duduklah di situ dan ceritakan semuanya tentang Satria.

”Ceritakanlah semua rahasia….”

Ibu masih berbicara, kini seperti kepada seseorang yang tidak kelihatan.

”Kursi itu tetap kosong. Seperti segalanya yang akan tetap tinggal kosong. Apakah semua ini hanya akan menjadi rahasia yang tidak akan pernah kita ketahui isinya?

”Rahasia sejarah. Rahasia kehidupan.

”Tapi ini bukan rahasia kehidupan yang agung itu.

”Ini suatu aib, suatu kejahatan, yang seandainya pun tidak akan pernah terbongkar….

Telepon genggam Ibu berdering. Ibu seperti tersadar dari mimpi. Ibu beranjak mengambil telepon genggam.

”Pasti ibunya Saras lagi,” gumamnya.

Tapi rupanya bukan.

”Eh, malah Si Saras.”

Ibu mengangkat telepon genggamnya di telinga.

”Ya, hallo… “

Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Saras, telepon genggam itu terloncat dari tangan Ibu yang terkejut, seolah tiba-tiba telepon genggam itu menyetrum.

”Gila!” Ibu berujar kepada tokek di langit-langit yang tidak tahu menahu.

”Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden!”

5/03/2008

Kang Sejo Melihat Tuhan

~Mohammad Sobary~

Bukan salah saya kalau suatu hari saya ceramah agama di depan sejumlah mahasiswa Monash yang, satu di antaranya, Islamnya menggebu. Artinya, Islam serba berbau Arab. Jenggot mesti panjang. Ceramah mesti merujuk ayat, atau Hadis. Lauk mesti halal meat. Dan, semangat mesti ditujukan buat meng-Islam-kan orang Australia. Tanpa itu semua jelas tidak Islami.

Saya pun dicap tidak Islami. Iman saya campur aduk dengan wayang. Dus, kalau pakai kaca mata Geertz, seislam-islamnya saya, saya ini masih Hindu. Memang salah saya, sebab ketika itu saya main ibarat: Gatutkaca itu sufi. Ia satria-pandita. Tiap saat seperti tidur, padahal berzikir qolbi. Jasad di bumi, roh menemui Tuhan. Ini turu lali, mripat turu, arti tangis: mata tidur hati melek, seperti olah batin dalam dunia kaum sufi.

Biar masih muda, hidup Gatutkaca seimbang, satu kaki di dunia satu lagi di akhirat.

Mirip Nabi Daud: hari ini puasa, sehari esoknya berbuka. Dan saya pun dibabat ...

Juli tahun lalu saya dijuluki Gus Dur sebagai orang yang doanya pendek. Bukan harfiah cuma berdoa sebentar. Maksudnya, tak banyak doa yang saya hafal.

Namun, yang tak banyak itu saya amalkan.

"Dan itu betul. Artinya, banyak ilmu ndak diamalkan buat apa?" kata Pak Kiai sambil bergolek-golek di Hotel Sriwedari, Yogya. Apa yang lebih indah dalam hidup ini, selain amal yang memperoleh pengakuan Romo Kiai? Saya merasa hidup jadi kepenak, nikmat.

Dalam deretan Sufi, Al Adawiah disebut "raja." Wanita ini hamba yang total.

Hidupnya buat cinta. Gemerlap dunia tak menarik berkat pesona lain: getaran cinta ilahi. Pernah ia berkata, "Bila Kau ingin menganugerahi aku nikmat duniawi, berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Dan bila ingin Kau limpahkan padaku nikmat surgawi, berikanlah pada sahabat-sahabat-Mu. Bagiku, Kau cukup."

Ini tentu berkat ke-"raja"-annya. Lumrah. Lain bila itu terjadi pada Kang Sejo. Ia tukang pijit -maaf, Kang, saya sebut itu- tunanetra. Kang Sejo pendek pula doanya.

Bahasa Arab ia tak tahu. Doanya bahasa Jawa: Gusti Allah ora sare (Allah tak pernah tidur): potongan ayat Kursi itu. Zikir ia kuat. Soal ruwet apa pun yang dihadapi, wiridannya satu: "Duh, Gusti, Engkau yang tak pernah tidur ..." Cuma itu.

"Memang sederhana, wong hidup ini pun dasarnya juga sederhana," katanya, sambil memijit saya. Saya tertarik cara hidupnya. Saya belajar. Guru saya ya orang macam ini, antara lain. Rumahnya di Klender. Kantornya, panti pijat itu, di sekitar Blok M. Ketika saya tanya, apa yang dilakukannya di sela memijit, dia bilang,

"Zikir Duh, Gusti ..." Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di mana pun, doanya ya Duh, Gusti ... itu. Satu tapi jelas di tangan.

"Berapa kali Duh Gusti dalam sehari?" tanya saya.

"Tidak saya hitung."

"Lho, apa tak ada aturannya? Para santri kan dituntun kiai, baca ini sekian ribu, itu sekian ribu," kata saya

"Monggo mawon (ya, terserah saja)," jawabnya. "Tuhan memberi kita rezeki tanpa hitungan, kok. Jadi, ibadah pun tanpa hitungan."

"Sampeyan itu seperti wali, lo, Kang," saya memuji.

"Monggo mawon. Ning (tapi) wali murid." Dia lalu ketawa.

Diam-diam ia sudah naik haji. Langganan lama, seorang pejabat, mentraktirnya ke Tanah Suci tiga tahun yang lalu.

'Senang sampeyan, Kang, sudah naik haji?"

"Itu kan rezeki. Dan rezeki datang dari sumber yang tak terduga," katanya.

"Ayat menyebutkan itu, Kang."

"Monggo mawon. Saya tidak tahu."

Ketularan bau Arab, saya tanya kenapa doanya bahasa Jawa.

"Apa Tuhan tahunya cuma bahasa Arab?"

"Kalau sampeyan Dah Duh Gusti di bis apa penumpang lain ..."

"Dalam hati, Mas. Tak perlu diucapkan."

Ia, konon, pernah menolak zakat dari seorang tetangganya.

