Tampilkan postingan dengan label Danarto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Danarto. Tampilkan semua postingan

4/10/2018

Jantung Hati

~Danarto~

HARI ini saya mati. Jenazah saya dikebumikan beramai-ramai oleh teman-teman. Istri dan anak-anak saya menangis di tepi gundukan kuburan saya. Mereka lupa berdoa karena sedihnya. Ibunya mendekap ketiga anak saya yang masih kecil-kecil, persis induk ayam melindungi anak-anaknya. Banyak teman-teman yang menangis juga. Mereka seperti tak percaya bahwa hari ini tubuh saya yang masih segar dimasukkan ke liang lahat. Mereka sangat kehilangan saya karena kepergian yang tiba-tiba dalam usia muda. Saya kena serangan jantung.

SIANG itu saya memburu teroris yang habis meledakkan bom di sebuah mal. Kobaran api menghanguskan sebagian dinding dan langit- langit toko parfum yang mengakibatkan sejumlah korban bergeletakkan di antara bongkahan tembok dan pecahan kaca. Menurut para sopir yang beristirahat di lapangan parkir, terlihat seorang pria berjaket yang lari kencang keluar dari mal sebelum bom meledak. Saya yang ke kantor setiap hari melewati mal itu, kebetulan menyaksikan semburan asap dan api, buru-buru mengejar teroris yang menurut saksi mata lari ke arah timur. Rupanya jantung saya tidak kuat lagi menanggung beban cara kerja yang penuh ketegangan yang setiap hari dipacu, putuslah perangkat itu yang menyebabkan saya duduk terkulai di belakang setir tak bangun-bangun lagi.

Ketika saya baru menyadari telah berada di alam lain, tubuh saya dan sejumlah yang lain berupa entah, bersayap, lentur, melenting- lenting, dan bersinar, melayang, mengalun, ke mana-mana. Lalu muncul sekuntum malaikat berada di depan saya. Kami lalu mengerumuni malaikat itu yang mematung tak bicara. Tubuh malaikat itu dipenuhi mata yang bukan main banyaknya, boleh jadi tak terhitung jumlahnya. Ribuan. Saya kira milyaran. Agaknya saya bisa membaca malaikat itu, rasanya ia inilah sekuntum yang mencabut nyawa saya: Malaikat Izrail. Pernah dua kali ia datang sebelumnya, tetapi tulang dan darah saya menolaknya yang mengatakan bahwa saya belum siap dijemputnya. Setiap satu mata Izrail mengedip, satu nyawa tercabut dari tubuh manusia. Saya lalu membayangkan bagaimana ia ketika bekerja di medan perang.

Saya masih ingat, saya pernah berterus terang kepada pacar saya, yang kemudian jadi ibu anak-anak saya itu bahwa saya punya cita-cita jadi malaikat. Mendengar omongan saya itu, dia tergelak-gelak. Dia tentu menganggap saya main-main.

"Memangnya kamu orang suci, kok ingin jadi malaikat!" kata dia waktu itu sambil menyeruput jus tomatnya.

"Lho, memangnya ada syarat kesucian untuk jadi malaikat?" kata saya.

"Lalu apa syaratnya kalau bukan kesucian?"

"Kalau begitu tidak ada manusia yang bisa jadi malaikat, dong."

"Emang."

Keyakinannya dan ketegasannya ketika omong itulah yang semakin memikat saya untuk masuk ke dalam pelukannya.

***

MENURUT analisis para pakar politik, bom yang meledak di mana- mana adalah untuk mengacau pemerintahan baru. Jika politik tidak stabil, ekonomi pasti goyah pula. Rakyat yang miris terhadap teror tentu tidak bisa hidup tenang, apalagi rezeki sudah sangat susah dicari. Sekitar 40 juta jiwa penganggur mau makan apa jika lowongan kerja sudah tertutup sama sekali. Mereka akan gentayangan di kota- kota besar karena hanya di sana apa saja bisa menghasilkan uang. Bom yang meledak yang dipadu dengan gelandangan dianggap suatu komposisi yang cukup efektif untuk menggoyang kedudukan yang telah mapan.

Mati bukanlah cita-cita saya. Siapa yang mau mati? Mati adalah ketakutan itu sendiri. Kebanyakan manusia tidak ingin mati, saya yakin itu. Rata-rata manusia ingin hidup abadi. Kematian adalah jalan menuju pengadilan. Siapa mau diadili? Seorang yang hidup lurus selama tinggal di dunia, juga tidak senang diadili, saya yakin itu. Jadi, setiap manusia selama hidup di dunia harus mempersiapkan diri baik- baik dalam menuju akhirat. Mengapa Tuhan menggunakan istilah pengadilan? O, alangkah sengsaranya manusia jika di akhirat kelak diadili. Siapa yang bisa lolos dari pengadilan? Lebih-lebih lagi untuk bisa naik ke surga, orang harus dicuci dulu di neraka karena tidak ada manusia yang terbebas dari dosa. O, alangkah sengsaranya manusia.

"Kamu harus mati dulu, baru bisa jadi malaikat," kata pacar saya waktu itu sambil menyeruput jus tomatnya.

"Jangan begitu," kata saya. "Maksud saya, menjadi malaikat ketika masih hidup begini, itulah cita-cita saya."

"Kamu ini bagaimana. Kamu kan kasatmata dan malaikat tidak kasatmata. Kamu harus tidak kelihatan lebih dulu untuk bisa menjadi malaikat yang tidak kelihatan."

"Kalau begitu tidak ada manusia yang sanggup jadi malaikat, dong."

"Emang."

Keyakinannya dan ketegasannya ketika omong itulah yang semakin memikat saya untuk masuk ke dalam pelukannya.

***

TIBA-tiba Izrail lenyap lalu digantikan oleh sekuntum malaikat lain yang berbeda. Tubuh malaikat yang muncul tiba-tiba itu berubah- ubah bentuknya, menjadi mawar, lalu melati, kemudian kenanga, dan matahari, lalu berubah lagi menjadi bunga anggrek putih dengan sejumlah noktah berwarna violet, hijau, dan oranye. Kembang-kembang itu dalam ukuran lebih besar dari manusia. Kadang mekar besar sekali memenuhi angkasa.

Tak juga memberi tanda lewat gerakan badan atau tangan supaya saya begini atau begitu, malaikat itu bergulir lurus. Tak juga menoleh ke arah saya seperti tak kenal atau tak mau tahu, malaikat itu melaju di atas permukaan sehingga saya cukup terbirit-birit mengikutinya. Alam sekeliling tampak berkabut, hening, dan sejuk. Kabut itu cukup tebal, cukup menutupi jalan di depan sehingga keberadaan malaikat itu menjadi penentu arah jalan saya. Setiap ia bergerak ke depan, kabut itu menyibak. Menggumpal ke kiri-ke kanan menjadi dinding terowongan. Memanjang. Ia seperti menuntun saya, tetapi juga menakutkan saya. Kediamannya itulah yang menyebabkan rasa waswas itu. Bagaimana kalau ia tiba-tiba lenyap ditelan kabut.

Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tak berbatas, luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi. Jelas ini salah tafsir. Terhadap kematian, sungguh seharusnya tidak diucapkan: ikut berduka-cita sedalam-dalamnya. Yang diucapkan mestinya: ikut bersuka ria semeriah-meriahnya. Karena, ya itu tadi, kematian itu membahagiakan. Dalam kematian, bernapas lebih lega. Beban berat di hati terpunggah. Penderitaan hidup lenyap. Kematian telah memindahkan kesadaran ke alam lain. Kesedihan adalah penderitaan. Kematian bukan kesedihan. Bagi manusia, kematian adalah jantung hati. Pujaan. Pasangan kelahiran. Hasrat utama kehidupan.

Dunia tinggal kenangan di alam mimpi. Keluarga saya, keluarga yang ada di alam impian. Seluruh pahit-getir hidup yang saya alami ternyata berada di sebuah dunia yang tidak ada. Adam dan keturunannya adalah maya, ciptaan yang tidak ada, tak ada tempat yang begitu buruk seperti dunia bahkan ketika Tuhan setelah menciptanya, Tuhan melengos dari padanya. Saya selalu mengulang-ulang hikmah dari kiai saya.

***

SERANGAN jantung adalah transportasi yang paling kena untuk transformasi.

Setiap orang butuh kendaraan. Hanya kapan kendaraan itu ditumpangi, sungguh masalah waktu. Kendaraan hidup, kendaraan mati, hanyalah pemisahan soal jenis. Orang sehat dianggap sakit karena sepanjang hidupnya hanya soal kesehatan yang dipikirkannya. Orang sakit dianggap sehat karena orang itu tak peduli akan penyakit. Menganggap kesehatan suatu persoalan maupun bukan, memang penting, sepanjang orang menganggapnya penting atau tak penting. Sehat sama saja dengan sakit. Sakit sama saja dengan sehat. Lebih baik orang kadang-kadang sehat, kadang-kadang sakit, baru di sini orang tahu persoalan dunia, apa memang begitu? Saya mati karena penyakit yang tidak saya dan dokter ketahui. Mengapa bisa demikian, di dunia ini segalanya bisa lolos.

Alangkah berjasanya penyakit yang telah menolong saya melakukan perjalanan ke alam yang jauh lebih baik dari alam sebelumnya, apa memang begitu? Alam roh, alam rahim, alam dunia, alam kubur, alam akhirat, adalah lima alam yang sering diulang-ulang disebutkan oleh khotbah banyak kiai di dalam pengajian yang wajib ditempuh oleh manusia dalam perjalanan hidupnya. Jika demikian, saat ini saya sedang menempuh alam kubur. Ketika saya menghadapi kenyataan di alam kubur ini, saya mendapati realitas yang berbeda, bahkan bertentangan dari tafsir yang dikhotbahkan para kiai.

