Tampilkan postingan dengan label Yanusa Nugroho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yanusa Nugroho. Tampilkan semua postingan

12/25/2021

Wisanggeni

~Yanusa Nugroho~

UDARA naik. Uap tanah naik. Angin kering menggelasak hutan. Hutan terbakar. Rumput di lapangan hangus. Batang-batang tebu kian kering, tapi mungkin kian manis. Mandor-mandornya harus giat berkeliling. Banyak maling. Kebakaran di mana-mana, dan dari salah satu entah bangunan apa sebenarnya, yang terbakar hebat, orang-orang tercekat. Dari dalam gunung api yang menjilat-jilat langit pekat, terdengar tangis bayi mengoyak-ngoyak sepi.

“Anak siapakah dia? Tolong, ambil….” teriak seseorang. Tapi, tak seorang pun berani mengambil risiko memasuki gunung api yang tengah menikmati kemenangannya itu. Siapa menantang akan terpanggang. Polisi datang, hanya memandang. Pemadam kebakaran tiba terlambat dan wartawan hanya bisa bertanya-tanya. Semuanya mendapatkan jawaban apa saja yang diinginkan, tapi tak satu pun melakukan sesuatu atas tangisan bayi yang masih meraung-raung di tengah kobaran api itu.

Setiap kepala akhirnya hanya bisa menyaksikan si iblis merah itu dikalahkan oleh kepongahannya sendiri; tak ada yang terbakar, dia padam sendiri. Setiap kepala hanya bisa membayangkan, mereka-reka dan menerka cerita apa selanjutnya di bangunan besar yang kini tak berwujud apa-apa itu. Tak ada lagi api. Asap tebal putih memedihkan mata yang mengabuti semua pandangan. Hanya asap dan bau sangit. Ada orang yang muntah karena membayangkan ada mayat mengering hitam di entah sudut yang mana. Satu muntah, lalu beberapa juga ikut muntah, mungkin karena ada bau sangit yang sangat bercampur—ah, kau pun tahu—bau rambut dan tulang yang hangus. Ada yang pingsan membayangkan ada tengkorak yang pecah karena panasnya api.

Semua masih terpaku ketika dari kabut putih yang sangit itu ada seorang bocah—mungkin sekitar 7 tahun, menggendong bayi yang masih menangis terkoar-koar. “Siapa yang masih punya susu, tolong beri dia minum….” ujarnya dengan nada tinggi.

Semua manusia yang ada di situ hanya bisa diam. Yang pingsan tiba-tiba siuman. Peristiwa ini terlalu mencengangkan. Terlalu bertubi-tubi untuk bisa dimengerti.

Anak kecil itu dengan gerakan cepat, dengan kekuatan yang tak terbayangkan, merobek kaus seorang perempuan muda. Merobek kutangnya. Ada yang ranum di sana. Dia lalu menyodorkan bayi itu ke puting ranum itu.

Perempuan itu, yang semula mematung bingung, tiba-tiba merasakan kehadiran kehidupan yang luar biasa. Dia yang perawan ternyata bisa memberikan kehidupan bagi si bayi, yang langsung terdiam menikmati kehangatan dan cinta. Perempuan itu menangis bahagia. Dia menjelma bidadari surga, yang bukan hanya jelita, tapi juga agung, lantaran bisa memberi andil bagi kehidupan.

***

Wartawan televisi yang sejak tadi lupa mematikan kamera, seperti tersadar. Peristiwa anak kecil yang muncul dari hutan asap, perempuan yang setengah telanjang menyusui bayi, semuanya terekam. Ketika tersadar lalu mengejar si bocah yang berjalan tenang meninggalkan kerumunan.

Rombongan wartawan berlarian mengejarnya dengan lampu-lampu dan kamera. Si kecil tenang-tenang saja.

“Bagaimana perasaan adik?”

“Bahagia….” jawab si bocah yang bertelanjang dada itu. Sorot matanya berapi-api. “Kalau kamu, gimana perasaan kamu?” balasnya sambil cengengesan di depan kamera.

Tentu saja tak ada satu pun yang menjawab, karena rata-rata mereka hanya bisa bertanya.

“Maksud adik, bahagia itu, bagaimana?”

“Bahagia, ya, bahagia…. Mas-mas dan mbak-mbak nggak Bahagia, ya? Lihat itu… si bayi bisa nyusu. Dia bisa hidup, semoga nanti hidupnya bahagia. Apa itu bukan bahagia, namanya?”

Semua terbengong-bengong. Ini bukan anak manusia. Ini tentu anak dewa. Wajahnya yang berapi-api, sorot matanya yang berapi-api dan bahkan ucapannya memiliki nada yang menyulut perasaan, adalah alasan yang tepat untuk menyebutnya anak dewa.

“Saya punya pertanyaan. Ada yang bisa menjawab? Kalau bisa, berarti Anda orang cerdas.”

Sekali lagi para wartawan itu, yang rata-rata masih muda-muda itu, saling pandang.

“Mmm… mau tanya apa, adik?” tanya wartawan perempuan sambil tersenyum manis.

“Siapa namaku?” ucap si bocah tenang, sambil memandangi wajah-wajah yang seperti menahan senyum ketidaktahuan.

“Maksud adik, bagaimana?”

“Ya. Siapa namaku?”

“Kami disuruh menebak, atau bagaimana?”

“Saya tanya; siapa namaku. Saya butuh jawaban, bukan tebak-tebakan.”

Terdengar gelak tawa di antara para wartawan.

“Saya bukan pelawak, kenapa mas-mas dan mbak-mbak tertawa? Apa yang lucu dari pertanyaan saya? Kalau tidak tahu, ngomonglah tidak tahu. Nggak usah pura-pura tahu.”

Seperti disiram air es, mereka bungkam. Ini kurang ajar. Ini anak belagu, kutuk satu dua kepala.

“Maaf, dik… kita tanya baik-baik, kenapa adik marah?”

“Saya ulangi, siapa nama saya?”

“Mana kita tahu….”

“Nah, bilang dari tadi. Selesai.” Lalu anak kecil itu pergi begitu saja.

“Sebentar, sebentar, adik… kami… minta maaf…. Tapi kami ingin tanya-tanya, boleh, ya…. Adik ini dari mana?”

“Nggak tahu.”

“Kok bisa keluar dari gedung terbakar dalam keadaan sehat walafiat?” tanya yang lain.

“Nggak tahu….”

“Dan bayinya, kok juga bisa nggak terbakar?” tanya yang lain lagi.