Karena disodor-sodori, ia menyebut, "Duh, Gusti, yang tak pernah tidur ..."

Pemberi zakat itu, entah bagaimana, ketakutan. Ia mengaku uang itu memang kurang halal. Ia minta maaf.

"Mengapa sampeyan tahu uang zakat itu haram"? tanya saya.

"Rumah saya tiba-tiba panas. Panaaaas sekali."

"Kok sampeyan tahu panas itu akibat si uang haram?"

"Gusti Allah ora sare, Mas," jawabnya.

Ya, saya mengerti, Kang Sejo. Ibarat berjalan, kau telah sampai. Dalam kegelapan matamu kau telah melihatNya. Dan aku? Aku masih dalam taraf terpesona. Terus-menerus

---------------

Mohammad Sobary, Tempo 12 Januari 1991

4/29/2008

BH

~Emha Ainun Nadjib~

“BENAR lho, Mas, jangan melihat ke sini dulu!” kata Niken Lestari. Suaranya lentik dan manja.

Ia sibuk mengenakan pakaian khususnya. Longdress, BH ukuran 34, sanggut, eye-shadow dan beberapa cat muka. Niken membelinya khusus. Kami berkencan, untuk ulang tahunnya ini kami selenggarakan acara khusus. Aku akan merekam suaraku dalam pengajian Al-Quran, di kamarnya, sementara ia menemani dengan pakaian khusus itu.

Aku duduk menghadapi tape recorder yang sudah ia siapkan sejak sebelum aku datang. Sebenarnya aku agak merasa tegang. Di samping karena demam mike rekaman, juga karena sudah lama aku tidak mengaji Al-Quran. Apalagi dengan berlagu. Itu adalah masa silamku yang kini hampir sepenuhnya terkubur. Jika ini kulakukan untuk menghormati ulang tahunnya, itu karena ide mendadak yang aku sendiri tak mengerti. Mungkin saja hal-hal baca Quran merupakan tulusku terhadap Niken ini terungkap ke situ. Atau mungkin hanya karena aku tak punya apa-apa untuk membelikannya suvenir.

“Siap, Niken?”

“Waa, belum Mas!”

Beginilah orang bersolek. Niken tak berpakaian sejak tadi karena ia sengaja akan berpakaian jika ada aku di dalam kamarnya. Padahal aku toh dilarangnya untuk menyaksikan.

Aku membolak-balik Al-Quran. Kupilih surat An-Nur. Tentang Tuhan adalah cahaya. Bagi langit dan bumi. Cahaya itu menyala sebelum dinyalakan….

“Oke, Mas…!”

Niken muncul di belakangku. Aku menoleh.

“Fantastis!” aku menyebut.

Ia tersipu-sipu. Memegang bagian dadanya melenggokkan tubuhnya ke arah samping. Wajahnya seperti perawan yang dilamar. Niken tampak berbahagia sekali.

Tak ada orang lain di rumah. Hanya ada beberapa mahasiswa indekos di sebelah sana. Niken menempati rumah ini sendirian. Ia warisi dari orangtuanya, sementara kakak-kakaknya sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri-sendiri.

Ada perasaan malu yang besar juga dalam diriku. Tapi aku tak peduli. Aku hanya akan mengaji.

“Oke ya, Niken?”

“Ya, Mas….”

Niken duduk di kursi sebelahku. Aku berdebar-debar.

Tombol rekam dan play kutekan. Aku menarik napas panjang dan berkonsentrasi. Napas Niken kudengar agak memburu.

“Audzubillahiminasysaithonirrojiem.”

Dengan agak tegang kulewati ayat demi ayat. Hatiku selalu berdebar dan terasa aneh. Selesai beberapa ayat, kulirik Niken bersijingkat, berdiri dari kursi, perlahan-lahan sekali dan tak menimbulkan suara, kemudian (tak kusangka) ia bersimbah di lantai. Kuteruskan mengaji.

Wajahnya bagaikan histeris. Perasaan-perasaan terdalam berkecamuk dalam dirinya. Tiba-tiba saja di tengah ayat, Niken menaruh perlahan-lahan keningnya di lututku. Darahku tersirap. Tumbuh perasaan khawatir dan takut yang besar sekali, tapi ngaji tetap kuteruskan. Beberapa lama aku hanya bisa membiarkan kepalanya di lututku, tetapi kemudian secara tak sengaja kakiku bergerak. Alhamdullilah Niken peka menangkap isi perasaan dari gerakku itu, sehingga kemudian mengangkat kepalanya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Betapa iba aku.

Akhirnya setelah kuselesaikan mengaji, “shodaqollohuladhiem….”, aku merasa terlepas dari mulut harimau. Aku lega dan menarik napas amat panjang.

Sekilas Niken memandangku tapi kemudian menunduk lagi.

“Maafkan, Mas….” katanya.

Sekali lagi aku hanya mengempaskan napas panjang.

Niken bersikap bagaikan menyembah-nyembah menyesali perbuatannya. Ia kelihatan amat takut padaku.

“Tak apa-apa, Niken,” kataku. “Kita tetap bersahabat baik. Tak ada perubahan apa-apa dalam hubungan kita.”

“Hampir aku tak bisa membendung niat burukku. Aku terlalu merasa terharu dan bahagia. Mas terlalu baik kepadaku….”

“Tak apa-apa. Itu wajar sekali. Duduklah.”

Perlahan-lahan Niken bangkit. Duduk di kursi.

“Segalanya akan terjaga apabila kita memelihara batas. Seperti pernah kuceritakan dulu di pesantren aku pernah berkelahi melawan seniorku yang coba-coba mau menggauliku. Entah bagaimana tapi aku tak bisa diperlakukan sebagai perempuan dan atau memperlakukan yang bukan perempuan sebagai perempuan. Aku tak bisa mengubah diriku untuk hanya bisa berhubungan secara itu dengan perempuan. Namun itu bukan halangan bagi hubungan kita. Kita tetap bersahabat akrab dengan memahami diri masing-masing.”

“Mas mau memaafkan aku?”

“Kenapa tidak? Tuhan pun Maha Pemaaf.”