Akan tetapi, masalahnya adalah "pengalaman" dibanding "berita", tentu seperti malam dengan siang perbedaannya. Yang satu sudah mengalami alam kubur, sedang yang lain baru dalam taraf teori, tentu seperti bumi dengan langit perbedaannya. Apa memang begitu?

Seperti dalam hal berpakaian, misalnya. Setiap orang berpakaian, kan. Kapan pakaian itu dilepas, hanya soal waktu. Berfungsi sebagai pakaian, tubuh memiliki ukuran yang pas hanya untuk masing-masingnya. Tak bisa tubuh yang satu, dipakai oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya. Jika terjadi yang demikian, muncul distorsi. Seperti kerasukan. Orang yang kerasukan tak mampu lagi memegang dirinya sendiri. Tak mampu mengenali pakaiannya lagi. Ke mana-mana, kita memakai pakaian itu sehingga menjadi identitas. Tak tahunya malah menjadi beban. Selama hidup kita hanya disibukkan oleh pakaian itu. Mengapa orang mau berpikir keras perkara pakaian, mengapa orang mau berpikir tidak keras perkara pakaian, tinggal menentukan pilihan, padahal tidak ada yang menyuruh untuk melakukan pilihan. Pakaian adalah kekeliruan, tak tahu-menahu, gelap tanpa pegangan, bebas dari pengertian mode dan body-building, yang elok, yang semampai, yang gembrot, bahkan Napoleon Bonaparte bertubuh pendek.

Orang senang karena punya penampilan. Sempat disiarkan televisi, tukang sapu jalanan memakai seragam yang apik, potongan maupun warnanya. Jika tidak suka berpenampilan, dianggap tak punya selera, padahal orang punya penampilan yang berbeda-beda, tergantung kebutuhan dan rasa kesadaran. Pakaian memang didudukkan paling depan, lebih dari jati diri, karena kesalahan sejak dari awal, penilaian bermula dari sini. Saya cukup peduli soal pakaian, siap dengan makanan suplemen dan banyak vitamin, tetapi saya mati karena pakaian saya memberontak terhadap saya.

Dalam beribadah, kita telanjang, begitu khotbah Kiai Muhammad Nurullah, dari sebuah kelompok pengajian, saya ikut sebagai jamaahnya. Pakaian tak ada gunanya. Tak ada rahasia yang bisa disembunyikan. Sering dalam beribadah, kita mematut-matut diri seolah kita masih berpakaian. Banyak yang berharap bisa mati ketika sedang beribadah-sesuci-sucinya keadaan jiwa-sehingga siapa pun tak perlu pakaian lagi. Tetapi, siapa yang cukup kuat dengan mengesampingkan pakaian? Ah, pakaian, saya berharap, saya hanyalah manusia.

Lorong kabut itu bertambah panjang. Malaikat yang membimbing saya masih tetap berada di depan saya. Karena saya takut sekali kalau dibawa ke neraka, saya menyapanya. Tapi ia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan mengubah-ubah bentuk tubuhnya: dari sekuntum mawar ke sekuntum anggrek ke sekuntum melati ke sekuntum teratai. Aduh, indah sekali. Dengan jawaban itu, saya jadi ge-er: Saya tak bakal dibawa ke neraka. Saya tahu, saya banyak dosa, tapi siapa mau dicemplungkan ke neraka?

***

KABUT rasanya makin tebal. Saya dan malaikat itu berenang dalam kabut. Terdengar suara musik yang lamat-lamat. Suara suling terdengar mengalun jauh. Disusul gesekan biola yang serempak bagai kaki-kaki yang diciumi busa laut di tepi pantai. Saya ingat waktu main kejar- kejaran di pantai Karang Bolong bersama istri dan anak-anak sambil menatap Gunung Krakatau yang terus-menerus mengepulkan asap hitam bagai seorang yang berendam sambil mengepulkan asap rokok.

Tiba-tiba dari gumpalan kabut di depan muncul istri saya dengan anak-anak. Begitu melihat saya, keempatnya berlari ke arah saya.

"Ayah! Ayah!" teriak anak-anak menghambur ke dada saya.

Kami berlima berpelukan erat. Sesaat. Mendadak saya sadar. Mereka saya lepaskan perlahan. Mereka saya tatap satu persatu. Kenapa istri dan anak-anak menyusul saya secara bersamaan, kalau bukan oleh kekuatan yang sanggup memberangkatkan mereka sekaligus?

Tangerang, 12 Oktober 2000

Kompas, Minggu, 26 Agustus 2001.

Hari ini Selasa (10/4/2018), sekitar pukul 13.30 di Jalan Ir H Juanda, Jakarta Selatan Mas Dan mengalami kecelakaan. Mas Dan dilarikan ke RS Fatmawati karena mengalami luka berat di bagian kepala. Setelah bertahan beberapa jam, Mas Dan mengembuskan napas terakhir pukul 20.54.


9/11/2010

Macan Lapar

~Danarto~

KETIKA saya membaca SMS dari sahabat saya William John dari California bahwa ia akan datang ke Solo untuk mencari Putri Solo yang gaya berjalannya seperti Macan Lapar, saya terbahak. Ketika ia melanjutkan SMS-nya bahwa jika ia tidak menemukan seorang Putri Solo yang Macan Lapar itu, dalam bahasa Jawa: Macan Luwe, berarti saya menyembunyikannya. Lagi-lagi saya terbahak.

Sebaliknya saya mengancam, jika ia main-main saja dengan Putri Solo, misalnya mengajaknya kumpul kebo, saya akan melaporkannya ke Presiden Obama. Ternyata John berani bersumpah bahwa ia serius akan menikahi Putri Solo yang Macan Lapar itu dan memboyongnya ke Amerika. Anak keturunannya kelak, janji John, merupakan masyarakat baru Amerika yang akan mendatangkan berkah. Saya menyambutnya dengan mengucap amin, amin, amin. Okey, jawab saya. Insya Allah, John, saya akan membantumu untuk menemukan Putri Solo si Macan Lapar itu.

John adalah seorang arkeolog. Perkenalannya dengan dunia Timur ketika ia melancong ke Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk memelototi candi-candi. Waktu itu ia masih berusia 23 tahun, sedang giat-giatnya menjaring ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya. Candi Borobudur sudah tentu, Prambanan, Mendut, Sukuh, Panataran, semuanya, sudah pindah ke benaknya. Tentu banyak lagi. Setelah John menjadi profesor di usia 25, ia sadar bahwa tak ada gunanya seorang profesor yang jomblo. Ia merasa sangat kesepian. John sebenarnya sudah menjalin hubungan dengan sejumlah mahasiswinya. Tapi semuanya menolak untuk dinikahi, yang membuat John uring-uringan.

Menurut John, masa bahagia adalah ketika kuliah di Solo, ia menginap di rumah saya di bilangan Notosuman, bertetangga dengan kedai Srabi Notosuman yang termasyhur itu. Bagaimana ia tidak berbahagia, segalanya tersedia dengan gampang. Tidak seperti di Amerika yang segalanya harus ia lakukan sendiri, di Solo jika lapar bisa langsung makan, bila pengin ngopi tinggal pesan, bila pakaian kotor tinggal dilemparkan. Jika nonton pertunjukan, pergi kuliah, maupun piknik, cukup dengan naik sepeda.

Di universitasnya, UCLA, John berkenalan dengan Eko, seorang penari dari Solo yang sedang melakukan tur ke 30 universitas Amerika untuk menari. Eko menyarankan supaya John menikah dengan gadis Solo saja. Di samping gemi, nastiti, ngati-ati (irit, terperinci, berhati-hati), putri Solo gaya berjalannya persis macan lapar yang bisa membekukan waktu.

Tetapi, menurut Fafa Dyah Kusumaning Ayu, seorang DJ yang menjelma sejarawan yang mbaurekso (mengayomi) kota Solo, putri Solo yang gaya berjalannya persis macan lapar itu sudah tidak ada lagi. Menurut dia, dari satu artikel yang dibacanya, putri Solo yang demikian, yang terakhir terlihat di zaman penjajahan Jepang, yaitu di tahun 40-an. Mendengar ini, Eko dari Boston kirim SMS: Fafa, lo jangan bikin John pesimistis. Fafa pun menjawab: Eko, lo jangan mengada-ada.

Di bandara Adi Sumarmo, Solo, saya dan anak-anak, Ning, Nong, dan Nug, menjemput John yang datang lewat Bali. Di rumah, ibunya anak-anak menyiapkan nasi goreng ikan asin kesukaan John. Ia tinggal di rumah penginapan penduduk yang banyak bertebaran di kampung-kampung. Serta-merta ia diminta mengajar di ISI (Institut Seni Indonesia) untuk mata pelajaran arkeologi budaya.

Menurut Fafa, gaya berjalan Macan Lapar adalah gaya berjalan yang bertumpu pada pinggul dan pundak. Jika melangkah, sebagaimana orang berjalan, pinggul kanan berkelok muncul keluar dari garis tubuh, maka pundak kiri lunglai ke depan. Begitu bergantian, pinggul kiri mencuat, pundak kanan lunglai ke depan. Irama ini dalam paduan langkah yang pelan. Gaya berjalan begini akhirnya diadopsi oleh para art director fashion show menjadi gaya berjalan yang kita kenal sekarang oleh para peragawati di seluruh dunia di atas cat-walk. Megal-megol-nya para peragawati Eropa, Amerika, maupun Asia, menurut Fafa sangat teknis. Hal itu tampak ketika para peragawati sudah tidak di atas cat-walk lagi, mereka ternyata berjalan biasa saja, sebagaimana orang-orang biasa berjalan. Artinya, megal-megol mereka di atas cat-walk belum merupakan kekayaan budaya fashion show. Padahal macan laparnya putri Solo itu tulen, alamiah, menyatu dengan tubuh yang hidup dalam budaya tradisinya. Meski cuma berjalan di dalam rumahnya, gaya berjalan Putri Solo tetap persis macan lapar. Sehingga Putri Solo jauh lebih gandes, luwes, kewes, dan sensuous.