“Jangan tanya saya. Saya cuma menggendongnya keluar.”

“Kok, adik bisa… apa rahasianya?”

“Jadi, yang kalian tahu itu apa? Masak semua harus saya jawab, kalian dong, cari jawaban sendiri….” jawab si bocah tak acuh. Tak ada yang berani tersinggung, karena sorot mata anak kecil itu seperti mengancam. Sorot mata itu seperti memiliki lidah api yang siap membakar siapa pun.

“Saya mau ngomong di televisi.” Kamerawan-kamerawan itu segera menyodorkan pelantang dan menghadapkan kamera ke wajah si bocah. “Saya mau tanya sama siapa saja yang menyaksikan. Adakah yang tahu, siapa nama saya. Siapa ayah ibu saya. Dari mana saya berasal?”

***

Siapa namaku, menjadi berita yang viral. Menyebar mirip virus. Mungkin lebih cepat daripada sebaran virus. Mungkin sama misteriusnya dengan virus. Tapi kebakaran terus terjadi. Perampokan dan perkelahian meledak di mana-mana. Di sosmed pertanyaan si bocah ‘siapa namaku’ menjadi tayangan yang disukai banyak orang. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah kebingungan si bocah, ternyata disukai oleh jutaan. Beratus juta manusia menyukai kebingungan. Begitu bingungnya menghadapi kebingungan itu, muncul video baru.

Video itu hasil shot dari kamera HP. Ada gadis cantik gayanya seperti artis. Kaus oblong pink. Celana pendek yang terlalu pendek. Sambil malu-malu menghadap kamera, dia yang berdiri di latar kain hijau, menjentikkan jarinya. Ada tabir yang juga hijau. Tertutup oleh hijau, si gadis ayu itu hilang dari pandangan. Sesaat kemudian semua pakaiannya, luar-dalam, terlihat terlempar dari balik tabir hijau. Lalu ada teks: “Hayo, tebak… aku pakai apa?” Lantas video ini pun viral. Lalu diikuti oleh jutaan penyuka. Lalu muncul lagi video yang lain lagi.

Tapi, si bocah yang keluar dari hutan asap dan gunung api, masih belum menemukan jawaban. Si bocah ‘tanpa nama’ itu setiap kali masih bertanya pada orang-orang yang dijumpainya ‘Siapa namaku?” yang kebanyakan menuai gelak tawa. Dan dari gelak tawa itu biasanya muncullah pengeroyokan, yang selalu dimenangkan oleh si bocah, si anak dewa, itu. Lama-lama banyak yang menyukai si bocah anak dewa itu, dan hanya dalam waktu singkat, dia punya pasukan yang merasa ‘senasib’ dengan si bocah.

“Aku lapar, boleh gabung, ya, bang,” kata seorang remaja pada si anak dewa. Anak kecil itu diam saja, tapi tak melarang siapa pun yang berniat menjadi bagian dari pencariannya. Kelompok ini membesar. Mereka butuh makan. Mereka selalu lapar. Di mata wali kota, ini kekacauan. Satpol PP tak bisa mengatasi manusia bingung. Maka polisi yang ditugasi.

Suatu kali, anak kecil itu ditangkap polisi, tentu saja tidak dengan kekerasan. Percuma saja melerai kebingungan dengan kekerasan. Mantan komandan polres, yang sudah pensiun, sebenarnya, didampingi Kanit Serse, akhirnya bisa membujuk si bocah.

“Saya cuma mau tanya, siapa namaku?”

“Iya, paham… Cuma, teman-temanmu itu jadi ikut ngrampok, dan kamu diam saja….” ujar si pensiunan.

“Mereka bukan teman-teman saya. Kalau mereka merampok, ya, ide mereka sendiri, bukan saya yang nyuruh. Mereka lapar.”

“Kamu nggak lapar?”

“Nggak.”

“Kamu nggak haus?”

“Nggak. Kalau kamu lapar, makan saja, sana. Saya mau mencari orang yang bisa menjawab pertanyaan saya….” berkata begitu dia keluar ruang interogasi.

“Tunggu, tunggu, nak… saya tahu namamu….” kata Kanit Serse.

Si bocah berhenti, “Siapa, coba?” sambil menatap mata Kanit Serse—yang tiba-tiba merasa disiram air es, karena kalor tubuhnya diserap si bocah. Seketika dia bungkam. Lidahnya beku. Kata-kata yang disiapkannya, lenyap entah ke mana.

***

Siapa namaku, belum reda dari peredaran bumi. Bukan hanya di kota kecil itu, seluruh Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. Wajah si bocah tampil di mana-mana. Dia selalu bertelanjang dada, bercelana panjang yang dibuntungi sedikit di bawah lutut. Rambut yang tak pernah disisir, tapi selalu menarik perhatian. Entahlah, setiap mata akan terpesona memandangnya. Bukan hanya wajah, sorot mata, tapi juga gesturnya, membuat siapa pun terkesima.

Banyak juga yang kemudian beranggapan bahwa dia memang ‘dibayar’ untuk tujuan tertentu. Semua yang ada di tayangan televisi itu hoax.

Merasa kian membuat orang bingung soal namanya, si anak dewa itu—sebenarnya gerombolan, atau simpatisan, atau fans-nya yang bikin ulah—diincar petugas lagi. Ada perampokan bersenjata, lalu si anak dewa ditangkap, karena satpam penjaga bank itu mati. Si anak dewa berkilah, tapi sia-sia. Dia marah. Dikeroyok polisi dan dijebloskan ke bui.

***

Di balik jeruji si anak dewa itu meremaja. Terasah oleh kebingungan dan kemarahannya sendiri, dia tumbuh tanpa nama. Sampai suatu ketika dia bertemu seorang kakek gemuk bukan main.

Si kakek tersenyum, memeluk anak dewa itu lalu, “Wisanggeni… itu namamu….” bisiknya.

“Hah? Aku suka. Siapa namamu, kek?”

Kakek menggeleng. “Wisanggeni, tempatmu bukan di sini….”

Wisanggeni ingin bertanya, tapi dia seperti dibawa udara. Di sebuah pantai sepi, dia menyaksikan nelayan berpantun, riang gembira. Wisanggeni mendapati dunia tanpa nama. 

***

Jalan Pinang 982.