***

Niken ini memang jatuh cinta sama aku. Ini dikemukakannya terus terang padaku. Aku pun mengemukakan terus terang perihal keadaanku. Marilah kita bercinta pada tempatnya. Kaumencinta itu dan bersedia menerima apa yang mampu kuberikan, sementara aku pun mencintai penderitaanmu.

Syukurlah Niken telah semaksimal mungkin bisa bersikap dan berpikir rasionil. Ini agak sedikit mengurangi penderitaannya, di tengah lingkungan yang selalu mengejeknya, jijik dan meludahinya, serta tidak memberinya eksistensi sebagai manusia yang punya kondisi tersendiri.

Niken ini bekas hakim. Ia sarjana yang sebenarnya cukup cerdas. Tapi ia berhenti dari statusnya itu karena agak bertentangan dengan jiwanya. Ia kemudian di rumah saja, meneruskan usaha dagang orangtuanya. Maha adil Tuhan, karena terhadap orang macam Niken ini, Ia lebih memberikan kemurahan.

Aku sudah berjanji akan ikut menemani hidupnya, dengan cara yang mampu kuberikan. Ia dalam hidupnya tak akan memperoleh kebahagiaan yang orang lain bisa memperolehnya. Tapi tak mustahil ia bisa memperoleh kebahagiaan yang lebih tinggi dari dirinya sendiri, dari keikhlasannya atas segala yang ditakdirkan Tuhan baginya.

Aku kenal Niken waktu nonton film. Ia mentraktirkan makan sesudah nonton, sambil menceritakan segala segi hidupnya. Sesudah itu aku sering dolan ke rumahnya dan tentu saja para tetangga di sekeliling langsung berkesimpulan bahwa aku adalah pacar Niken, dan selalu main dengan Niken.

Selanjutnya mereka tentu saja merendahkanku. Jangankan mereka. Kawan-kawanku sendiri pun tidak semuanya percaya pada apa yang sesungguhnya kulakukan. Mereka hanya tahu aku main dengan Niken, aku dikasih duit sebagai upahnya. Yaa, memang Niken punya pacar-pacar yang bersedia main dengannya. Itu hanya tergantung perjanjian, apakah seseorang mau atau tidak bermain dengannya. Kepada orang yang tak mau, Niken tetap menghormatinya sebagai kawan. Niken tidak bergaul sekadar untuk seks.

Yang paling berat bagi Niken ialah masa depannya yang tak akan bisa diisinya dengan persuami-istrian. Sebab siapa mau jadi suami atau istrinya secara total. Kemudian masyarakat umum yang tak punya kesediaan untuk mengakui eksistensinya. Tetapi, serba sedikit, perlahan-lahan Niken berhasil mengatasi hal ini.

Aku sendiri menerimanya juga dalam batas yang kumampu. Aku bisa mengawaninya dengan pikiran-pikiran yang menguatkannya. Tapi untuk berjalan, nonton, atau ke mana-mana bersamanya, terus terang memang masih ada cukup keberatan dalam perasaanku. Niken memahami kondisiku ini. Persahabatan kami dibangun dengan pengertian bersama yang rasionil, serta dengan kesediaan untuk berkorban. Baginya, ada satu orang saja yang memberinya keleluasaan untuk menjadi dirinya sendiri, sudah merupakan kebahagiaan besar. Tetapi untuk itu, baik orang itu atau Niken sendiri, mesti, siap melawan alam anggapan masyarakat. Ketika aku mengulangtahuninya dengan merekam ngaji ini pun, beban itu sebenarnya tetap ada. Tetapi kecintaanku kepadanya sebagai manusia, tetap lebih besar.

“Tidak apa-apa, Niken. Kenapa mesti sedih.”

“Sungguh, Mas….”

“Kenapa, tidak?”

Air mata Niken mengalir. Make up di sekitar matanya tersapu. Lepas dari sosoknya, ia nampak berbahagia dalam pakaian putrinya itu.

Semoga Allah memberi kekuataan pada Subodro, yakni Niken Lestari itu. ***

yk, 79

Horison No 06 Th XV Juni 1980

3/22/2008

Sebutir Kepala Menclok di Jendela

~Yudhistira ANM Massardi~

JOKO Parepare melotot. Ia tak percaya pada apa yang dilihatnya: sebutir kepala! Bukan kelapa, itu sungguh-sungguh kepala manusia. Kepala berambut gondrong tanpa tubuh. Ia melayang di udara, lalu menclok di jendela ruang kerjanya, di sebuah gedung perkantoran, lantai 5.

Kepala itu melekat di kaca jendela, dengan keningnya yang mengeluarkan cairan perekat. Kedua kelopak matanya berkedip-kedip. Ujung hidungnya melebar, tertekan pada kaca. Bibirnya, eh, gila, dia tersenyum! Joko Parepare bergidik.

Apalagi ketika ia melihat bagian lehernya yang bersulur-sulur seperti singkong yang baru dicabut dari tanah, dan meneteskan darah.

“Mau apa, kamu?!” Joko Parepare menghardik, dengan perasaan tak keruan. Ia buru-buru merekam pekerjaannya di komputer. “Kamu teroris? Kamu barusan meledakkan bom bunuh diri?”

Eh, gila, dia tersenyum lagi!

Joko Parepare senewen.

“Cepat bilang, siapa kamu? Mau apa menclok di situ? Memangnya enggak ada kerjaan lain?”

Gila, dia cuma tersenyum!

“Jangan cengengesan terus! Nggak lucu! Kalau kamu enggak mau bicara, aku juga enggak mau bicara lagi. Nggak ada waktu! Time is money!” Joko Parepare segera mematikan komputernya, memakai sepatu, mengunci laci meja, menekan kunci jendelanya dalam-dalam untuk memastikan agar kepala tak diundang itu tak bisa membuka jendela lalu melompat ke dalam kamar dan menduduki kursi kerjanya. Ia pun bersiap-siap untuk segera kabur dari situ.

“Bagi rokoknya, dong. Kecut nih, dari tadi belum ngisep…!”

Gila, dia bisa bicara! Joko Parepare jadi belingsatan.