Pada suatu hari di siang yang panas, ketika saya dan Nug selesai jumatan di Masjid Gede, lalu bergabung dengan Ning, Nong, dan ibunya anak-anak untuk menikmati tengkleng, semacam sop tetelan daging sapi atau kambing khas Solo di gerbang Pasar Klewer, tiba-tiba menghambur John di sela kerumunan orang yang antre tengkleng, sambil berkata mantap:

“Saya sudah dapat si Macan Lapar.”

“Alhamdulillah,” sahut saya.

Lepas ashar di gerbang Keraton Susuhunan, sejumlah orang berkumpul: John, Fafa, mas Rahayu Supanggah (komponis), mas Modrik Sangidu (aktivis), Sadra (komponis), Slamet Gundono (dalang), Suprapto Suryodarmo (guru spiritual), dan pak Jokowi (wali kota Solo) sedang berharap-harap cemas sambil mencereng menatap jalanan. Kami semua diundang John untuk menerima kejutan.

Mendadak muncul seorang gadis yang berpakaian lengkap mengesankan seorang penari. Kami terperangah melihat gaya jalannya yang Macan Lapar. Ketika pinggul kanan mencuat ke samping, pundak kanan tertarik ke belakang, sedang pundak kiri mencuat ke depan. Begitu bergantian. Sungguh cara berjalan yang menggetarkan. Langkah yang pelan, yang pasti, yang terkonsentrasi penuh. Namun gaya ini—sekali lagi–tulen. Gadis itu melenggang ke pintu masuk keraton ketika tiba-tiba John meloncat mengejarnya. Fafa mencoba menahan John. Saya dan Modrik serta pak Jokowi ikut berlari mengejar. Prapto, Sadra, dan Panggah terbahak. Gundono berteriak dan tertawa, “Kejar! Kejar!” sambil mencakar cukelelenya keras-keras membangun ketegangan.

Ketika John mencapai teras keraton, kami melihat pemandangan yang mengerikan: John jadi Cleret Gombel! Menyaksikan John yang bermetamorfosis jadi sebangsa bunglon yang bisa terbang itu, gadis yang dikejar itu berteriak-teriak ketakutan lalu meloncat ke dalam ke halaman dalam keraton. Kami berloncatan meringkus John si Cleret Gombel. Saya dan pak Jokowi terlempar. Fafa menjerit karena si Cleret Gombel menggeram sambil memperlihatkan taringnya. Mas Modrik yang persis Samson itu dengan kuat meringkus John hingga roboh. John terus meronta menggeram-geram sambil unjuk taringnya yang putih berkilat. Kemudian dengan mobil hardtop mas Modrik, ramai-ramai John kami serahkan kepada pak Oei Hong Djien, guru spiritual yang khusus menangani keseimbangan pikiran dan perasaan, dari komunitas kebatinan Sumarah. Kami sepakat membantu John untuk melamar penari Macan Lapar itu yang kemudian ketahuan namanya Intan Paramaditha.

Belakangan pak Jokowi melakukan rapat maraton dengan para budayawan Solo untuk membahas tentang rencananya melakukan revitalisasi gaya melenggok ala Macan Lapar ini. Kota Solo diyakini menjadi satu-satunya kota di dunia yang punya gaya berjalan putri-putrinya yang elegan itu. 

***

Kota Tangerang Selatan, 10 Juni 2010

Kompas, 05 September 2010

7/12/2008

Sawitri

~Danarto~

PEREMPUAN itu terhuyung-huyung, lalu sesaat kemudian jatuh tersungkur. Seperti telah memunggah beban berat dari pundaknya, dia tak sadarkan diri. Tergolek dalam semak-belukar rimba raya yang lebat, dia seolah lelap tertidur. Kelihatan kumuh, pakaian yang robek-robek, rambut yang acak-acakan, dan tubuh yang tergores-gores, perempuan itu menyiratkan kecantikan yang perkasa. Telapak kakinya yang merah-jambu pecah-pecah. Di sana-sini berdarah. Kuku-kuku jari kaki dan jari tangannya yang memanjang, tentu tak dapat dihentikan pertumbuhannya. Dia juga tak berhasil menyembunyikan tubuhnya yang indah, bahkan ketika tubuh itu tak sempat dirawat. Setiap langkah dalam setiap saat baginya merupakan waktu yang sangat menentukan jalan hidupnya.

Sudah 99 hari dia menguntit Batara Yamadipati, Dewa Kematian, yang memanggul beban Setiawan, suaminya, yang sudah menjadi mayat. Perempuan ini, Sawitri, tidak rela atas kematian suaminya. Merasa diperlakukan tidak adil, dia menuntut Dewa Kematian itu untuk memberikan nyawa suaminya kembali, secepat mungkin. Tentu saja Sanghyang Yamadipati merasa terpojok oleh tuntutan Sawitri. Pertama, Sang Dewa sangat heran, bagaimana mungkin Sawitri bisa melihat badannya yang sebenarnya tidak kasat mata. Demikian juga apa-apa yang dibawanya tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Kedua, Sang Dewa sangat kagum atas ketahanan tubuh Sawitri yang mampu menguntit ke mana saja kepergiannya tanpa kelihatan merasa lelah dan tak kehilangan jejak. Di mana ada Yamadipayi, di situ tegak Sawitri.

Sebaliknya Sawitri juga merasa heran bahwa kematian Setiawan di luar akal sehat dan kenapa jenazahnya tak ditinggalkannya. Sawitri lalu menuduh para dewa berlaku curang terhadapnya. Bagaimana tidak curang, Setiawan seorang ksatria yang sehat jasmani dan rohani. Setiap hari selalu berolahraga. Makannya bagus. Istirahatnya bagus. Dan pikiran-pikirannya bagus. Tak mungkin seseorang yang dalam kondisi sebagus-bagusnya, tiba-tiba begitu saja meninggal dunia. Bagaimana dengan takdir? Mendengar perkataan takdir, Sawitri hanya mencibir. Perempuan cantik ini telah terbang menembus langit ke kerajaan para dewa. Sebelum sampai menembus istana, Sawitri sudah dicegat para dewa penjaga. Lalu para dewa penjaga itu dengan memaksa mengantarkannya ke istana Batara Narada.

“Takdir selalu mengikuti kehendak tubuh yang memiliki takdir tersebut. Jika keadaan tubuhnya sehat-walafiat jasmani dan rohani, takdir akan setuju saja memperpanjang usia si orang itu,” kata Sawitri di depan Batara Narada, wakil penguasa tertinggi para dewa di Kahyangan, yang lantas terbahak-bahak mendengar pendapat Sawitri itu.

Sesaat ditatapnya Sawitri, lalu Batara Narada berujar, “Sawitri, putriku yang jelita. Kamu jangan ngarang, ya. Takdir manusia adalah urusan para dewa. Jika takdir sudah tiba, umur manusia tidak bisa ditunda. Tidak mungkin ditambah atau dikurangi, meski keadaan badannya sehat-sesehat-sehatnya.”

“Banyak umur yang bisa ditawar-tawar.”

“Ah, kamu jangan mendongeng.”

“Ada seorang pertama yang sudah sampai ajalnya, ia didatangi Betara Yamadipati yang memintanya untuk mengikhlaskan nyawanya. Pertapa itu memohon Sang Dewa untuk memperpanjang umurnya barang secukupnya karena ia merasa bertapanya belum cukup. Lalu Eyang Yamadipatyi mengabulkannya.”

“Lagi-lagi, kamu mengarang.”

“Betul, yang mulia. Hamba tidak bohong. Hamba bertemu sang pertapa itu.”

“Ketahuilah, putriku yang manis. Sosok yang menemui pertapa itu bukan Batara Yamadipati, melainkan orang biasa yang bisa mengubah bentuk tubuhnya persis Dewa Pencabut Nyawa itu.”

“Ah, tidak mungkin. Sang pertapa sendiri sangat yakin, ia Dewa Yamadipati.”

“Kalau begitu ia bukan pertapa yang mumpuni. Tak mungkin pertapa yang andal bisa ditipu.”

“Ia seorang yang jujur.”

“Saya percaya, pertapa itu seorang yang jujur. Barangkali sangat jujur. Tapi orang jujur kan tidak mungkin tidak tertipu.”

“Kalau begitu hamba harus mempercayai siapa?”

“Percayailah Dewa yang ada di hadapanmu ini. Ia sangat berkuasa terhadap kerajaan langit dan bumi.”

“Hamba ingin bukti bahwa ajal suami hamba memang telah sampai.”

“Kok kamu masih bertanya pula. Suamimu sudah di alam lain.”

“Kenapa jenazahnya dibawa serta?”

“Ketentuan takdir itu macam-macam. Ada yang meninggal secara biasa. Ada pula yang meninggal secara luar biasa. Suamimu termasuk yang luar biasa. Ketika suamimu meninggal, ia cukup suci sehingga tubuhnya cukup pantas untuk diterbangkan ke langit.”

“Hamba tidak rela.”

“Lho, bukan urusan para dewa untuk merasakan suasana hatimu.”

“Kalau begitu para dewa curang.”

“Dalam urusan takdir, tidak ada hal curang atau tidak curang.”

“Duh, Sanghyang yang menguasai langit. Paduka mengetahui bahwa kami adalah pengantin baru. Baru menikmati sedikit kelezatan perkawinan, Paduka telah mencabut nyawa suami hamba. Di mana lalu keadilan para dewa.”

“Dalam urusan takdir, tidak ada hal adil dan tidak adil. Takdir berdiri di luar hukum alam. Takdir sepenuhnya berada di dalam daftar yang tersusun rapi.”

“Jika demikian, anugerahi kami keringanan sedikit. Kami berdua berjanji akan menurunkan lima orang anak dan cucu sebanyak dua puluh lima orang. Jika waktu mendesak, izinkan suami hamba meninggal setelah melihat cucunya yang ke lima.”