Kompas, 19 Desember 2021

1/16/2010

Tentang Ayam Jantan yang Jatuh Cinta pada Bulan

~Yanusa Nugroho~

(Kepada: Sujiwo Tejo, Ags Arya Dipayana, dan Nanang Hape)

“BULAN purnama,” begitu bisik seekor musang, sesaat ketika hendak menggigit leher ayam jantan muda itu, “…memberimu pesona luar biasa. Sungguh malang, makhluk di bumi ini yang tak bisa bahkan menyaksikan cahayanya. Seperti kau ini…” Lalu musang pun tergelak-gelak penuh kemenangan.

“Dunia ini sungguh adil. Di malam hari, kau dibutakan, sementara mataku dinyalangkan. Alam menjadikanmu sebagai santapanku. Hahahahaha… Sejak matahari tenggelam, kau buta. Dan aku yakin benar bahwa kisah tentang rembulan yang kini tengah bertengger megah, cantik, mempesona itu, belum pernah kau dengar sama sekali.

Makhluk malang. Tapi, barangkali saja, kau sedikit lebih beruntung daripada cacing. Dia bahkan tak bisa membedakan cahaya matahari dan bulan… Hahahahahahahaa…”

Mendidih darah muda ayam jantan itu, demi mendengar penghinaan yang melumuri jiwanya. Dia, keturunan ketujuh Sawung Galih, ayam petarung paling ditakuti dan disegani di zamannya, tak bisa menerima kenyataan dihina oleh seekor musang. Darahnya mendesir, menjalari seluruh tubuhnya.

Dan pelahan, kekuatannya pulih, setelah beberapa saat lalu bagai remuk ditubruk si musang celaka. Tajiku, taji Sawung Galih dan di sana menderas daya penghancur lawan. Jika dalam sekali tendang, kau tak hancur, jangan sebut aku keturunan Sawung Galih.

***

Maka, kisah taji Sawung Galih pun kembali mengharum di antara mereka. Jago-jago petarung dari berbagai daerah merasa gentar setiap mendengar kisah bagaimana sepasang taji itu berhasil mencungkil sepasang mata musang. Ke mana pun dia pergi, tak ada yang berani menatapnya, kecuali—tentu saja—para betina, yang diam-diam berharap dapat menikmati kejantanannya.

Kokoknya akan membangunkan matahari dan kepak sayapnya membuat jago-jago lain memilih mencari kutu. Lehernya besar, kokoh dengan bulu-bulu merah darah berkilau-kilau ditimpa cahaya matahari. Paruhnya runcing, nyaris tak ada lekukan. Sepasang matanya nyalang, seakan menyelidik siapa yang bersikap menantang. Seekor ayam kate, diam-diam telah menyiapkan sebuah balada untuknya, namun yang selalu merasa gagal menemukan kata-kata.

***

Namun, itu semua dinikmatinya hanya ketika matahari masih menguasai bumi. Manakala senja turun, dan hanya keremangan yang melingkupi sepasang matanya, Sawung Galih—akhirnya nama itulah yang dikenakan kepadanya—merasa kesepian. Aneh, kisah rembulan purnama yang dituturkan si musang beberapa waktu silam itu, selalu hadir ketika senja membayang.

Mungkinkah ini semacam kutukan? Bangsa ayam tak bisa menikmati indahnya purnama? Diam-diam, dia mencoba mengingat-ingat dongeng induknya, yang selalu berkisah tentang siapa Sawung Galih dan bagaimana kehebatan ayam jantan petarung itu di zamannya. Dongeng itu akan mengantarkannya pada mimpi indah, di balik kehangatan sayap induknya.

Namun, memang sangat jarang kata “bulan” muncul dari mulut induknya. Kalau pun ada, tentu hanya digunakannya sebagai bahan ejekan bagi kaum pungguk.

“Tapi, apakah ibu pernah melihat bulan?” tanyanya suatu kali dulu.

“Untuk apa? Apakah matahari tak cukup baik bagimu? Tidur! Kau harus malu jika saat ini matahari masih mendengar suaramu,” ujar induknya seraya merapatkan sayap-sayapnya.

Bangsa ayam ditakdirkan untuk hanya mengenal matahari dan meniadakan bulan dalam hidupnya. Itu sebabnya dia menjadi terheran-heran ketika suatu ketika—tanpa sengaja—mendengar percakapan dua tikus muda dari balik reruntuhan kayu, yang berkisah tentang gemerlapnya bintang-bintang mengelilingi bulan. Dia sendiri tak paham setiap kata yang diucapkan, namun anehnya, keindahan yang diungkapkan para tikus itu seperti mendapatkan jalannya sendiri hingga sampai di pemahamannya yang paling dalam. Ayam jantan itu menghela napas.

Entah mengapa, Sawung diam-diam merasa iri pada kaum jangkrik, yang selalu menyanyi memuja-muji purnama. Setiap malam, begitu senja lenyap digantikan gelap, kaum jangkrik dengan riang gembira menyanyikan lagu. Mungkin juga mantra bagi hadirnya rembulan.

Pernah dia bertanya kepada seekor jangkrik yang saat itu nyasar.

Setelah paham bahwa si Sawung tak mungkin bisa mematuknya, timbullah keberanian si jangkrik. Dia pun menjawab setiap pertanyaan Sawung—yang dirasakannya sebagai ketololan kaum ayam.

“Kau pikir, kami menyanyi setiap malam untuk apa, kalau bukan demi munculnya purnama?”

“Apakah dengan begitu dia akan muncul?”

“Hahahaha… bodoh betul kau Sawung. Tentu saja tidak. Itu sebabnya kami terus menyanyi. Dan akan tetap menyanyi ketika pada hari ke empatbelas dia menampilkan keindahannya yang sempurna. Ah, aku harus mengirimkan bunga duka cita untuk kebodohanmu. Hahahahahaha…krik!”

“Jaga mulutmu! Kalau saja…”

“Apa? Kau mau apa? Di arena laga—aku tahu—kaulah pemenangnya. Namamu mengharum di seantero dunia… ya, aku tahu. Tapi, bagiku, kau tak ada artinya, karena kau bahkan tak tahu apa itu keindahan. Hahaha… krik…krik…krik…”

“Ajari aku,” gumamnya.

Si jangkrik terdiam tiba-tiba. Bagaimana mungkin sesosok jagoan mau tahu tentang keindahan, apalagi belajar dari seekor jangkrik? Di kejauhan, nyanyian jangkrik melaut bunyinya, menusukkan sepi di jiwa sang petarung.

***

Sejak pertemuannya dengan jangkrik, Sawung makin kelihatan murung. Ada yang tiba-tiba dirasakannya sebagai sebuah tusukan. Puluhan bahkan ratusan kali robekan taji lawan pernah dirasakannya, namun tak ada yang menyamai rasa sakit yang disebut kesepian.