“Nyalakan sekalian…,” kata si kepala lagi, “aku sudah enggak punya tangan, ketinggalan di mobil…”

“Kamu goblok, sih!” Joko Parepare mengumpat begitu saja, sambil dengan panik segera mengambil sebatang rokok dari bungkusnya yang tergeletak di atas meja kerja. Ia lalu menyalakannya. Setelah itu, ia baru tersadar, bagaimana caranya memberikan rokok itu kepadanya?

“Jangan bodoh. Buka jendelanya, dong!” kata si kepala, seakan tahu apa yang dipikirkan Joko Parepare.

Dengan bodoh, Joko Parepare lalu membuka jendelanya, dan mengulurkan tangannya yang memegang rokok ke luar jendela, pelan-pelan, gemetaran. Hap! Kepala itu langsung melompat dan mencaplok rokoknya. Jempol dan jari telunjuk Joko Parepare sempat masuk ke dalam mulutnya dan merasakan ketajaman gigi-giginya. Joko Parepare secepat kilat menarik kembali tangannya dan buru-buru mengunci jendelanya. Kedua jari tangannya yang tercaplok tadi berlumur darah.

“Sialan, kamu!” Joko Parepare mengutuk sambil segera mencabut segepok tisu dari tempatnya di meja, dan membersihkan jari-jarinya. “Sudah, enyah kamu dari sini! Jangan ganggu aku lagi!”

“Galak banget jadi orang….”

“Biarin! Daripada kamu, sudah jadi bekas orang, masih gentayangan!”

“Aku kan cuma mau minta rokok….”

“Ya, sudah. Rokok sudah dikasih. Pergi sana!”

“Numpang duduk di dalam, boleh enggak…?”

“Enggak! Seribu kali, tidak boleh! Enak aja, lu!”

“Sebentar saja, numpang ngadem AC. Gerah nih.…”

“Gerah pale lu!”

“Pale gue emang gerah, bos…! Di luar sini panas sekali.…”

Joko Parepare jadi pusing. Kalau permintaan si kepala itu dituruti, pasti dia akan minta yang lain-lain lagi. Dan, sekali dia diperbolehkan masuk ke dalam kamarnya, tidak ada yang bisa menjamin bahwa tidak akan terjadi aneka huru-hara. Termasuk, kalau rekan-rekan sekantornya melihat di kamarnya ada sebutir kepala penuh darah. Bisa gawat. Bisa jadi urusan polisi, dan ujung-ujungnya ia bisa dituduh jadi pembunuh dan meringkuk belasan tahun dalam penjara. Gila! Tidak!

“Enggak! Enggak bisa! Kamu di situ saja, atau pergi ke tempat lain!” Joko Parepare menjawab dengan tegas. “Kalau kamu mengancam atau memaksa, aku lapor polisi!”

“Jangan, bos! Biar nanti aku sendiri yang melaporkan kamu ke polisi,” kata si kepala sambil mengembuskan asap rokok dan menyeringai, mempertontonkan giginya yang berselaput cairan kental berwarna merah.

“Apa?” Joko Parepare terkesiap. “Kamu akan melaporkan aku? Dalam perkara apa? Aku enggak ada urusan sama kamu!”

“Lho, barusan kamu kan ngasih rokok…?”

“So what? Itu kan karena kamu meminta?”

“Kamu bisa dianggap pelakunya. Sidik jari kamu ada di rokok ini, lho?” kata si kepala sambil mematikan rokok di kaca, dan menunjukkan puntungnya yang tinggal separuh.

“Aku? Pelakunya? Pelaku apa? Pelaku pengeboman? Nonsens!”

“Bukan, bukan pengeboman, bos, tapi pemenggalan kepalaku… He-he-he.”

“Sialan! Mana mungkin? Mana mungkin polisi percaya? Kenal kamu saja, tidak!”

“Kalau begitu, kita kenalan dulu.…”

“Tidak! Tidak! Kamu mau menjebak aku…?!”

“Namaku Al-Gizi, asal Kampung Senayan, pernah ikut konvensi pemilihan calon presiden partai…”

“Cukup! Seratus persen tidak lucu! Aku enggak mau dengar, dan dengan ini menyatakan sumpah bahwa aku tidak pernah mendengar apa pun yang kamu katakan barusan…!”

“Jangan main-main dengan sumpah. Dulu, aku juga banyak bersumpah, tapi tak ada satu sumpah pun yang aku…”

“Itu urusanmu, bukan urusanku! Sudah, aku mau pergi!”

“Aku ikut…!”

“Gila, kamu!”

“Aku bisa ikuti kamu. Mobil kamu kan Carens warna biru muda yang diparkir di samping gedung?”

“Kamu sok tahu!”

“Aku memang tahu tentang kamu. Aku kan sudah lama mengamat-amati kamu dari atas pohon kersen….”

Joko Parepare bergidik dan marah sekali.

“Monyet! Apa maksud kamu memata-matai aku?!”

“Biar aku tahu, orang macam apa yang akan jadi mediatorku dan menuliskan segala sesuatu mengenai aku…”

“Enak saja! Memangnya kamu siapa, bisa-bisanya menentukan aku jadi mediator kamu, dan harus menuliskan segala sesuatu mengenai kamu?! Jin botak saja tidak akan aku layani! Apalagi kamu, segelundung kepala gondrong tak tahu malu!” Joko Parepare merasa sangat terhina.

Si Kepala Gondrong tertawa terkekeh-kekeh.

“Makanya, kamu harus kenalan dulu sama aku…”

“Tidak! Tidak! Sekali aku bilang tidak, tidak!”

“Kalau kamu tetap keras kepala, nanti malam, sewaktu kamu tidur, aku akan menukar kepalamu dengan kepalaku. Ha-ha-ha! Sampai jumpa! Have a nice dream…!”

Si Kepala Gondrong terbang entah ke mana. Joko Parepare terenyak di kursi kerjanya sambil memegangi kepalanya erat-erat.

Eh, si kepala gila itu tiba-tiba menclok lagi di jendela.