“Sawitri, putriku yang gagah berani. Kami harus yakin bahwa dalam takdir tidak ada tawar-menawar.”

“Kalau begitu para dewa itu kejam.”

“Dalam takdir, tidak ada hal yang kejam dan tak kejam.”

“Kalau begitu para dewa itu bekerja tanpa patokan.”

“Ha ha ha.”

Tanpa pamit kepada Batara Narada, Sawitri berkelebat bagai kain yang dihembus angin, pergi meninggalkan Kahyangan turun ke Mayapada. Sawitri masih tergeletak dan semakin tenggelam di dalam semak-belukar rimba raya. Lembab bau daun yang beguguran menumpuk, bercampur akar dan ranting memberi aroma sampah yang sedap. Parfum hutan lebat. Gelap pekat sinar matahari tak mampu menembus rimbun daunnya. Hutan rimba adalah samudra yang tak terjamah. Tak terukur kedalamannya. Pusat kehidupan roh alam. Sulur-sulur menghubungkannya. Pipa darah yang lancar mengalirkan daya hidup. Kelestarian lingkungan. Seekor babi hutan mendekat, mengendus-endus dan menggulingkan tubuhnya dengan taringnya yang besar dan melingkar itu. Tiba-tiba saja sebatang belalai mencomot badan babi hutan itu dan melemparkannya jauh-jauh. Kemrosak bunyi badan binatang yang berbulu tajam itu menerjang ranting dan daun. Entahlah, ia terbirit menghilang di balik pohon raksana, kemana.

Esoknya baru Sawitri terbangun. Dia kaget sekali karena dia telah tidur berkasur ular raksasa. Tubuh ular itu lebih besar dari batang-batang kayu yang besar dan tumbuh subur. Ketika Sawitri mau lari, ular itu mencegahnya sambil berkata, “Sawitri, cucuku. Cobalah tatap wajahku.”

Begitu Sawitri memperhatikan kepala ular yang bermahkota itu, sadarlah ia lalu menyembahnya.

“Eyang Anantaboga, mohon maaf, Cucunda tidak mengenali.”

“Tak apalah, Cucuku. Karena sudah lama kita tidak berjumpa, kamu jadi pangling.”

“Tapi ijinkan Cucunda untuk cepat-cepat pergi sebelum buruan Cucunda berlari lebih jauh lagi.”

“Ha ha ha. Aku mahfum. Berpuluh hari kamu menguntit Sanghyang Yamadipati untuk meminta jenazah suamimu yang kemana-mana dipanggulnya guna dihidupkan kembali dan diserahkan kepadamu. Aku merasakan getaran jiwamu yang keras di dasar bumi, kerajaanku.”

“Mohon maaf sebesar-besarnya, Cucunda telah mengganggu Eyang.”

“Sebaiknya aku memang perlu diganggu. Bagi kamu barangkali aku ini orangtua yang kurang berguna.”

“Tidak sekali-kali, Eyang, Cucunda punya pikiran yang seperti itu.”

“Dengan berat hati aku katakan kepadamu, apa yang diutarakan Batara Narada, benar adanya. Begitulah takdir.”

“Cucunda mohon pamit,” tiba-tiba saja Sawitri memotong pembicaraan sambil tubuhnya berkelebat bagai berpacu dengan angin meninggalkan Sanghyang Anantaboga, maharaja kerajaan dasar bumi itu.

“Jangan begitu Cucuku. Maksudku…,” teriak maharaja ular itu sambil menjulur mengejar putri yang semangatnya berkobar-kobar itu. Dengan sigap Anantaboga menggaet tubuh Sawitri lalu memanggulnya dan meluncurlah ular raksasa dengan kecepatan penuh, menyusuri sela-sela batang-batang pohon besar dalam rimba-raya yang pekat itu.

“Turunkan Cucunda, Eyang. Aku tidak butuh pertolongan Eyang.”

Anantaboga tidak menggubris omongannya, terus meluncur bagai kapal layar yang didorong angin buritan.

“Turunkan Cucunda, Eyang. Aku tidak butuh pertolongan Eyang.”

Anantaboga tetap tidak menggubrisnya, terus meluncur bagai anak panah yang melesat dari busurnya.

Sikap Anantaboga ini bagi Sawitri mengingatkan sikap Yamadipati yang tidak pernah menggubrisnya.

“Eyang Yamadipati, kami adalah pengantin baru. Kamu sedang mereguk kebahagiaan ketika tiba-tiba Eyang muncul dan mencabut nyawa suami saya. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apa kesalahan dan dosa kami sehingga secara tiba-tiba kami dipisahkan?” begitulah perkataan yang keluar dari mulut Sawitri mula-mula ketika menghadapi kenyataan yang sangat pahit itu, setelah menangis menjerit-jerit sambil memeluk Setiawan, suaminya yang tiba-tiba terbujur lemas, telah menjadi mayat, sementara itu di pojok taman kolam renang istananya berdiri Batara Yamadipati persis batu, kokoh dan dingin.

Dewa Pencabut Nyawa itu hanya diam, tak memberi jawaban, juga tidak berkata-kata. Dewa yang berbadan bongsor ini lalu mendekat yang membuat Sawitri ketakutan dan mundur. Ditariknya mayat Setiawan dan dipanggulnya yang menyebabkan Sawitri menjerit lalu menubruk suaminya dan berebut jenazahnya. Tapi pegangan sang dewa sangat kuatnya sehingga Sawitri yang tak mau melepaskan cengkeraman tangannya atas tubuh suaminya, terseret. Sawitri meronta. Sawitri memukuli dada Yamadipati, namun Dewa itu tidak peduli. Ia terus berjalan sambil memanggul Setiawan di pundaknya seperti memanggul karung berisi beras.

Sawitri merangkul erat-erat kedua kaki sang Dewa, ditahannya supaya tidak bisa melangkah, tapi dengan mudahnya dihempaskannya. Sawitri menangis sepanjang jalan, sambil menyeret kakinya ke mana sang Dewa pergi. Sesekali Sawitri menciumi tubuh Setiawan yang kepalanya terjulur di punggung sang Dewa, sesekali perempuan ini mencoba terus untuk merebut jenazah suaminya dengan menarik-narik kedua kakinya yang erat dicengkeram sang Dewa. Jika Yamadipati terbang, terbang pula Sawitri. Jika sang Dewa menyeberangi lautan, begitu pula Sawitri sanggup menyeberangi lautan. Jika Dewa itu melintas gurun yang panas-terik, melintas pula Sawitri tanpa ragu-ragu. Sampai Yamadipati ragu, benarkah putri yang lembut ini Sawitri atau jelmaan kekuatan para dewa yang mencoba membelanya.

Dalam berlari atau berjalan menguntit sang Barata, sering Sawitri jatuh tertidur sampai terguling-guling ke bawah bukit. Begitu tubuhnya terbentur pada bebatuan, dia terbangun dan mengejar Yamadipati kembali. Atau dalam keadaan tertidur tangannya memegangi erat kaki Yamadipati yang terus menyeretnya tidak peduli. Atau pernah pula karena Yamadipati kasihan, dalam keadaan tertidur Sawitri dipanggulnya di pundak bersebelahan dengan Setiawan. Tak jarang Yamadipati yang tak pernah sepatah kata pun berbicara kepadanya, meninggalkan Sawitri di sembarang tempat—termasuk tempat yang berbahaya—karena perempuan itu kelelahan. Sebagai dewa dengan tugas khusus, Yamadipati tentu membutuhkan syaraf baja untuk melaksanakan tugas dan kewajiban itu.

Yang menjadi pertanyaan besar Sawitri adalah, mau dibawa ke mana jenazah suaminya itu. Jika Setiawan seorang suci, sejauh apa kesuciannya sehingga badan-wadagnya perlu dikuburkan di langit. Jika tindakan Dewa itu perlu guna mengecoh istrinya, apakah seorang perempuan seperti Sawitri begitu penting untuk dikecoh. Jika para dewa ingin memberi pelajaran tentang filosofi moral kepada umat manusia, kenapa harus dengan jalan memutus tali cinta antarsesama manusia, mengapa tidak bercerita tentang percintaan para dewa saja. Yamadipati yang tidak mau berbicara karena disiplin akan tugasnya yang hanya mencabut nyawa, menggiring Sawitri ke pertanyaan-pertanyaannya yang lebih mendasar tentang mekanisme birokrasi pemerintahan kedewataan yang mustahil bisa ditembus oleh manusia. Bagi Sawitri, tragedi percintaannya itu sungguh diliputi kabut yang aneh dan musykil.

Sampai tibalah hari ke-999 ketika Sawitri ditemui Sanghyang Anantaboga itu, yang lantas membawanya melaju seperti kapas yang diterbangkan angin. Kemarahan Sawitri terobati sedikit ketika dia melihat Yamadipati yang berlari bak angina—tetap memeluk erat jenazah Setiawan—tersusul. Begitu Yamadipati lepas landas mau terbang, ekor Anantaboga menggaet tubuh Dewa Kematian itu hingga tak bisa bergerak. Anantaboga mendesis sesaat, menghadangnya, tersenyum sambil berkata: “Terserahlah Anda mau pergi ke mana dan seberapa lama, tapi jangan ditinggal Sawitri.”

Yamadipati diam, sebagaimana biasanya. Tegak persis batang pohon yang tak tergoyahkan oleh angin kencang.

Anantaboga lalu mencium kening Sawitri sambil berkata, “Sawitri, cucuku yang manis, ikhlaskan suamimu dan belajarlah tentang takdir.”

“Bagaimana kalau Eyang Anantaoga belajar hidup menggelandang seperti saya?”

Anantaboga tak menjawab ucapan Sawitri, lalu ngeloyor pergi, lenyap ditelan pepohonan besar dan lebatnya rimba-raya. Sambil duduk bersimpuh di depan Batara Yamadipati yang tetap erat memanggul jenazah Setiawan, Sawitri berkata dengan santun.