Si ayam kate berusaha menghiburnya, dia pun menyanyi, “O pahlawan, kepak sayapmu benteng bagi kaum betinaaaaa… keeok!” Si kate menjerit, Sawung menggamparnya.

“Apa yang salah Sawung?”

“Berisik!”

“Oh, aku tahu, aku tahu… Mmmm… Sunyiiii… Keook!” Si kate terjungkal, kepalanya berkunang-kunang, namun dia tak bisa mengatakan bahwa kunang-kunang saat itu indah.

***

Keindahan rembulan, yang tak pernah disaksikannya, tiba-tiba menguasainya. Seperti sesuatu yang sebenarnya sudah ada namun tak pernah dipedulikannya. Sejak hari itu Sawung seperti linglung, di arena sabung dia seperti limbung. Tajinya sesekali mungkin merepotkan lawan, namun itu karena lawannya sudah gentar sebelum bertanding. Sawung sendiri pikirannya melambung, mencoba mencari sesuatu yang belum pernah disaksikannya. Dia seperti meninggalkan raganya, melayang jiwanya entah ke mana.

Cahaya yang tak pernah kusaksikan itu, yang memancar dari cerita mereka, menghancurkanku, meremukkanku hingga tak bisa kukenali siapa diriku lagi. Akan kucari kau, akan kutemukan kau, tak peduli walau sembunyi di kerak bumi sekalipun.

Akan kutelusuri malam demi malam, dengan segenap kebutaanku, seumur hidupku, mencari dan menemukanmu. Jika kau bersembunyi di balik matahari, maka akan kuhancurkan dia dengan tajiku. Jika kau berlindung di balik mendung, akan kusapu mendung dengan sepasang sayapku. Kokokan panjangku akan membelah petir dan membuatnya tak lebih dari sekadar percikan api tungku.

***

“Sawung, Sawung, Sawung!” teriakan-teriakan itu menggema memberinya semangat bertarung. Beberapa betina memamerkan pinggulnya, memberinya gairah kehidupan.

Sesaat Sawung seperti kembali ke bumi, dan sepijar kekuatannya menyala.

Tubuhnya melompat, sayapnya membutakan mata dan sepasang tajinya bergantian menembus leher lawan. Sorak-sorai menggema, si lawan sekarat.

Sawung tegak, mengepakkan sayap dan berkokok panjang. Dia dengan gairah kemenangannya melompat tinggi nyaris terbang. Melayang tubuhnya, sebelum akhirnya hinggap di semak-semak.

Akan kucari kau, jika perlu kubalik seisi dunia ini.

“Sudah kau temukan, apa yang kau cari?” Tiba-tiba sebuah suara berat, tua dan putus asa menegurnya.

Sawung terhenyak. Hanya selangkah di depannya, seekor musang tua dengan sepasang mata butanya tengah duduk di kerimbunan semak. “Aku tak bisa melihatmu, tetapi bukan berarti aku tak bisa mengendusmu.”

“Haha… musang tua, dendammu belum padam juga.”

“Apa pedulimu? Apakah sudah kau padamkan dendammu dalam mencari keindahan itu?”

“Bulan?”

“Lidahmu sudah cukup fasih mengeja namanya. Namun, kurasa, kau baru sebatas mengeja dengan benar, kau belum siap menghadapi keindahan itu sendiri.”

“Akan kucari di mana pun dia bersembunyi!”

“Tak mungkin kau mampu.”

“Jelaskan, mengapa aku tak mampu.”

Musang menarik napas dalam-dalam, menoleh ke kiri. Sepi. “Dengar, anak tolol. Apa yang kau gunakan untuk mencarinya? Coba jawab pertanyaan sederhana ini.”

“Tajiku akan mengoyak semua yang melindunginya. Sayapku akan menyibak segala yang melingkupinya.”

“Hmm… angkuh sekali. Kau pikir keindahan yang memancar dari bulan purnama adalah sebutir beras? Sawung, Sawung… ternyata kau bahkan lebih dungu dari yang kukira.”

“Apa maksudmu?”

“Kau pikir bisa kau taklukkan jarak semesta ini dengan sepasang sayapmu, yang bahkan tak sekuat pipit ketika melayang? Kau anggap bisa kau belah tabir keindahan dengan sepasang tajimu? Kau bahkan tak tahu apa-apa tentang sesuatu yang kau hadapi, tetapi suaramu seakan mampu membelah langit! Sadarlah bangsa rabun, kau tak akan bisa menemukan keindahan jika masih menggunakan cara bodohmu itu.”

***

Untuk kesekian kalinya, Sawung termenung. Tak disangkanya sama sekali, dia mendapat pelajaran penting dari bangsa pemangsanya.

“Ajari aku menemukan keindahan itu,” ucapnya lirih dan putus asa.

Musang tergelak, tegak, dan lari menjauh—tentu setelah beberapa kali menabrak sesuatu. Dari kejauhan tiba-tiba musang berteriak, “Carilah di balik keangkuhan jiwamu. Sanggupkah kau menghancurkan ke-aku-anmu?”

***

Sejak pertemuannya dengan musang tujuh hari lalu, Sawung makin murung, terlalu suka merenung dan mengurung dalam kesunyiannya. Telinganya mulai ditulikan dari teriak tantangan, bahkan tajinya diam-diam dikeratnya. Dia tak makan dan tak minum, tubuhnya merapuh, sayapnya melumpuh. Dalam usia keemasannya, dia seperti lebih tua seratus tahun. Seluruh bulu merah yang membuat para betina termimpi-mimpi, kini tampak seperti puluhan lintah gemuk yang menggelayuti leher kurusnya. Dia tengah menghancurkan dirinya sendiri, mencoba mencari keindahan yang bersembunyi di balik keangkuhannya.

Suatu malam, di hari keempat belas, keindahan itu datang menjemputnya. Sawung tak bisa berbuat apa-apa. Jiwanya kosong, dan karenanya dia mampu menerima keindahan itu seutuhnya. Air matanya berlinang, dia pun merasaan kebahagiaan yang belum pernah dialami sebelumnya.

***

Bangsa ayam berduka. Mereka menemukan jasad Sawung tergolek merana. Si ayam kate menyanyikan baladanya, “Telah gugur jagoankuuuuuu…. Tu… keook!”

“Berisik!”

Dan malamnya, jutaan jangkrik melantunkan kidungnya, kaum musang menebarkan keharuman tubuhnya, dan bangsa pungguk terdiam seribu bahasa, menatap entah apa di atas sana.