“Kalau kamu keberatan bertukar kepala denganku, bagaimana kalau aku bertukar kepala dengan presiden terpilih 2004?” katanya.

Joko Parepare tak mau mendengar. Ia buru-buru menutup mata dan telinganya. Soal presiden 2004, “Itu urusan lu!” katanya dalam hati. Tapi, ia bersumpah tidak akan tidur tanpa mengikat kepalanya dengan sabuk pengaman. Sekurang-kurangnya, selama 40 hari 40 malam. 

Jakarta, 2003

Kompas, 21 September 2003

3/08/2008

Seribu Kunang-kunang di Manhattan

~Umar Kayam~

MEREKA duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.

“Bulan itu ungu, Marno.”

“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu?”

“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akuilah. Itu ungu, bukan?”

“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”

“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu u-n-g-u! U-n-g-u! Ayolah, bilang, ungu!”

“Kuning keemasan!”

“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”

Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak berapa enak.

“Marno, Sayang.”

“Ya, Jane.”

“Bagaimana Alaska sekarang?”

“Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke sana.”

“Maksudku hawanya pada saat ini.”

“Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”

“Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat dalam ilmu bumi. Gambaranku tentang Alaska adalah satu padang yang amat l-u-a-s dengan salju, salju dan salju. Lalu di sana-sini rumah-rumah orang Eskimo bergunduk-gunduk seperti ice-cream panili.”

“Aku kira sebaiknya kau jadi penyair, Jane. Baru sekarang aku mendengar perumpamaan yang begitu puitis. Rumah Eskimo sepeti ice-cream panili….”

“Tommy, suamiku, bekas suamiku, suamiku, kautahu …. Eh, maukah kau membikinkan aku segelas … ah, kau tidak pernah bisa bikin martini. Bukankah kau selalu bingung, martini itu campuran gin dan vermouth atau gin dan bourbon? Oooooh, aku harus bikin sendiri lagi ini…. Uuuuuuup….”

Dengan susah payah Jane berdiri dan dengan berhati-hati berjalan ke dapur. Suara gelas dan botol beradu, terdengar berdentang-dentang. Dari dapur Jane mencoba berbicara lagi.

“Tommy, suamiku, bekas suamiku, kautahu … Marno, Darling.”

“Yaaa, ada apa dengan dia?”

“Aku merasa dia ada di Alaska sekarang.”

Pelan-pelan Jane berjalan kembali ke sofa, kali ini duduknya mepet Marno.

“Di Alaska. Coba gambarkan di Alaska.”

“Tapi minggu yang lalu kaubilang dia ada di Texas atau di Kansas begitu. Atau mungkin di Arkansas.”

“Aku bilang, aku m-e-r-a-s-a Tommy berada di Alaska.”

“Oh.”

“Mungkin dia juga tidak di mana-mana.”

Marno berdiri, berjalan menuju ke radio lalu memutar knopnya. Diputar-putarnya beberapa kali knop itu hingga mengeluarkan campuran suara-suara yang aneh. Potongan-potongan lagu yang tidak tentu serta suara orang yang tercekik-cekik. Kemudian dimatikannya lagi radio itu dan dia duduk kembali di sofa.

“Marno, Manisku.”

“Ya, Jane.”

“Bukankah di Alaska, ya, ada adat menyuguhkan istrinya kepada tamunya?”

“Ya, aku pernah mendengar orang Eskimo dahulu punya adat-istiadat begitu. Tapi aku tidak tahu pasti apakah itu betul atau karangan guru antropologi saja.”

“Aku harap itu betul. Sungguh, Darling, aku serius. Aku harap itu betul.”

“Kenapa?”

“Sebab, s-e-b-b-a-b aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan di Alaska. Aku tidak m-a-u-u.”

“Tetapi bukankah belum tentu Tommy ada di Alaska dan belum tentu pula sekarang Alaska dingin.”

Jane memegang kepala Marno dan dihadapkannya muka Marno ke mukanya. Mata Jane memandang Marno tajam-tajam.

“Tetapi aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan! Maukah kau, Marno, Kekasihku, maukah, maukah kau?”

Marno diam sebentar. Kemudian ditepuk-tepuknya tangan Jane.

“Sudah tentu tidak, Jane, sudah tentu tidak.”

“Kau anak yang manis, Marno.”

Marno mulai memasang rokok lalu pergi berdiri di dekat jendela. Langit bersih malam itu, kecuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya bulan jadi suram karenanya. Dilongokknannya kepalanya ke bawah dan satu belantara pencakar langit tertidur di bawahnya. Sinar bulan yang lembut itu membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan. Rasa senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuhnya.

“Marno.”

“Ya, Jane.”

“Aku ingat Tommy pernah mengirimi aku sebuah boneka Indian yang cantik dari Oklahoma City beberapa tahun yang lalu. Sudahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”

“Aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.”

“Oh.”

Jane menghirup martini-nya empat hingga lima kali dengan pelan-pelan. Dia sendiri tidak tahu sudah gelas yang keberapa martini yang dipegangya itu. Lagi pula tidak seorang pun yang memedulikan.

“Eh, kau tahu, Marno?”

“Apa?”

“Empire State Building sudah dijual.”

“Ya, aku membaca tentang itu di New York Times.”

“Bisakah kau membayangkan punya gedung yang tertinggi di dunia?”

“Tidak. Bisakah kau?”

“Bisa, bisa.”

“Bagaimana?”

“Oh, tak tahulah. Tadi aku kira bisa menemukan pikiran-pikiran yang cabul dan lucu. Tapi sekarang tahulah….”

Lampu-lampu yang pada berkelip di belantara pencakar langit, yang kelihatan dari jendela, mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa.

“Oh, kalau saja….”

“Kalau saja apa, Kekasihku?”

“Kalau saja ada suara jangkrik mengerik dan beberapa katak menyanyi dari luar sana.”

“Lantas?”

“Tidak apa-apa. Itu akan membuat aku lebih senang sedikit.”

“Kau anak desa yang sentimentil!”

“Biar!”

Marno terkejut karena kata “biar” itu terdengar keras sekali keluarnya.

“Maaf, Jane. Aku kira scotch yang membuat itu.”