“Duh, Eyang yang berkuasa atas nyawa manusia. Mohon maaf, telah ratusan hari hamba tempuh mengikuti langkah paduka. Hamba ulangi lagi permohonan hamba untuk kesekian kalinya yang mendesak untuk minta dikabulkan, hamba mohon paduka menghidupkan kembali Setiawan, suami tercinta hamba. Dan izinkan kami dan keturunan kami untuk menikmasi kebahagiaan rumah tangga sampai cucu-cicit-canggah-wareng. Sampai kami dan keturunan kami dijauhkan dari siksa neraka dan kesengsaraan hidup, yang akhirnya di surga rumah kami yang sebenarnya.”

Sesaat kemudian, tak dinyana Batara Yamadipati pelan menurunkan jenazah Setiawan dari pundaknya. Ksatria itu lalu tegak berdiri, sesaat kemudian berjalan ke arah Sawitri yang kelihatan terheran-heran. Begitu sadar, Sawitri berlari dan menghambur ke pelukan suaminya yang menyambutnya dengan mesranya, erap mendekap dan pecah tangis putri yang gigih itu. 

***

Republika, 20 Desember 1998

6/21/2008

Nistagmus

~Danarto~

Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Istri saya memberi tahu, banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Istri saya belum menemui mereka. Anak-anak yang bersiap ke sekolah, setelah sarapan, menjenguk lewat jendela. Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Saya rasa kali ini juga begitu. Karena istri saya gelisah, saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit, saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah, mengular sampai jalanan. Ada apa?

Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Selama ini saya memang dekat dengan para tetangga. Sering saya diajak ngobrol tentang berbagai masalah yang dihadapi para tetangga. Di samping para tetangga, juga kenalan-kenalan jauh yang datang dengan kendaraan khusus. Kadang datang berbondong. Tamu pun bisa mencapai sepuluh sampai lima belas orang sehingga rumah jadi regeng, ramai. Kami ngobrol sekitar persoalan yang menyangkut rumah tangga dengan segala nuansanya. Juga tentang hubungan suami istri, menantu dengan mertua, bawahan dengan atasan, persoalan anak dengan orangtuanya, juga masalah percintaan antaranak-anak remaja.

Jika ditanya, saya menjawab sekenanya, sekadar yang saya tahu. Saya tak pernah mengutip kata-kata bijak dari para cendekiawan. Masalah-masalah itu menjadi obrolan yang berkepanjangan. Sungguh menghabiskan waktu. Tapi asyik juga karena hidup di dusun yang sepi sekali-kali perlu mengadakan pertemuan supaya merasakan kemeriahan.

Kadang-kadang saya juga diundang camat, bupati, maupun wali kota, diajak berbincang mengenai berbagai hal yang pelik, yang sama sekali tidak saya ketahui. Misalnya, soal usaha tambak udang, perbankan, perburuhan, pengairan sawah, bibit tanaman, dan banyak lagi sejumlah persoalan yang lagi hangat atau panas di masyarakat yang sebenarnya membuat saya tidak nyaman.

Rasanya camat, bupati, dan wali kota, tidak benar-benar membutuhkan saya. Rasa saya mereka sekadar butuh teman ngobrol. Setelah dua jam pembicaraan ke sana-kemari, lalu kami pindah tempat duduk dan lebih santai sambil ngopi. Dan pembicaraan beralih ke olahraga, misalnya, juga tayangan televisi. Selama pertemuan-pertemuan dengan para tetangga, teman-teman, ataupun dengan para pembesar itu sebenarnya saya banyak diam. Untuk sikap saya itu, saya dijuluki “pendengar yang baik”.

Selama ini saya dikenal sebagai penulis obituari (berita tentang kematian seseorang berikut riwayat hidupnya) di surat kabar setempat. Sebagai penulis lepas, mula-mula saya menulis obituari hanya sambil lalu. Karena kematian seorang teman baik yang menjadi tetangga dekat, menyadarkan saya, mengenang lewat tulisan obituari itu mengesankan. Lama-lama saya menulis obituari menjadi semacam panggilan. Cukup menyenangkan. Orang-orang kebanyakan yang mungkin pernah lalu-lalang di depan rumah saya, di sebuah desa yang lengang, yang beberapa hari kemudian dikabarkan meninggal, lalu saya cari alamatnya. Saya interviu keluarganya. Saya catat riwayat hidupnya, pekerjaan terakhirnya, dan berapa orang saudaranya. Obituari yang meliputi orang-orang biasa itu bisa saudara, keluarga, teman, sampai kenalan baru.

Saya bisa memanfaatkan rubrik khusus obituari setiap saat atas kebaikan redaksi koran lokal yang memberi saya kebebasan. Dengan enak saya bisa menulis obituari setiap hari. Pernah kejadian dalam seminggu sepuluh orang. Selama ini tulisan obituari saya sudah mencapai 5.000 orang. Seluruhnya orang- orang biasa, lewat mesin ketik manual yang kemudian berubah ke mesin ketik komputer. Saya menolak ketika diminta menulis obituari orang-orang ternama. Alasan saya, orang-orang terkenal itu sudah banyak penulisnya, sedangkan untuk orang-orang biasa, agaknya hanya saya seorang.

Tulisan obituari itu tidak panjang, sekitar 5.000 karakter. Kadang sampai 8.000 karakter jika orangnya kocak atau punya pekerjaan yang unik. Misalnya, ada seorang tukang becak yang menyerahkan becaknya kepada seorang kepala tibum (penertiban umum) dengan tujuan supaya becaknya dijual untuk mengongkosi sekolah anaknya. Si kepala tibum menolak dengan mengembalikan becaknya sambil mengirim beras 5 kilogram kepada si tukang becak. Ketika beberapa waktu kemudian tukang becak itu meninggal karena faktor usia, saya menulis obituarinya dengan memasukkan wawancara kepala tibum itu.

Ada seorang pegawai negeri yang tidak mau dipensiun karena uang pensiunnya kecil, sementara beban keluarganya besar. Kepala kantor orang itu kebingungan, lalu mencari akal agar bawahannya itu sadar. Masa pensiun pasti datang, sebagaimana kematian itu pasti tiba. Lalu si kepala kantor meminta jasa seorang tukang sulap yang pandai menghipnotis orang. Begitulah. Bawahannya itu lalu dihipnotis hingga tertidur di mejanya. Lalu ia dinaikkan ke dalam mobil, dibawa pulang ke rumahnya. Begitu siuman, ia kaget, kenapa tidur di rumah. Keluarganya memberi tahu, ia seharian di rumah saja, tidak ke mana-mana.

Sejauh ini saya tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu, apa ada yang tertarik membaca obituari saya. Saya yang terus beredar di banyak keluarga yang kematian saudaranya, menyebabkan banyak orang mengenal saya. Barangkali mereka juga membaca obituarinya. Dipasang pula fotonya yang bisa menyebabkan keluarganya tertambat kenangannya.

Lelucon-lelucon pun menyebar dengan semarak di pasar, kompleks pertokoan, ataupun di stasiun bus, yang berkenaan dengan tulisan obituari itu. Banyak komentar. Banyak usulan. Yang jail maupun pelesetan. Dan sebagainya.

“Kenapa kamu tidak lekas mati supaya Pak Jurnalis bisa menulismu sekarang!”

“Biar kamu mati, tak ada yang menulis, meski kamu membayar Pak Jurnalis!”

“Kamu tidak akan mati, sampai kamu menulis riwayatmu sendiri!”

Saya terbahak mendengar lelucon-lelucon itu. Itu semua menyebabkan saya akrab dengan semua orang. Setiap saya lewat atau mampir membeli rokok di kios, selalu saja orang nyeletuk: “Pak Jurnalis. Saya nggak mau ditulis sekarang.” Atau ada yang berteriak: “Pak Jurnalis. Ntar saya yang menulis Bapak.”

Tapi, ada saja orang yang enggan bertemu atau lebih-lebih ngobrol dengan saya. Ada yang bilang, seseorang yang ngobrol dengan saya, ada yang mengartikan, saya sedang mewawancarainya. Sementara itu ada pula yang bilang, jika seseorang ngobrol dengan saya, itu tanda-tanda orang tersebut mau meninggal. Wah, ini bahaya. Memang ada seorang yang sehabis ngobrol dengan saya, ia meninggal. Tapi ini kebetulan saja. Dari kejadian itu, saya mendapat sebutan yang aneh-aneh, yang saya malas menuliskan sebutan-sebutan itu di sini. Maka ada saja orang yang anti-saya. Ini benar-benar klenik.

“Pak, tinggal di mana?” tanya saya kepada seseorang yang saya pinjami korek api untuk menyalakan rokok saya.

“Maaf, Pak Jurnalis. Saya tak bisa menjawab,” jawabnya.

“Lho, kenapa?”

“Maaf, Pak. Tidak kenapa-kenapa.”

“Baiklah, Pak.”

“Saya permisi, Pak.”

“Jangan ditinggal korek apinya ini.”

“Biar untuk Bapak saja.”

“Lho, kenapa?”

“Maaf, Pak. Tidak kenapa-kenapa.”

Inilah sepenggal dialog di pasar sepeda motor dengan seseorang yang enggan bertegur sapa dengan saya karena keyakinan-keyakinan klenik itu. Keterlaluan.

Jadinya lama-kelamaan saya enggan menyapa orang. Saya jadi pendiam dan menyendiri. Di pertemuan-pertemuan desa, saya juga diam dan menyendiri supaya orang nyaman dengan saya. Ketika orang menanyakan pendapat saya, sedikit saja saya ngomong. Lalu malah terjadi serba-salah. Banyak ngomong dianggap meramal, sedikit ngomong dianggap mengetahui peristiwa yang bakal terjadi. Ketika di sebuah toko saya menghindar supaya tidak bertemu dengan seseorang, orang tersebut malah mengejar saya sambil menyapa: “Bapak menghindar dari saya. Apa yang akan terjadi dengan saya, Pak?”