***

Pinang, 982

Jawa Pos edisi Minggu, 10 Januari 2010.

7/05/2008

Raja Kuru

~Yanusa Nugroho~

Lampu minyak bergoyang perlahan, tersapu angin kemarau. Apinya berkebit-kebit, bahkan pada saat tertentu nyaris padam. Malam pekat di luar sana, namun juga sepekat kabut yang menyelimuti perasaan Duryudana.

Karna. Nama itu kini seakan menambah persoalan yang dihadapinya. Dulu, hanya Arjuna yang dikhawatirkannya akan merebut Surtikanti, namun setelah dilihatnya Surtikanti agak tak acuh pada Arjuna, Duryudana agak tenteram.

Piala anggur di tangan kirinya. Rambutnya kusut. Wajahnya keruh dimainkan cahaya api minyak. ”Suruh Togog kemari.” perintahnya dingin pada penjaga ruangan.

Sang penjaga segera undur dan beberapa saat kemudian kembali bersama seorang laki-laki tua, gemuk. Laki-laki itu membawa sebuah kotak, berisi sitar.

”Tuanku?” sapa si laki-laki gemuk dengan suara seperti terkulum oleh bentuk mulutnya yang tampak terlalu besar dibandingkan keseluruhan kepalanya. Sedemikian besar mulutnya sehingga seolah-olah orang hanya melihat wajah Togog Tejamantri hanyalah bibir yang bermata dan bertelinga.

Tanpa memandang kehadiran Togog, raja muda itu meneguk anggurnya. Lalu, ”Gog… apa yang bisa mengobati kekhawatiran hati manusia.”

Togog tertawa. Lalu jemarinya mulai memetik dawai-dawai sitar. Nada pun mendenting-denting.

”Kekhawatiran,” Togog tersenyum dan menggantung ucapannya sesaat. ”Ya…, perasaan takut kehilangan. Kehilangan karena kita merasa memiliki….”

”Apa ini sebuah permainan, Gog?”

”Permainan, tuanku?”

”Aku merasakan diriku dipermainkan.”

”Dipermainkan, tuanku?”

”Dia seperti melihat dan menimbang dengan kedua bola matanya sekaligus, yang anehnya masing-masing melihat sesuatu yang berbeda.”

”Ha-ha-ha-ha-ha… perasaan tuanku mengatakannya demikian, tetapi, menurut hamba….”

”Memang aneh, Gog, perasaanku ini…”

”Ha-ha-ha-ha… Mengapa tuanku tidak melihat dengan seribu mata?”

”Gog, jangan memberiku pertanyaan aneh. Hidupku sudah aneh.”

”Tuanku adalah raja segala raja. Lebih tinggi daripada Gunung Mahameru. Menjulang menggapai awan gemawan.. tentunya tuanku memiliki apa yang hamba maksudkan.”

”Gog…”

”Hamba, tuanku….”

”Menyanyilah….”

Togog tersenyum. Jemarinya menjentik-jentik nada-nada yang tersimpan pada setiap dawai sitar.

”Ada yang berkisah, tentang seorang lelaki resah…
hidupnya bergelimang harta dan mewah
bersama angin dia pergi, mencari sunyi
dengan kaki luka, dia menghancurkan keangkuhannya
berjalan menyeruak semak, seorang diri
mencari jalan menuju keabadian sejati
Tak ada lagi pintu untuk diketuk
Tak ada saudara untuk dijenguk
Dia abaikan istana, dialah Pa..”

”Berhenti sebentar.” Duryudana menabrak keheningan yang mengalir dari suara Togog.

Togog berhenti menembang. Jemarinya masih sesekali menjentik-jentik dawai. Nada merambat nyaring memenuhi sepi malam.

”Apa kau percaya pada perempuan?”

Togog tersenyum. Majikannya terbakar asmara. Putri dari Mandaraka itu memang jelita. Dan Togog tahu, siapa yang telah bertahta jauh di lubuk hati putri cantik itu.

Majikannya memang memiliki takhta kekuasaan gading, berbalut emas, namun tak mampu memindahkannya ke ruang paling dalam kehidupan Surtikanti. Menyakitkan, memang. Namun, itulah harga yang harus dibayar ketika manusia harus memilih.

”Hamba percaya, tuanku….”

”Mengapa?” Duryudana meneguk anggur, lalu menyambungnya, ”Apa yang membuatmu percaya?”

”Karena perempuan berkata dengan hatinya, tuanku.”

”Togog, jangan menyindirku….”

Togog diam, hanya tersenyum.

”Aku tahu, dia memilih Karna. Tetapi, bagaimana dengan aku? Mengapa dia memilih Karna. Apa hebatnya Karna? Bahkan, derajatnya pun aku yang memberinya. Kini, bahkan dia menjadi pembicaraan para prajurit. Namanya berkobar bagai api, siap menghanguskan rimba raya kejayaanku. Bangsat!” dan piala anggur itu dilemparkannya. Bergelontang benda yang sesaat lalu ditimang dan dipandangnya penuh kebanggaan itu. Menggema jauh suaranya, sesaat kemudian teredam sunyi.

Togog hanya diam. Dia hanya tersenyum dalam hati dan menjawab pertanyaan Duryudana dengan pertanyaan sederhana: mampukah kau, wahai anak Drestrarastra, berguru pada Parasu? Mampukah kau, wahai anak Gendari, berpisah dari kedua orangtuamu? Karna mampu menelan kenyataan paling pahit dalam hidupnya, dan karenanya dia layak menerima kemampuan itu. Dia bagai sebuah pedang yang terasah batu paling keras, sehingga layak mendapat ketajaman sehebat itu.

”Togog, apa kau pernah merasakan kepedihan seperti ini?”

”Tuanku.. tak ada obat untuk perasaan sakit seperti itu. Apakah tuanku pernah menyatakan perasaan tuanku pada Surtikanti….”

”Tentu saja.”

”Oh, tentu tuanku, tentu….”

”Tentu saja, dia seharusnya mengerti..”

”Ooh? Ha-ha-ha… ha-ha-ha…” dan seperti menirukan ucapan Duryudana Togog bergumam, ”dia seharusnya mengerti….”

”Diam, kau Togog.”

Namun, Togog malah terbahak-bahak. Duryudana tertunduk, kalah oleh gema suara Togog yang terasa jauh lebih tua daripada segala yang ada di ruangan itu.