“Tidak, Sayang. Kau merasa tersinggung. Maaf.”

Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu.

Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane.

“Jet keparat!”

Jane mengutuk sambil berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya segelas air es.

“Aku merasa segar sedikit.”

Jane merebahkan badannya di sofa, matanya dipejamkan, tapi kakinya disepak-sepakkannya ke atas. Lirih-lirih dia mulai menyanyi, “deep blue sea, baby, deep blue sea, deep blue sea, baby, deep blue sea….”

“Pernahkah kau punya keinginan, lebih-lebih dalam musim panas begini, untuk telanjang lalu membiarkan badanmu tenggelam d-a-l-a-a-a-m sekali di dasar laut yang teduh itu, tapi tidak mati dan kau bisa memandang badanmu yang tergeletak itu dari dalam sebuah sampan?”

“He? Oh, maafkan aku kurang menangkap kalimatmu yang panjang itu. Bagaimana lagi, Jane?”

“Oh, lupakan saja. Aku cuma ngomong saja. Deep blue sea, baby, deep blue sea, baby, deep blue sea….”

“Marno.”

“Ya.”

“Kita belum pernah jalan-jalan ke Central Park Zoo, ya?”

“Belum, tapi kita sudah sering jalan-jalan ke park-nya.”

“Dalam perkawinan kami yang satu tahun delapan bulan tambah sebelas hari itu, Tommy pernah mengajakku sekali ke Central Park Zoo. Ha, aku ingat kami berdebat di muka kandang kera. Tommy bilang chimpanse adalah kera yang paling dekat kepada manusia, aku bilang gorilla. Tommy mengatakan bahwa sarjana-sarjana sudah membuat penyelidikan yang mendalam tentang hal itu, tapi aku tetap menyangkalnya, karena gorilla yang ada di muka kami mengingatkan aku pada penjaga lift kantor Tommy. Pernahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”

“Oh, aku kira sudah, Jane, beberapa kali.”

“Oh, Marno, semua ceritaku sudah kau dengar semua. Aku membosankan, ya, Marno? M-e-m-b-o-s-a-n-k-a-n.”

Marno tidak menjawab karena tiba-tiba saja dia merasa seakan-akan istrinya yang ada di dekat-dekat dia di Manhattan malam itu. Adakah penjelasannya bagaimana satu bayangan yang terpisah beribu-ribu kilometer bisa muncul begitu saja dalam waktu yang begitu pendek?

“Ayolah, Marno. Kalau kau jujur tentulah kau akan mengatakan bahwa aku sudah membosankan. Cerita yang itu-itu saja yang kau dengar tiap kita ketemu. Membosankan, ya? M-e-m-b-o-s-a-n-k-a-n!”

“Tapi tidak semua ceritamu pernah aku dengar. Memang beberapa ceritamu sudah beberapa kali aku dengar….”

“Bukan beberapa, Sayang. Sebagian terbesar.”

“Baiklah, taruhlah sebagian terbesar sudah aku dengar.”

“Aku membosankan jadinya.”

Marno diam tidak mencoba meneruskan. Disedotnya rokoknya dalam-dalam, lalu dihembuskannya lagi asapnya lewat mulut dan hidungnya.

“Tapi Marno, bukankah aku harus berbicara? Apa lagi yang bisa kukerjakan kalau aku berhenti bicara? Aku kira Manhattan tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya kalau salah seorang pemilik pulau ini capek berbicara? Kalau dua orang terdampar di satu pulau, mereka akan terus berbicara sampai kapal tiba, bukan?”

Jane memejamkan matanya dengan dadanya lurus-lurus telentang di sofa. Sebuah bantal terletak di dadanya. Kemudian dengan tiba-tiba dia bangun, berdiri sebentar, lalu duduk kembali di sofa.

“Marno, kemarilah duduk.”

“Kenapa? Bukankah sudah sejak sore aku duduk terus di situ.”

“Kemarilah duduk.”

“Aku sedang enak di jendela sini, Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana.”

“Kunang-kunang?”

“Ya.”

“Bagaimana rupa kunang-kunang itu? Aku belum pernah lihat.”

“Mereka adalah lampu hijau kecil-kecil sebesar noktah.”

“Begitu kecil?”

“Ya. Tetapi kalau ada seribu kunang-kunang hinggap di pohon pinggir jalan, itu bagaimana?”

“Pohon itu akan jadi pohon-hari-natal.”

“Ya, pohon-hari-natal.”

Marno diam lalu memasang rokok sebatang lagi. Mukanya terus menghadap ke luar jendela lagi, menatap ke satu arah yang jauh entah ke mana.

“Marno, waktu kau masih kecil… Marno, kau mendengarkan aku, kan?”

“Ya.”

“Waktu kau masih kecil, pernahkah kau punya mainan kekasih?”

“Mainan kekasih?”

“Mainan yang begitu kau kasihi hingga ke mana pun kau pergi selalu harus ikut?”

“Aku tidak ingat lagi, Jane. Aku ingat sesudah aku agak besar, aku suka main-main dengan kerbau kakekku, si Jilamprang.”

“Itu bukan mainan, itu piaraan.”

“Piaraan bukankah untuk mainan juga?”

“Tidak selalu. Mainan yang paling aku kasihi dahulu adalah Uncle Tom.”

“Siapa dia?”

“Dia boneka hitam yang jelek sekali rupanya. Tetapi aku tidak akan pernah bisa tidur bila Uncle Tom tidak ada di sampingku.”

“Oh, itu hal yang normal saja, aku kira. Anakku juga begitu. Punya anakku anjing-anjingan bernama Fifi.”

“Tetapi aku baru berpisah dengan Uncle Tom sesudah aku ketemu Tommy di High School. Aku kira, aku ingin Uncle Tom ada di dekat-dekatku lagi sekarang.”

Diraihnya bantal yang ada di sampingnya, kemudian digosok-gosokkannya pipinya pada bantal itu. Lalu tiba-tiba dilemparkannya lagi bantal itu ke sofa dan dia memandang pada Marno yang masih bersandar di jendela.