Istri dan anak-anak saya juga merasakan perubahan itu. Ada yang berubah dengan tingkah-laku saya, katanya. Apa ada gejala sesuatu? Tentu saja saya merasa tidak berubah dengan tingkah-laku saya. Saya juga tidak tahu adanya gejala sesuatu. Memangnya saya cenayang. Anak-anak saya, lima orang, terutama si sulung yang duduk di SMA kelas 2, dan si bungsu di SD kelas 5, yang paling kritis. Keduanya cencala (lancang mulut) terhadap sikap saya dalam menulis obituari. Kritiknya tidak berdasar. Menurut mereka, tulisan saya tidak adil terhadap seseorang dan berlebihan bagi yang lain. Jika sampai di sini hal itu masih baik. Tetapi jika sudah menyangkut masalah dosa dan pahala, wah, anak-anak ini sok tahu. Seolah-olah anak-anak ini cukup rajin membaca buku-buku agama. Pernah saya menyergah anak-anak saya itu:

“Dari mana kalian tahu, sebuah tulisan berdosa dan tulisan yang lain berpahala?”

“Dari Ayah,” jawab anak-anak itu.

“Kalian ngawur.”

“Ayah marah kena keritik.”

“Karena keritik kalian membawa-bawa dosa dan pahala.”

“Boleh saja, kan.”

“Tidak bisa seenaknya begitu.”

“Semua orang bicara dosa dan pahala.”

“Dalam hubungan apa orang bicara seperti itu.”

“Semuanya.”

“Nah, kalian ngawur.”

“Begini. Ayah pernah menulis obituari. Boleh jadi Allah sudah membuatkan rumah baginya di surga. Nah, ini dosa, karena Ayah memaksa Allah membuatkan rumah baginya di surga.”

“Itu harapan saya. Itu doa saya. Itulah usaha sebaik-baiknya seorang penulis obituari,” jawab saya.

“Ayah juga pernah menulis obituari seorang pengusaha. Ia meninggalkan seorang istri dengan empat orang anak. Nah, ini pahala bagi Ayah karena Ayah menyembunyikan tiga istrinya dan anak-anaknya yang lain.”

“Nah, itu justru kesalahan saya dan saya bisa berdosa karena tidak menulis tiga istri dan anak-anaknya yang lain. Hal itu berarti saya tidak menganggap ada dan penting keberadaan mereka. Mereka bisa tersinggung dan bukan tidak mungkin merasa saya lecehkan.”

Mendengar keterangan saya, anak-anak saya itu diam. Saya sering lelah berdebat dengan anak- anak saya tersebut. Mereka suka ngotot dan merasa selalu benar. Padahal saya selalu bilang, kekuatan itu ada batasnya sehingga kita tidak selalu benar. Sebagai ayah, saya mendidik anak-anak saya itu dengan keras. Barangkali karena beban keluarga yang terlalu berat. Lima anak semuanya sekolah, sedang rakus-rakusnya makan, itu semua yang menyebabkan saya sering stres dan mengalami depresi yang tajam.

Kami sebenarnya keluarga bahagia. Penghasilan saya tentu saja jauh dari cukup. Istri saya guru SMP, sedangkan saya sejak remaja penulis lepas, yang untuk makan sehari-harinya saja suka empot-empotan. Saya menulis apa saja, termasuk menulis berita. Di Jogja itulah sejarah saya bermula ketika saya kecantol putri Aceh yang kuliah di UGM. Kami menikah dan pindah ke Aceh dengan gagah berani karena cuma berbekal baju yang kami pakai. Anak-anak mewarisi sifat-sifat ibunya, cerdas dan berani.

Subuh itu saya dikejutkan oleh suara-suara orang ramai di pekarangan. Istri saya memberi tahu, banyak sekali orang berkerumun di halaman depan rumah dan di jalanan. Istri saya belum menemui mereka. Anak-anak yang bersiap ke sekolah, setelah sarapan, menjenguk lewat jendela. Saya acuh tak acuh. Sudah sering datang orang, satu dua, untuk mengajak ngobrol pelbagai masalah. Saya rasa kali ini juga begitu. Karena istri saya gelisah, saya penasaran mendengar dengung orang-orang gremeneng semakin ramai. Dengan menyingkap kain gorden jendela sedikit, saya melihat orang-orang berderet-deret seperti ngantre minyak tanah, mengular sampai jalanan. Ada apa?

Setelah sarapan, dengan malas saya keluar rumah dan duduk di beranda. Barangkali seperti agen minyak tanah yang siap menyambut para pembeli, saya menyiapkan kertas dan alat tulis. Hari baru membuka matanya. Bahkan matahari masih bergelut dengan kasurnya. Jam baru menunjukkan pukul 05.00. Orang-orang yang antre tidak sabar seperti mendengar aum macan, merangsek ke depan meja saya. Orang sekian banyak mau ngajak ngobrol apa? Tentang kesulitan hidup? Beras habis dan anak-anak menangis kelaparan? Orang sebanyak ini mau ngobrol sekaligus?

Mata mereka nanar. Gerakan bola mata yang cepat tanpa disengaja, di luar kemauan, nistagmus, mereka menatap kebenaran, mencecap pencerahan. Alhamdulillah. Mereka berebut duluan menyerahkan selembar kertas di atas meja sehingga sekejap bertumpuk, berserak, lalu semuanya bergegas pergi meninggalkan saya tanpa sepatah kata diucapkan. Lembaran-lembaran apakah ini? Ternyata riwayat hidup dengan tanggal lahir dan masya Allah…tanggal akhir hayat, Ahad, 26 Desember 2004.

Ketika saya menuruni bukit dengan sempoyongan penuh lumpur, entah bagaimana saya bisa sampai di bukit ini, terlihat pemandangan yang menyebabkan saya pingsan. Entah berapa lama saya pingsan. Waktu saya siuman, seluruh kota telah hancur-lebur rata dengan tanah. Mayat-mayat berkaparan di seluruh kawasan. Mayat-mayat itu lebih mengesankan sedang tidur pulas. Seluruh mayat itu, laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, bayi, diselimuti lumpur, berserakan memenuhi ruang dan udara, di reruntuhan rumah, di pekarangan, di kebun, di jalan, di atas pohon. Tak ada tanda-tanda kehidupan secuil pun. Bahkan burung-burung, tak seekor pun tampak terbang. Saya tak tahu lagi di mana rumah saya.

Cuaca cerah. Sinar matahari memancar, panas. Awan putih berarak dengan latar langit biru meneduhkan. Saya berdiri sendirian di samping sebuah kapal yang terdampar di tengah kota.

Tangerang, 20 Januari 2005.

5/17/2008

Bengawan Solo

~Danarto~

Badan saya masih meriang ketika polisi itu datang. Semalam, saya berkelahi melawan Pak Darkin memperebutkan Nining dan saya kena swing kepalan kirinya. Saya terjerembab tak sadarkan diri. Anak-anak mengangkat tubuh saya ke atas dipan. Ada yang sibuk mencarikan minuman panas. Ada yang mau memanggil dokter. Ada yang memijit. Malam itu, karena peristiwa itu, penghuni Rumah Kita jadi rame sekali. Rupanya ada yang lapor polisi tentang perkelahian itu. Polisi itu kembali ke pos ketika saya katakan bahwa kejadian semalam perkelahian biasa, tidak penting untuk dipersoalkan. Tapi, apa pun yang terjadi, kami, penghuni Rumah Kita dengan para pedagang di Pasar Kliwon, telah kehilangan Nining yang digelandang Pak Darkin secara paksa kembali ke rumahnya. Nining, gadis kecil hitam manis tujuh tahun, memang milik Pak Darkin, meski hanya sebagai ayah tirinya.

Nining sering ditempeleng ketika marah Pak Darkin kumat. Ibunya, yang selalu membela putri kandungnya itu, sering tubuhnya dilempar sampai membentur dinding. Untung dinding rumahnya dari anyaman bambu sehingga cukup lentur. Pada suatu malam, dengan tersengal-sengal Nining menghambur ke perkumpulan Rumah Kita untuk bersembunyi. Kami menyambutnya dengan sukacita. Di dalam gerombolan kami itulah, Nining merasa aman dan nyaman.

Di sepetak ruang yang merebut ruang milik pasar itulah, saya hidup. Sehari-harinya saya pura-pura berbenah dengan perabotan dari potongan-potongan sisa-sisa kayu yang berserakan di mana-mana. Saya ditemani kompor minyak tanah, teko, panci, gelas, piring, sendok garpu, ember, dan di atas dipan dengan tikar plastik itulah saya bisa beristirahat dengan nyenyak.

Kemudian satu-dua anak datang dan pergi, mereka belajar apa saja, juga memasak, rame-rame makan, dan tidur. Akhirnya Rumah Kita resmi menjadi tempat mangkal anak-anak gelandangan, pengamen, pengemis, pemulung, anak baik-baik yang tidak betah di rumah karena berbagai alasan. Saya sebagai tukang sapu bagian kebersihan pasar merasa dituakan lalu mengatur mereka dengan marah-marah, lelah, dan sedih, sejak tahun 1997.

Sebagai tukang sapu pasar, saya tak punya kebisaan apa-apa untuk mengajar anak-anak itu. Untung, beberapa guru dan mahasiswa datang secara sukarela mengajar anak-anak itu menulis, menyanyi, membaca, dan bercocok tanam. Setiap minggu, anak-anak diminta membaca puisi karangannya sendiri, juga cerpen, esai, dan menyanyikan lagu yang ditulisnya sendiri. Ketika anak-anak dibawa ke kebun untuk belajar bercocok taman itulah, Pak Darkin memergoki Nining ada di antara anak-anak itu dan mencengkeram tangannya dan menggelandangnya. Serta-merta saya menubruk tubuh Pak Darkin dan kami bergumul, tindih-menindih. Saya yang boleh dikata tak pernah berkelahi begitu saja terkapar. Sayup-sayup terdengar orang-orang sibuk menolong saya.