”Tentu, seharusnya dia mengerti. haha-ha, Duryudana tuanku, junjunganku, tuanku seharusnya bicara sebagai Duryudana, bukan sebagai raja Hastina.

Karena sebagai raja, tuanku hanya memperoleh setangkup sembah. Tuanku adalah kekuasaan. Mana mungkin orang mampu bicara di depan kekuasaan?

Namun, bila tuanku bicara sebagai Duryudana, yang laki-laki biasa.. maka hatinya akan terbuka….”

”Ajari aku tentang itu,” ucap Duryudana lirih. Dikenakannya selimut kain untuk membungkus tubuhnya yang tiba-tiba terasa dingin.

Denting dawai mengisi sunyi. Menenangkan gelegak amarah. Suara Togog menggaung menembangkan kisah manusia yang bersedia ”menelanjangi” diri. Kisah seorang manusia bernama Palasara, yang mengembara, membuang semua kilau harta. Menjelajah lembah, menyeruak semak, membiarkan diri ditelan hutan. Dialah moyang keluarga besar Hastinapura.

Palasara manusia yang menghamba dan karena itu tak ingin memperhamba orang lain. Dia tolak singgasana dan memilih kegelapan gua-gua sebagai gantinya. Dia mencari keheningan nurani di jalan orang papa, dan menjauhi kehirukpikukan istana. Palasara mempersiapkan keabadian hidupnya, dan sedang berlatih menjalani kehidupannya kelak di alam kekal. Dan apalah arti hidupnya yang hanya terdiri dari darah, daging dan tulang-belulang ini, jika dengan meninggalkannya dia memperoleh hidup yang jauh lebih bermakna? Maka, wahai anak tertua bangsa Kuru, apalah arti seorang perempuan yang bahkan tak mengganggapmu ada, sedangkan Palasara dengan senang hati menyerahkan istri yang dicintainya kepada orang lain?

***

Belum lagi usai Togog mendendangkan tembangnya, dilihatnya Duryudana tertunduk. Dia menangis bagai anak kecil kehilangan mainan dan takut dimarahi ibu-bapaknya. Pundaknya terguncang-guncang, merasakan sakit yang menusuk ulu jiwanya.

Togog, manusia tua itu, berjalan mendekati rajanya. Kini dia adalah orangtua, yang jauh lebih memahami perasaan seorang anak kecil yang kini terendam kepedihan. Diusapnya kepala Duryudana, sebagaimana dulu ketika dia masih bocah. Di mata Togog, Duryudana tak lebih dari seorang bocah yang harus memikul beban terlalu berat. Harapan dan impian ibundanya, orang yang melahirkannya, terlalu besar. Di balik kegagahannya, Duryudana ternyata hanyalah bayangan, atau bahkan hanya sebuah telapak kaki bagi kehendak dan impian Gendari; ibundanya.

Telah untuk kedua kalinya raja muda itu mengalami kepahitan menghadapi perempuan. Dulu, ketika dia diam-diam dijodohkan dengan Erawati—putri tertua Prabu Salya, sebetulnya Duryudana kurang suka. Namun, karena Gendari mencengkeramkan kuku elangnya, dan Duryudana hanyalah seekor anak ayam, maka anak muda itu pun mengalah. Dia mencoba menyukai pilihan bundanya dan memang pada akhirnya dia merasa tertarik pada Erawati.

Erawati pun—sepengetahuan Togog, sebetulnya tak memiliki alasan untuk menolak Duryudana. Nyaris sempurna. Maka, hubungan diam-diam itu pun sebetulnya telah terjalin. Namun, setelah Duryudana mulai terbawa oleh perasaan kerinduannya pada Erawati—yang diam-diam dirindukannya lebih sebagai ibu daripada istri, tiba-tiba perkawinan itu batal begitu saja. Erawati dikawinkan dengan Kakrasana dari Mandura.

Maka dengan kepahitan yang serupa, Duryudana pun dipaksa menelan kenyataan, harus memilih Surtikanti—anak Prabu Salya yang nomor dua. Namun, kini, ketika semua bahkan sudah mengetahui secara gamblang hubungan keduanya, tiba-tiba muncul Karna. Dan Karna, seakan tak memandang sebelah mata pada Duryudana. Pesona dan kehebatan Karna memang tak bisa dilawan dengan harta dan kekuasaan.

Itulah sebabnya Togog merasa iba dengan anak muda yang kini menangis sesenggukan itu. Sejak kecil dia tak pernah diberi pilihan, dan hanya menjalani apa kata Gendari, yang dibantu Suman; adiknya. Duryudana tak bisa melihat pilihan lain. Otaknya seperti kosong dan hanya bisa melakukan sesuatu atas perintah dan petunjuk ibunya. Kakinya hanya melangkah manakala ibunya menyuruhnya melangkah. Sementara, mungkin, jauh di lubuk jiwanya, keinginan untuk memberontak itu sudah ada, hanya saja.. tak mungkin dia mampu mewujudkannya. Persoalan pelik itu terus bergulung-gulung di dalam jiwanya.

Kekhawatiran akan hilangnya Surtikanti dari tangannya, bukanlah semata-mata sebuah tamparan besar karena dia seorang raja. Kegagalan menyunting Surtikanti adalah sebuah tusukan telak bahwa dirinya bukanlah laki-laki yang layak mendapatkan cinta seorang perempuan. Inilah, yang di mata Togog, membuat Duryudana menangis merasakan kepedihannya.

”Tuanku.. ini sebuah pelajaran..” ucap Togog dengan suara parau. Ucapan yang keluar, setelah menyimak gemulung persoalan Duryudana.

”Tetapi, ini terlalu mahal…,” jawab Duryudana. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Togog, yang berdiri dengan ketuaannya.

”Tak ada pelajaran yang tak berharga, tuanku.”

Duryudana tegak perlahan, kemudian berjalan menuju jendela yang terbuka lebar, seakan ingin menghirup kekelaman malam beku di luar sana.

Raja bangsa Kurawa itu mencoba memandang jauh ke depan. Dibiarkannya kebekuan malam kemarau panjang itu berhembus menerpa kulitnya. Dongeng kuna tentang Raja Palasara yang mengembara, seakan memberinya kekuatan. Dulu dongeng itu diabaikannya karena baginya hanyalah sebuah isapan jempol. Dulu kisah itu dianggapnya sebagai upaya manusia untuk menutupi ketidakmampuannya mengurus kerajaan. Namun, kini, kisah itu sesungguhnya mengajarkan betapa besar kekuatan dan kekuasaan Palasara. Sedemikian besar dan kuatnya, sehingga Palasara mampu menentukan pilihan hidupnya. Palasara mampu menepiskan keakuannya, menjadikan dirinya sebagai humus, yang akan menyuburkan pertumbuhan anak cucunya di kelak kemudian hari..