“Marno, Sayang.”

“Ya.”

“Aku kira cerita itu belum pernah kaudengar, bukan ?”

“Belum, Jane.”

“Bukankah itu ajaib? Bagaimana aku sampai lupa menceritakan itu sebelumnya.”

Marno tersenyum

“Aku tidak tahu, Jane.”

“Tahukah kau? Sejak sore tadi baru sekarang kau tersenyum. Mengapa?”

Marno tersenyum

“Aku tidak tahu, Jane. Sungguh.”

Sekarang Jane ikut tersenyum.

“Oh, ya, Marno, manisku. Kau harus berterima kasih kepadaku. Aku telah menepati janjiku.”

“Apakah itu, Jane?”

“Piyama. Aku telah belikan kau piyama tadi. Ukuranmu medium-large, kan? Tunggu, ya….”

Dan Jane seperti seekor kijang yang mendapatkan kembali kekuatannya sesudah terlalu lama berteduh, melompat-lompat masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian dengan wajah berseri dia keluar kembali dengan sebuah bungkusan di tangan.

“Aku harap kausuka pilihanku.”

Dibukanya bungkusan itu dan dibebernya piyama itu di dadanya.

“Kausuka dengan pilihanku ini?”

“Ini piyama yang cantik, Jane.”

“Akan kau pakai saja malam ini. Aku kira sekarang sudah cukup malam untuk berganti dengan piyama.”

Marno memandang piyama yang ada di tangannya dengan keraguan.

“Jane.”

“Ya, Sayang.”

“Eh, aku belum tahu apakah aku akan tidur di sini malam ini.”

“Oh? Kau banyak kerja?”

“Eh, tidak seberapa sesungguhnya. Cuma… tak tahulah.”

“Kau merasa tidak enak badan?”

“Aku baik-baik saja. Aku… eh, tak tahulah, Jane.”

“Aku harap aku mengerti, Sayang. Aku tak akan bertanya lagi.”

“Terima kasih, Jane.”

“Aku bungkus saja piyamamu?”

“Terserahlah. Cuma aku kira, aku tak akan membawanya pulang.”

“Oh.”

Pelan-pelan dibungkusnya kembali piyama itu lalu dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Pelan-pelan Jane keluar kembali dari kamarnya.

“Aku kira, aku pergi saja sekarang, Jane.”

“Kau akan menelepon aku hari-hari ini, kan?”

“Tentu, Jane.”

“Kapan aku bisa mengharapkan itu?”

“Eh, aku belum tahu lagi, Jane. Segera aku kira.”

“Kautahu nomorku kan? Eldorado….”

“Aku tahu, Jane.”

Kemudian pelan-pelan diciumnya dahi Jane, seperti dahi itu terbuat dari porselin. Lalu menghilanglah Marno di balik pintu, langkahnya terdengar sebentar dari dalam kamar turun tangga. Di kamarnya, di tempat tidur, sesudah minum beberapa butir obat tidur, Jane merasa bantalnya basah. 

Majalah Horison No. 4 Tahun I, Oktober 1966

Cerpen ini terpilih sebagai cerpen terbaik Majalah Horison tahun 1966-1967. Diterbitkan dalam kumpulan cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Pustaka Jaya, tahun 1972.

2/23/2008

Senyum Karyamin

~Ahmad Tohari~

KARYAMIN melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna.

Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya. Dan setiap kali jatuh, Karyamin menjadi bahan tertawaan kawan-kawannya. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.

Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati. Meski dengan lutut yang sudah bergetar, jemari kaki dicengkeramkannya ke tanah. Segala perhatian dipusatkan pada pengendalian keseimbangan sehingga wajahnya kelihatan tegang. Sementara itu, air terus mengucur dari celana dan tubuhnya yang basah. Dan karena pundaknya ditekan oleh beban yang sangat berat, maka nadi di lehernya muncul menyembul kulit.

Boleh jadi Karyamin akan selamat sampai ke atas bila tak ada burung yang nakal. Seekor burung paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di atas air, menyambar seekor ikan kecil, lalu melesat tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin.

“Bangsat!” teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suara dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan. Empat atau lima orang kawan Karyamin terbahak bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.

“Sudah, Min. Pulanglah. Kukira hatimu tertinggal di rumah sehingga kamu loyo terus,” kata Sarji yang diam-diam iri pada istri Karyamin yang muda dan gemuk.

“Memang bahaya meninggalkan istrimu seorang diri di rumah. Min, kamu ingat anak-anak muda petugas bank harian itu? Jangan kira mereka hanya datang setiap hari buat menagih setoran kepada istrimu. Jangan percaya kepada anak-anak muda penjual duit itu. Pulanglah. Istrimu kini pasti sedang digodanya.”

“Istrimu tidak hanya menarik mata petugas bank harian. Jangan dilupa tukang edar kupon buntut itu. Kudengar dia juga sering datang ke rumahmu bila kamu sedang keluar. Apa kamu juga percaya dia datang hanya untuk menjual kupon buntut? Jangan-jangan dia menjual buntutnya sendiri!”

Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu yang mereka lempar ke tepi sungai. Air sungai mendesau-desau oleh langkah-langkah mereka. Ada daun jati melayang, kemudian jatuh di permukaan sungai dan bergerak menentang arus karena tertiup angin. Agak di hilir sana terlihat tiga perempuan pulang dari pasar dan siap menyeberang. Para pencari batu itu diam. Mereka senang mencari hiburan dengan cara melihat perempuan yang mengangkat kain tinggi-tinggi.

Dan Karyamin masih terduduk sambil memandang kedua keranjangnya yang berantakan dan hampa. Angin yang bertiup lemah membuat kulitnya merinding, meski matahari sudah cukup tinggi. Burung paruh udang kembali melintas di atasnya. Karyamin ingin menyumpahinya, tetapi tiba-tiba rongga matanya penuh bintang. Terasa ada sarang lebah di dalam telinganya. Terdengar bunyi keruyuk dari lambungnya yang hanya berisi hawa. Dan mata Karyamin menangkap semuanya menjadi kuning berbinar-binar.