Gaji saya yang tak seberapa harus cukup cekatan dalam berkelit menghidupi anak-anak itu. Sekitar 15 anak setiap hari paling tidak makan dua kali. Setiap habis gajian, tak ada sisa sama sekali, bahkan digayuti utang di sejumlah warung. Syukurlah ada anak yang bisa menyumbang dari pendapatannya mengamen atau memulung. Tapi, yang sangat membantu adalah sumbangan para pedagang pasar. Pedagang beras menyumbang beras. Pedagang sayur menyumbang sayur. Pedagang ikan menyumbang ikan. Bumbu-bumbu dapur rasanya tak pernah kehabisan.

Di malam yang sunyi ketika anak-anak sudah tidur, tiba-tiba datang beberapa orang memanggul beberapa karung beras yang diperuntukkan Rumah Kita. Orang-orang itu menaruhkan begitu saja karung-karung itu tanpa ada sepatah pun kata pengantar. Ternyata tidak hanya beras, juga minyak goreng beberapa botol, telor beberapa kilo, gula, kopi, teh, beberapa ekor daging ayam segar. Tak ketinggalan banyak sekali kain sarung, kaus oblong, dan peralatan mandi. Saya tidak tahu dari mana semua sumbangan itu.

Pagi harinya semua sumbangan itu dibagi rata untuk anak-anak. Saya sempat kebagian sarung dan kaus oblong. Anak-anak bertanya dari siapa semua sedekah itu. Hari itu kami masak rame-rame dengan mengundang siapa saja yang mau makan bersama kami. Anak-anak pengamen memeriahkan pesta hari itu dengan mementil gitar dan menyanyi. Aduh, meriahnya. Aduh, bahagianya. Sayang sekali, Nining tidak bersama kami. Tapi, kami sisihkan sarung dan kaus oblong untuknya. Satu saat kami harus merebutnya kembali atau kami akan bersedih sepanjang masa.

Malam yang tenteram tidak selamanya dapat dipertahankan. Saya bangun tersentak tak bisa bernapas karena dicekik Pak Darkin yang bisa mulus menyelinap ke gerombolan kami. Ia meradang.

”Kamu sembunyikan Nining di mana!”

Saya tak bisa menjawab. Bernapas saja sangat sulit. Pak Darkin paham lalu mengendorkan cekikannya.

”Saya tidak tahu,” jawab saya.

”Mau kamu saya bikin modar!”

”Sungguh mati saya tak tahu di mana Nining.”

”Bohong!”

”Kalau memang Nining hilang, saya bisa membantu mencarinya.”

”Sontoloyo!”

Saya terbatuk-batuk. Saya diseretnya keluar. Saya heran, tak seorang pun anak yang terbangun. Saya digelandang terus. Sesampai di jalan raya, saya dinaikkan ke becak. Pak Darkin duduk di samping sambil terus nyerocos yang tak jelas. Rupanya saya dibawa ke sebuah pekuburan yang gelap gulita. Dua orang yang sigap membekuk tubuh saya, membanting dan membalut dengan kain kafan.

”Kamu harus sumpah pocong!” geram Pak Darkin lalu pergi bersama kedua kawannya.

Saya tak bisa bergerak, ketat sekali balutannya, membujur kaku bagai jenazah.

Tiba-tiba:

”Pak Totok,” suara seorang gadis membisik, ”Saya Nining.”

”Mengapa kamu di sini?” sergah saya.

”Saya menunggu Bapak,” jawabnya sambil melepaskan belitan kain kafan dari tubuh saya.

”Dari mana kamu tahu saya di sini?”

”Kiai Kintir baru saja mengantar saya kemari.”

”Sekarang beliau di mana?”

”Sedang bersiap-siap hanyut di Bengawan Solo.”

”Wah, gawat!”

Maka kami berdua bergegas ke Jurug tempat Kiai Kintir biasa memulai kegiatannya menghanyutkan tubuhnya. Kiai Kintir alias Kiai Hanyut adalah kiai—tak seorang pun tahu nama aslinya—yang punya kebiasaan menghanyutkan tubuhnya di Bengawan Solo. Itulah jalan spiritualnya.

Sejumlah warga Solo ada yang mengolok-oloknya sebagai Kiai Kenthir alias Kiai Sinting. Beliau tidak peduli atas cemoohan itu karena hidup beliau sehari-harinya sangat serius. Bahkan yang melecehkannya dikiriminya segepok uang yang dicomotnya dari udara. Maka semakin bertambah banyak orang-orang yang meledeknya dengan pamrih Kiai itu mengiriminya duit. Saya sendiri pernah melihat beliau mencomot uang dari udara dan diberikannya kepada saya. Beliau pernah menyitir sabda Kanjeng Rasul Muhammad SAW bahwa seandainya kalian tahu apa yang terjadi di dunia ini, kalian akan menangis terus-menerus sepanjang hidup kalian.

Sepanjang hayat Kiai Kintir mengasingkan diri. Tidak bergaul, tidak menerima santri, tidak mengajar, tidak mau diwawancara, tidak mau diundang makan. Pokoknya serba tidak. Saya sadar, semua kiriman beras dan kebutuhan dapur yang mendorong kami bisa berpesta itu, merupakan sumbangan Kiai Kintir. Beliau selalu bisa membahagiakan orang, sedang untuk dirinya sendiri, beliau tidak berniat sedikit pun. Cerita lainnya adalah, pernah sejumlah wartawan elektronik diam-diam mengambil gambarnya. Ternyata wajah beliau tidak terekam, yang muncul hanya gelap gulita. Jika beliau mulai menghanyutkan diri di Bengawan Solo, itu pertanda di Solo akan terjadi sesuatu.

Sejak dini hari, ratusan orang dengan obor memenuhi kedua sisi bantaran Bengawan Solo menyaksikan tubuh Kiai Kintir yang telentang mengambang di sungai, hanyut dibawa arus. Orang-orang terus bergerak mengikuti tubuh beliau yang dibalut pakaian, diam mengambang hanyut seperti mayat. Saya dan Nining harus waspada supaya tidak kepergok Pak Darkin yang barangkali saja ikut nonton. Sampai fajar merekah, rasanya orang-orang yang menyaksikan tontonan aneh ini bertambah banyak. Tak ada seorang pun yang berucap. Semuanya diam. Jika satu orang pun yang berbicara memberi komentar, bisa-bisa Kiai Kintir tenggelam, begitulah kepercayaan yang menyebar yang boleh jadi cuma dibikin-bikin oleh orang-orang yang suka mengolok-olok. Dari jauh, Kiai Kintir cukup meyakinkan sebagai perenang yang kebanyakan mampu diam telentang mengambang.

Hari belum panas benar ketika air Bengawan Solo mulai naik. Tak terdengar geledek. Tak terjadi gerimis. Cuaca cerah dengan langit biru seperti undangan untuk keluar rumah menikmati keramaian kota. Ratusan orang-orang yang berada di seberang menyeberang Bengawan Solo merasakan air bengawan mulai mencium lutut. Tampak tubuh Kiai Kintir telentang tenang hanyut semakin menjauh dari pendangan kami. Satu-dua orang penonton terseret ke tengah bengawan. Puluhan orang lainnya berlarian menyingkir dari bantaran sungai. Saya tarik Nining untuk menghindar dari bantaran bersama puluhan orang yang kacau berlarian. Sesampai di jalan raya, banjir sudah melahap seluruh kota Solo. Mobil, motor, andong, becak ditinggalkan pemiliknya. Sejauh mata memandang, cuma air yang berkilau-kilau yang tampak dengan orag-orang yang kebingungan menyelamatkan diri.

Tangerang, 17 Maret 2008

Banjir di Pasar Kliwon, Solo Baru, Semanggi, Joyontakan.

2/09/2008

Lauk Dari Langit

~Danarto~

Hari masih pagi ketika gadis kecil itu berjingkrak-jingkrak ke sana ke mari sambil berteriak-teriak, “Hujan ikan! Hujan Ikan!” Kepalanya menengadah menatap angkasa mencari tahu apakah ada lubang menganga nun di atas sana dari mana ikan-ikan melayang beramai-ramai terjun ke bumi. Gadis kecil itu juga berlari mengitari gubuk tempat tinggalnya dengan teriakan tak berkeputusan, “Hujan ikan! Hujan ikan!”

Ayah dan ibunya, juga dua kakaknya muncul dari dalam gubuk sambil menatap ke udara. Sesaat ratusan ekor ikan menghujani keluarga itu. Dengan mulut menganga, beruntun ucapan “masya Allah”, tak disadari keajaiban sedang berlangsung di kediaman mereka.

“Hujan ikan! Hujan ikan!” teriakan gadis kecil itu terus-menerus penuh kegembiraan.

Keluarga itu lalu memunguti dengan cekatan ratusan ekor ikan yang berserakan di rerumputan pelataran, kebun, dan atap gubuk mereka. “Subhanallah,” berulang-ulang terlantun dari mulut mereka. Apa yang sedang terjadi dengan langit? Mengapa hujan ikan seolah-olah disajikan kepada mereka? Hujan ikan sesaat yang meluncurkan ratusan ekor ikan dari langit, apakah ini berkah? Apakah ini bencana? Mereka mencoba memahami kehendak Tuhan yang tak terduga, seperti halnya memahami hidup mereka sendiri yang serba jauh dari pengandaian.