Sementara Togog melantunkan sepenggal tembang:

Ada lagi sebuah kisah tentang seorang raksasa
Menyiramkan darahnya sendiri bagi kebebasan negerinya…
*terjemahan bebas dari Serat Tripama.

2/02/2008

Bayangan Darah

~Yanusa Nugroho~

Setelah semua perkelahian ini, lalu apa? Setelah perseteruan ini, lantas apa? Masih adakah yang tersisa ketika kita habiskan seluruh kebencian dan sakit hati ini? Ataukah kita memang dilahirkan untuk saling bunuh? Mungkinkah kebencian adalah kehidupan kita? Dan tanpa itu, kita bahkan tak berbekas sama sekali?

Dua sosok itu termangu oleh pikiran masing-masing. Tubuh mereka menua. Napas mereka memburu, tetapi keinginan untuk saling bunuh masih saja menyala di mata mereka.

”Mengapa tak kau akhiri saja semua ini, di sini, sekarang juga…,” ucap yang satu dengan suara setengah menggeram.

”Aku pun heran, mengapa kau berlama-lama dengan urusan ini?” balas yang satunya dengan suara penuh dendam.

Sejak benda yang konon turun dari langit itu berada di tangan Anjani, kedua laki-laki itu seperti tersihir untuk merebutnya. Tak perlu alasan lain, keduanya sangat ingin memiliki benda ajaib yang berasal dari matahari itu. Benda yang mampu melihat dunia dan isinya. Benda yang berisi pengetahuan tentang masa lalu dan mendatang. Benda yang mampu menjawab apa yang masih menjadi pertanyaan manusia.

Keduanya masih mengatur napas, menghirup udara jeda, setelah tujuh hari tujuh malam baku hantam. Siang terik, ketika bergulat, tubuh mereka berkeringat, dan matahari membuatnya seolah jilatan kilat. Batu hancur, pohon tumbang, tanah berlubang, debu mengepul, menjauh, karena tak kuasa menahan hantaman tubuh-tubuh yang terjengkang. Malam, tubuh mereka berpijar ketika tangan mereka saling gampar. Angin malam hanya hilir mudik, mengamati pergumulan yang entah kapan akan berhenti.

Ibu mereka hanya menitikkan air mata beku, tubuhnya membatu.

Mereka, kedua anak laki-lakinya itu, sesungguhnya lahir dari sebuah dendam. Dendam yang tumbuh dari benih keinginan yang tak terpenuhi. Dan ketika mereka tumbuh dan saling memusuhi, sang ibu pun tak lagi bisa berbuat apa-apa. Jika saja dia tahu semua akan menjadi seperti saat ini, tentu kedua bayi kembarnya itu telah dibunuhnya, jauh bahkan ketika mereka masih di dalam rahimnya. Akan tetapi, siapakah yang mampu melawan kasih sayang?

Bahkan ketika benda langit itu—yang menurut sang ayah menjadi penyebab perkelahian anak kembarnya itu—dibuang ke udara, perkelahian mereka tak bisa dihentikan sama sekali. Mereka melesat, adu cepat, memburu, mengikuti ke mana benda langit itu akan jatuh. Berhari-hari mereka berlari, menerabas hutan, menghancurkan sawah ladang, melesat meninggalkan kobaran api di hamparan kering ilalang. Mereka berlari seperti adu kencang melawan angin, seolah terbang, sedemikian rupa sehingga seolah mereka lupa, apa sebenarnya yang tengah mereka kejar.

Hingga berminggu-minggu kemudian, ketika masing-masing mengira benda langit itu tenggelam di dasar telaga, barulah keduanya berhenti sejenak. Mereka berseberangan. Setelah bersitatap sesaat, seolah saling memperhitungkan langkah lawan, tiba-tiba mereka melompat dan menghilang ke perut telaga.

Sebatang pohon kawista tua, yang entah sejak kapan tumbuh di pinggir telaga, hanya sedikit mengangguk-anggukkan tubuhnya—ah, barangkali saja dia menggeleng-geleng; siapa yang peduli? Tak ada yang peduli apakah sebatang pohon mengangguk atau menggeleng, bukankah itu semua hanya penamaan dan celakanya manusia hanya punya keterbatasan kata-kata. Yang jelas, pohon kawista itu tersenyum menertawakan kedua manusia yang tiba-tiba menceburkan diri ke dalam telaga.

Seekor capung dengan sepasang matanya yang tak pernah berkedip itu menatap permukaan telaga. Sesaat kemudian menatap kawista, untuk kemudian memandangi permukaan telaga kembali. Hanya ada gelembung udara membuih. Telaga seperti wajah bayi yang lelap pulas dibuai mimpi.

Sementara di perut telaga, seekor ikan gabus tua, yang kumisnya melintang, memanjang mirip lengan gurita, mencoba mempertanyakan apa yang disaksikan matanya. Ketika dia tengah menunggu udang-udang kecil yang bodoh, bermain-main di dekat kumisnya—yang tentu saja akan segera disantapnya dengan tiba-tiba, matanya menangkap sebuah pendar cahaya jatuh dari langit dan tenggelam ke dasar telaga.

Bersamaan dengan gerak lamban benda bercahaya itu, yang perlahan-lahan tenggelam, tibatiba gabus tua itu seperti disadarkan bahwa dirinya adalah sebuah ciptaan. Dia tiba-tiba merasakan daya hidup luar biasa dan karenanya dia mampu mengagumi sebuah keindahan. Itu saja. Pendar cahaya itu kemudian menghilang di dasar telaga, dan dengan sendirinya air telaga menjadi serba temaram kembali.

Namun, baru beberapa saat si gabus merasakan keheningannya kembali, dan tepat ketika seekor udang kecil mengendus-endus bibirnya, tiba-tiba sebuah ceburan dahsyat terjadi di permukaan. Si gabus ternganga, si udang melejit entah ke mana. Dua benda jatuh bersamaan. Meluncur deras menuju dasar telaga, menyisakan buih putih di belakangnya.

Samar-samar, mata si gabus tua bisa menangkap yang jatuh itu adalah dua manusia. Matanya cukup hafal akan sosok makhluk bernama manusia itu. Namun, inilah yang pertama kali terjadi dalam hidupnya; mungkin hanya pernah terjadi di zaman moyang para gabus. Dua manusia itu, dalam perjalanannya menuju dasar telaga, tiba-tiba berubah menjadi kera. Kera bertubuh manusia. Lengan-lengan mereka berbulu. Wajah mereka berbulu. Dan di kedua ujung punggung mereka menjulur ekor panjang.