Tetapi kawan-kawan Karyamin mulai berceloteh tentang perempuan yang sedang menyeberang. Mereka melihat sesuatu yang enak dipandang. Atau sesuatu itu bisa melupakan buat sementara perihnya jemari yang selalu mengais bebatuan; tentang tengkulak yang sudah setengah bulan menghilang dengan membawa satu truk batu yang belum dibayarnya; tentang tukang nasi pecel yang siang nanti pasti datang menagih mereka. Dan tentang nomor buntut yang selalu gagal mereka tangkap.

“Min!” teriak Sarji. “Kamu diam saja, apakah kamu tidak melihat ikan putih-putih sebesar paha?”

Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.

Memang, Karyamin telah berhasil membangun fatamorgana kemenangan dengan senyum dan tawanya. Anehnya, Karyamin merasa demikian terhina oleh burung paruh udang yang bolak-balik melintas di atas kepalanya. Suatu kali, Karyamin ingin membabat burung itu dengan pikulannya. Tetapi niat itu diurungkan karena Karyamin sadar, dengan mata yang berkunang-kunang dia tak akan berhasil melaksanakan maksudnya.

Jadi, Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan. Dia tersenyum ketika menapaki tanah licin yang berparut bekas perosotan tubuhnya tadi. Di punggung tanjakan, Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat kubik, tetapi harus ditinggalkannya. Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.

“Masih pagi kok mau pulang, Min?” tanya Saidah. “Sakit?”

Karyamin menggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perut Karyamin.

“Makan, Min?”

“Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”

“Iya, Min, iya. Tetapi kamu lapar, kan?”

Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah. Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.

“Makan, ya Min? Aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?”

Si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet. Karyamin tak lagi membencinya karena sadar, burung yang demikian pasti sedang mencari makan buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana. Karyamin membayangkan anak-anak si paruh udang sedang meringkuk lemah dalam sarang yang dibangun dalam tanah di sebuah tebing yang terlindung. Angin kembali bertiup. Daun-daun jati beterbangan dan beberapa di antaranya jatuh ke permukaan sungai. Daun-daun itu selalu saja bergerak menentang arus karena dorongan angin.

“Jadi, kamu sungguh tak mau makan, Min?” tanya Saidah ketika melihat Karyamin bangkit.

“Tidak. Kalau kamu tak tahan melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang-utangku dan kawan-kawan.”

“Iya Min, iya. Tetapi….”

Saidah memutus kata-katanya sendiri karena Karyamin sudah berjalan menjauh. Tetapi Saidah masih sempat melihat Karyamin menoleh kepadanya sambil tersenyum. Saidah pun tersenyum sambil menelan ludah berulang-ulang. Ada yang mengganjal di tenggorokan yang tak berhasil didorongnya ke dalam. Diperhatikannya Karyamin yang berjalan melalui lorong liar sepanjang tepi sungai. Kawan-kawan Karyamin menyeru dengan segala macam seloroh cabul. Tetapi Karyamin hanya sekali berhenti dan menoleh sambil melempar senyum.

Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu yang bergerak pada sebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh, si paruh udang. Punggungnya biru mengkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah saga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap di balik gerumbul pandan. Ada rasa iri di hati Karyamin terhadap si paruh udang. Tetapi dia hanya bisa tersenyum sambil melihat dua keranjangnya yang kosong.

Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di rumahnya tak ada sesuatu buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya. Istrinya juga tak perlu dikhawatirkan. Oh ya, Karyamin ingat bahwa istrinya memang layak dijadikan alasan buat pulang. Semalaman tadi istrinya tak bisa tidur lantaran bisul di puncak pantatnya. “Maka apa salahnya bila aku pulang buat menemani istriku yang meriang.”

Karyamin mencoba berjalan lebih cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak kunang-kunang menyerbu ke dalam rongga matanyta. Setelah melintasi titian Karyamin melihat sebutir buah jambu yang masak. Dia ingin memungutnya, tetapi urung karena pada buah itu terlihat jelas bekas gigitan kampret. Dilihatnya juga buah salak berceceran di tanah di sekitar pohonnya. Karyamin memungut sebuah, digigit, lalu dilemparkannya jauh-jauh. Lidahnya seakan terkena air tuba oleh rasa buah salak yang masih mentah. Dan Karyamin terus berjalan. Telinganya mendenging ketika Karyamin harus menempuh sebuah tanjakan. Tetapi tak mengapa, karena di balik tanjakan itulah rumahnya.

Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya. Denging dalam telinganya terdengar semakin nyaring. Kunang-kunang di matanya pun semakin banyak. Maka Karyamin sungguh-sungguh berhenti, dan termangu. Dibayangkan istrinya yang sedang sakit harus menghadapi dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu, istrinya tidak mampu membayar kewajibannya hari ini, hari esok, hari lusa, dan entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya tengkulak yang telah setengah bulan membawa batunya.

Masih dengan seribu kunang-kunang di matanya, Karyamin mulai berpikir apa perlunya dia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau setidaknya menolong istrinya yang sedang menghadapi dua penagih bank harian. Maka pelan-pelan Karyamin membalikkan badan, siap kembali turun. Namun di bawah sana Karyamin melihat seorang lelaki dengan baju batik bermotif tertentu dan berlengan panjang. Kopiahnya yang mulai botak kemerahan meyakinkan Karyamin bahwa lelaki itu adalah Pak Pamong.

“Nah, akhirnya kamu ketemu juga, Min. Kucari kau di rumah, tak ada. Di pangkalan batu, tak ada. Kamu mau menghindar, ya?”

“Menghindar?”

“Ya, kamu memang mbeling, Min. Di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kaupersulit.”

Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga mendengar detak jantung sendiri. Tetapi Karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam akan diri serta situasi yang harus dihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin.

“Kamu menghina aku, Min?”

“Tidak, Pak. Sungguh tidak.”

“Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-senyum? Hayo cepat; mana uang iuranmu?”

Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras. Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya, seribu kunang masuk ke matanya. Lambungnya yang kempong berguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika melihat tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah, Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.

Kompas, 26 Juli 1987