Kelihatan keluarga ini tak biasa berandai-andai. Hidup sehari-hari keluarga yang berkebun sayuran ini penuh kepastian. Kerja keras dan bersyukur kepada Tuhan. Sebuah keluarga dengan tiga anak, dua lelaki, satu perempuan, tahu apa yang harus dilakukan. Hidup terpencil di sebuah bukit, mereka tampak bebas menggarap lahan yang ada hampir-tak berbatas. Bayam, kangkung, kul, singkong, kacang panjang, cabai, sudah bertahun-tahun menghidupi keluarga ini sejak pengantin baru.

Merasa tak bisa hidup di kota, suami istri itu memilih menetap di sebuah bukit. Dengan tetangga yang berjauhan, keduanya merasakan kebebasan. Bukit yang tanpa tuan, keduanya serta-merta — sebagaimana para tetangganya — menjadi pemilik sepenggal lahan kebun yang dipilihnya secara bebas. Tangan-tangan Pemda boleh jadi tidak memadai jumlahnya untuk bisa mengurusi lahan perkebunan atau pertanian di daerah perbukitan itu, mengingat luasnya tanah dan sedikitnya minat penduduk untuk tinggal di situ sehingga terkesan siapa pun boleh mengolah tanah itu seberapa pun maunya. Mau menanam apa saja, tak ada yang melarang, tak ada juga yang mengizinkan. Sampai akhirnya keduanya beranak-pinak. Mereka berbahagia.

Sebagaimana para tetangganya, setiap saat keluarga itu dapat memperluas lahannya dengan leluasa. Disamping sayur-mayur, keluarga itu mencoba menanam kembang. Di antaranya anggrek. Namun sejauh ini belum dapat diukur keberhasilan usaha kebun anggrek itu. Sedang sayur-mayur yang menjadi kebutuhan sehari-hari, keluarga itu menjualnya kepada pedagang yang mengambilnya dan memasarkannya di kota. Dari sini keluarga itu hidup cukup memadai.

Jarak yang cukup jauh dari kota menyebabkan para penghuni perbukitan itu cukup sulit menyekolahkan anak-anaknya. Si bungsu, gadis kecil itu, sekitar enam tahun usianya, yang suka berjingkrak-jingkrak, hidup menyatu dengan kangkung, bayam, kacang panjang, burung, tikus, dan kijang. Gadis kecil itu sering ngobrol dengan burung maupun tikus yang berseliweran di sekitar kebun itu. Pada suatu hari, dia melihat kijang di kejauhan dan memanggilnya. Kijang itu nampak bengong, heran, ada seorang gadis kecil yang barangkali terlalu berani memanggil binatang yang punya tanduk itu. Kenapa tidak?

Satu saat, keluarga itu kedatangan tamu. Dari kota, tamu itu mencatat jumlah orang di keluarga itu. Hanya begitu saja. Petugas itu tak menanyakan soal lain, misalnya soal surat izin tinggal dan menggarap lahan. Barangkali saja, petugas itu tidak mau repot untuk menanyai ini dan itu, sementara pekerjaan di kantor sudah cukup melelahkan. Kemurnian hati para petugas kota dan keluarga itu agaknya terjalin baik sehingga urusan kartu keluarga dan tetek-bengek lainnya tidak perlu harus menguras keringat dan lain sebagainya.

Dari atas bukit itu, pemandangan kota tampak tergelar dengan jelas. Kesibukan kota dengan lalu-lalang lalu-lintasnya merupakan pemandangan yang menarik untuk mendorong siapa pun bekerja keras. Di malam hari, pemandangan kota lain lagi daya pikatnya. Lampu-lampu rumah, toko, jalan raya, dan lampu-lampu kendaraan yang susul-menyusul di malam gelap memberi suasana kehidupan yang lain dari kehidupan senyatanya. Di malam hari, kota tak perlu nama. Di malam hari, kota mencipta dunia yang tak dikenal manusia. Mengaduk rasa ramai di hati dan rasa tentaram di perasaan.

Sarapan kali ini mencatat hujan ikan disajikan di meja makan. Setelah sujud syukur berjamaah, keluarga itu mengitari meja makan. Meja makan dari anyaman bambu yang dibuat sendiri, merekam suara reyot, kri-et… kri-et… setiap meja makan itu disentuh atau pun ditindih. Makan pagi keluarga itu menikmati lauk-pauk ikan yang berlimpah. Belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, lauk hanya terdiri dari ikan asin dan sambal terasi di antara sayuran yang direbus dengan garam.

Sebelum makan, mereka berdoa. Mereka makan ikan yang dibakar sebanyak yang mereka suka. Anak-anak sangat menikmati. Mereka bertiga terus menambah ikannya. Di antara bunyi kecap bibirnya dan pergulatan lidahnya dengan ikannya, ketiga anak itu juga asyik ngobrol, hal yang sebelumnya tidak dibolehkan ayah dan ibunya. Ngobrol waktu makan hanya akan menjauhkan berkah Allah, kata ayah dan ibunya. Doanya tidak dikabulkan Allah. Makan sebagai berkah dari Allah harus dinikmati dengan benar. Pagi itu mereka lupa semuanya tentang hal itu. Si bungsu gadis kecil itu terus bercerita bagaimana dia tertimpa ikan-ikan yang terjun dari angkasa. Seekor di antaranya berhasil dia tangkap dengan jari-jemarinya yang kecil. Ikan itu menggelepar ingin lepas. Puluhan ekor menggelepar di rerumputan. Sejumlah lainnya meloncat dari atap gubuk.

Namun, tidak demikian dengan ayah dan ibunya. Kedua orangtua itu menikmati makannya dengan tercenung. Diam. Berkelindan dengan tanda tanya. Peristiwa pagi itu seperti memburu keduanya. Mau lari kemana pun akan terus diuber. Berondongan tanda tanya menyergap ke benaknya. Kedua orangtua itu terbenam di antara bunyi kunyahan ikannya.

“Apa yang dimaksud Allah dengan hujan ikan ini?” kata sang suami di dalam hati.

“Apa yang dimaksud Allah dengan hujan ikan ini, tidak perlu kita ketahui,” kata istrinya di dalam hati juga.

“Mengapa tidak boleh kita ketahui?” kata suami di dalam hati.

“Berkahnya akan berkurang,” kata si istri di dalam ahti.

“Mengapa berkahnya berkurang?”

“Karena kita ingin mengetahui suatu rahasia, padahal bersyukur lebih baik.”

“Saya tidak mengerti.”

“Makanya lebih baik diam.”

Percakapan di dalam hati itu kebetulan bisa bersambung. Suami itu tetap diam sambil mengunyah. Istrinya tetap diam juga sambil mengunyah. Terdengar bunyi kunyahan. Gigi-gigi yang menggerus makanan. Leher turun naik seperti mengirim barang dari atas ke bawah. Berapa ekor ikan yang habis dilahap, keduanya tentu tidak menghitungnya. Suami istri itu mencoba untuk berbicara tetapi ragu-ragu. Barangkali apa yang mau dikatakannya penting tapi desakan untuk tidak melakukannya juga keras. Sampai selesai makan keduanya diam untuk sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.

Banyak tanda-tanda Allah yang tidak perlu diketahui maknanya. Banyak pertimbangan untuk diam dari banyak gejala bagaimana pun musykilnya. Barangkali Tuhan lebih suka begitu. Atau kita sedang mengatasnamakan Tuhan? Bagaimana mungkin kita berani? Kita hanya pura-pura berani, Tuhan tahu itu. Atau kita menyikapi setiap gejala sebagai pahala dan bencana? Sebagai pahala karena kita suka. Sebagai bencana karena kesukaan kita menimbulkan kesedihan bagi yang lain.

~Danarto~

Ikan-ikan yang dikumpulkan pagi itu menggunung di dalam gubuk mereka. Berkah itu memusingkan mereka karena ikan-ikan itu tidak boleh busuk. Harus secepatnya digarami. Dari mana bisa didapat garam secepatnya? Keluarga itu tidak punya uang untuk memborong garam. Yang ada hanya sekadar garam persediaan untuk memasak. Ketika kelelahan mengumpulkan ratusan ekor ikan itu memporot tenaga mereka, keluarga itu hanya terduduk diam. Ayah, ibu, dan ketiga anaknya bagai patung yang dipajang di depan buat menyambut tamu yang datang. Tetapi ternyata tidak ada tamu yang datang. Yang bertamu hanya rasa bingung.

Tiba-tiba muncul suatu pikiran di benak sang suami. Ia menyat dari kursi bambunya seperti tersentak oleh berkah yang lain. Dengan cekatan ia merangkai ikan-ikan itu satu-persatu ditusuk dengan tali bambu. Dengan tongkat bambu yang dipanggul cukup banyak ikan yang bisa dibawa. Ia dapat menjual ikan-ikan itu di pasar atau menukarnya dengan garam. Ia berangkat dengan bocah sulungnya. Dengan penuh kegembiraan ayah dan anak itu meninggalkan gubuknya kali ini sebagai penjual ikan. Istri dan kedua anaknya yang tinggal, berdebar melihat kecekatan kerja sang suami dan ayah mereka. Si gadis kecil mau ikut tapi dilarang ibunya. Si kecil tentu tidak bisa berjalan cepat yang hanya akan memperlambat langkah.

Kaki yang kokoh, dada yang bidang, badan yang tegap, tangan yang cekatan, semuanya ini modal yang menjadikan sang suami sebagai kepala rumahtangga yang sigap bekerja. Kini ia dan anak sulungnya menuruni bukit pada jalan setapak yang diapit pohon dan rimbunan tanaman. Jalan setapak itu sehari-harinya licin. Namun kali ini lebih licin lagi, bahkan berlumpur.

Begitu sampai di bibir bukit dan menatap kota di depannya, sang ayah dan anaknya jatuh terduduk, kekuatannya dilolosi. Ikan yang dipanggulnya terserak di tanah. Keduanya meraung sejadi-jadinya: kota telah musnah, ribuan mayat bergelimpangan di mana-mana.

Tangerang, 14 Februari 2006

Harian Republika, 5 Maret 2006