Yang juga tak dipahami oleh otaknya yang kecil itu adalah ketika dua manusia-kera itu, begitu menyadari bahwa ada ”sosok” asing, yang sama-sama melaju, tiba-tiba berhenti. Tubuh mereka melayang di perut telaga dan dengan tiba-tiba pergulatan pun terjadi.

Perkelahian. Bukan, ini sebuah nafsu membunuh yang tumpah begitu saja. Karena, di mata si gabus, keduanya benar-benar tak memiliki ampun bagi lawan. Seakan mereka hanya mau berhenti jika lawan mati. Bisakah kau menciptakan nama untuk kekejian ini?

Sesekali mereka berebut menuju dasar, tetapi sesaat kemudian, setelah pergulatan saling menghalangi terjadi, keduanya meluncur ke permukaan. Begitu berulang kali.

Para batu yang tertidur abadi terbangun oleh arus panas dua makhluk itu. Dalam diam dan kebekuan pandangan, mereka bersepakat dengan palung dan air untuk mengirimkan kembali kedua makhluk itu ke permukaan.

Maka, gabus tua itu menyaksikan dengan mata kepalanya kedua makhluk itu termuntahkan ke permukaan. Seketika telaga temaram dan sejuk kembali.

Sebaliknya, pohon kawista yang tengah terkantuk-kantuk setelah tadi tersenyum, atau menggeleng, mendadak terkejut. Seandainya saja dia tak berakar, tentu dia sudah terlontar entah ke mana. Tiba-tiba dua makhluk aneh, seperti manusia sekaligus kera, terlontar tinggi ke udara bersama semburan air dahsyat dari dasar telaga.

Dua tubuh itu terpelanting tak berdaya, satu ke kiri, yang satu ke kanan. Jatuh berdebuk ke bumi dan tak sadarkan diri. Hening. Capung-capung merubung, mungkin curiga. Di sela-sela bunga kemuning, lebah mendengung mendambakan madu bening. Uir-uir mendetir-detir, mewartakan keheningan hingga ke pinggir-pinggir.

Namun, itu semua hanya beberapa saat. Kelopak mata masing-masing mulai berkedut-kedut. Ada kehidupan kembali pada tubuh mereka. Sesaat kemudian keduanya menggeliat. Seperti disengat oleh ingatan purba, mereka melanjutkan perkelahian itu kembali. Begitu saja.

Matahari mulai melorot, merah, lelah memelototi dua makhluk yang masih saja saling menimpakan maut kepada lawannya. Malam gulita, seolah meniru seorang dewi yang bersumpah tak ingin menyaksikan matahari, dan kedua manusia-kera itu belum tahu kapan akan mengakhiri laga mereka.

Sementara itu, telaga itu sendiri, oleh daya gaib benda bercahaya yang ada di dasarnya, telah berubah menjadi sebuah dunia. Gabus tua itu kini sudah bisa mengenali sanak saudaranya, dan membentuk keluarga-keluarga baru, beranak pinak, bercucu dan bercicit. Udang-udang pun yang tak lagi terancam tertelan gabus-gabus mengembangkan kebudayaan mereka di sela-sela karang di dasar telaga. Adapun ras para batu berkembang dalam kebekuan dan tidur abadinya. Tubuhnya dipersembahkan bagi kaum lumut untuk berkembang dan menebal hijau. Dan kaum lumut kian sadar bahwa dirinya tercipta sebagai dunia bagi kaum kriwil kecil tak kasatmata.

Aneh memang. Telaga dan penghuninya itu seolah mendapat cahaya baru, pengertian baru, pandangan baru tentang keberadaan mereka.

Kawista, yang menyerap air telaga, kini berkembang biak dengan buah-buahnya yang manis. Dia kian muda dan karenanya buahnya bertambah lebat. Di sepanjang bibir telaga kini telah tumbuh ratusan batang kawista muda, di sela-sela kemuning, soka, dan bunga api rimba.

Namun, manusia-kera itu belum juga menyudahi sengketa mereka. Hidup mereka sudah kusut masai, tetapi perkelahian mereka belum usai.

Mereka telah benar-benar lupa, apa yang membuat mereka berlaga. Mereka mungkin sudah tak peduli mengapa mereka ingin membuat hidup lawan tersudahi.

Bulu-bulu di tubuh mereka sudah mengelabu termakan waktu, tetapi keinginan membunuh masih saja menggebu.

Seribu tahun berlalu dan mereka belum juga jemu. Perkelahian mereka menjadi adat yang dipahami manusia sebagai teladan. Ketika dunia dipenuhi manusia yang selalu terburu waktu ke mana pun mereka menuju, pergulatan manusia-kera itu masih berkelebat, berpijar, di sana-sini.

Tak perlu lagi alasan mengapa sebuah perkelahian terjadi, karena bukankah sudah seperti makan, minum, tidur, dan bercinta? Rasanya kurang pas jika dalam hidup tak ada laga, begitulah angin berkisah tentang pengalaman perjalanannya mengelilingi dunia.

Para orangtua hanya merenung, memandangi kelebatan bayangan yang melintas dan melibas peradaban anak cucunya. Mereka menyebut dua manusia kera itu Sugriwa-Subali. Perseteruan yang tak pernah usai. Perselisihan yang tak pernah lerai. Persengketaan yang tak kunjung selesai.

Bumi seakan tak lagi dihuni para laksmi. Mereka pergi menuju kayangan Saraswati karena bumi telah tak lagi suci.

Dua manusia kera itu terkutuk dalam sebuah laga tanpa tepi. Mungkin saja mereka sengsara, tetapi sekali lagi itu hanya kata-kata yang, sekali lagi, hanya sebatas itu yang kita pahami. Mereka kembali mendengar gaung suara itu, yang seakan mengingatkan mereka akan sesuatu. Setelah semua ini, lalu apa? Setelah perseteruan ini, lantas apa? Masih adakah yang tersisa ketika kita habiskan seluruh kebencian dan sakit hati ini? Ataukah kita memang dilahirkan untuk saling bunuh?

Namun, sekali lagi, perkelahian itu sudah mengadat, padat, dan mereka—dua manusia-kera itu—terkurung di dalamnya tanpa daya sama sekali.

Bukit Nusa Indah, 1982