2/23/2008

Senyum Karyamin

~Ahmad Tohari~

KARYAMIN melangkah pelan dan sangat hati-hati. Beban yang menekan pundaknya adalah pikulan yang digantungi dua keranjang batu kali. Jalan tanah yang sedang didakinya sudah licin dibasahi air yang menetes dari tubuh Karyamin dan kawan-kawan, yang pulang balik mengangkat batu dari sungai ke pangkalan material di atas sana. Karyamin sudah berpengalaman agar setiap perjalanannya selamat. Yakni berjalan menanjak sambil menjaga agar titik berat beban dan badannya tetap berada pada telapak kaki kiri atau kanannya. Pemindahan titik berat dari kaki kiri ke kaki kanannya pun harus dilakukan dengan baik. Karyamin harus memperhitungkan tarikan napas serta ayunan tangan demi keseimbangan yang sempurna.

Meskipun demikian, pagi ini Karyamin sudah dua kali tergelincir. Tubuhnya rubuh lalu menggelinding ke bawah, berkejaran dengan batu-batu yang tumpah dari keranjangnya. Dan setiap kali jatuh, Karyamin menjadi bahan tertawaan kawan-kawannya. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.

Kali ini Karyamin merayap lebih hati-hati. Meski dengan lutut yang sudah bergetar, jemari kaki dicengkeramkannya ke tanah. Segala perhatian dipusatkan pada pengendalian keseimbangan sehingga wajahnya kelihatan tegang. Sementara itu, air terus mengucur dari celana dan tubuhnya yang basah. Dan karena pundaknya ditekan oleh beban yang sangat berat, maka nadi di lehernya muncul menyembul kulit.

Boleh jadi Karyamin akan selamat sampai ke atas bila tak ada burung yang nakal. Seekor burung paruh udang terjun dari ranting yang menggantung di atas air, menyambar seekor ikan kecil, lalu melesat tanpa rasa salah hanya sejengkal di depan mata Karyamin.

“Bangsat!” teriak Karyamin yang sedetik kemudian sudah kehilangan keseimbangan. Tubuhnya bergulir sejenak, lalu jatuh terduduk dibarengi suara dua keranjang batu yang ruah. Tubuh itu ikut meluncur, tetapi terhenti karena tangan Karyamin berhasil mencengkeram rerumputan. Empat atau lima orang kawan Karyamin terbahak bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, senang mencari hiburan dengan cara menertawakan diri mereka sendiri.

“Sudah, Min. Pulanglah. Kukira hatimu tertinggal di rumah sehingga kamu loyo terus,” kata Sarji yang diam-diam iri pada istri Karyamin yang muda dan gemuk.

“Memang bahaya meninggalkan istrimu seorang diri di rumah. Min, kamu ingat anak-anak muda petugas bank harian itu? Jangan kira mereka hanya datang setiap hari buat menagih setoran kepada istrimu. Jangan percaya kepada anak-anak muda penjual duit itu. Pulanglah. Istrimu kini pasti sedang digodanya.”

“Istrimu tidak hanya menarik mata petugas bank harian. Jangan dilupa tukang edar kupon buntut itu. Kudengar dia juga sering datang ke rumahmu bila kamu sedang keluar. Apa kamu juga percaya dia datang hanya untuk menjual kupon buntut? Jangan-jangan dia menjual buntutnya sendiri!”

Suara gelak tawa terdengar riuh di antara bunyi benturan batu-batu yang mereka lempar ke tepi sungai. Air sungai mendesau-desau oleh langkah-langkah mereka. Ada daun jati melayang, kemudian jatuh di permukaan sungai dan bergerak menentang arus karena tertiup angin. Agak di hilir sana terlihat tiga perempuan pulang dari pasar dan siap menyeberang. Para pencari batu itu diam. Mereka senang mencari hiburan dengan cara melihat perempuan yang mengangkat kain tinggi-tinggi.

Dan Karyamin masih terduduk sambil memandang kedua keranjangnya yang berantakan dan hampa. Angin yang bertiup lemah membuat kulitnya merinding, meski matahari sudah cukup tinggi. Burung paruh udang kembali melintas di atasnya. Karyamin ingin menyumpahinya, tetapi tiba-tiba rongga matanya penuh bintang. Terasa ada sarang lebah di dalam telinganya. Terdengar bunyi keruyuk dari lambungnya yang hanya berisi hawa. Dan mata Karyamin menangkap semuanya menjadi kuning berbinar-binar.

Tetapi kawan-kawan Karyamin mulai berceloteh tentang perempuan yang sedang menyeberang. Mereka melihat sesuatu yang enak dipandang. Atau sesuatu itu bisa melupakan buat sementara perihnya jemari yang selalu mengais bebatuan; tentang tengkulak yang sudah setengah bulan menghilang dengan membawa satu truk batu yang belum dibayarnya; tentang tukang nasi pecel yang siang nanti pasti datang menagih mereka. Dan tentang nomor buntut yang selalu gagal mereka tangkap.

“Min!” teriak Sarji. “Kamu diam saja, apakah kamu tidak melihat ikan putih-putih sebesar paha?”

Mereka tertawa bersama. Mereka, para pengumpul batu itu, memang pandai bergembira dengan cara menertawakan diri mereka sendiri. Dan Karyamin tidak ikut tertawa, melainkan cukup tersenyum. Bagi mereka, tawa atau senyum sama-sama sah sebagai perlindungan terakhir. Tawa dan senyum bagi mereka adalah simbol kemenangan terhadap tengkulak, terhadap rendahnya harga batu, atau terhadap licinnya tanjakan. Pagi itu senyum Karyamin pun menjadi tanda kemenangan atas perutnya yang sudah mulai melilit dan matanya yang berkunang-kunang.

Memang, Karyamin telah berhasil membangun fatamorgana kemenangan dengan senyum dan tawanya. Anehnya, Karyamin merasa demikian terhina oleh burung paruh udang yang bolak-balik melintas di atas kepalanya. Suatu kali, Karyamin ingin membabat burung itu dengan pikulannya. Tetapi niat itu diurungkan karena Karyamin sadar, dengan mata yang berkunang-kunang dia tak akan berhasil melaksanakan maksudnya.

Jadi, Karyamin hanya tersenyum. Lalu bangkit meski kepalanya pening dan langit seakan berputar. Diambilnya keranjang dan pikulan, kemudian Karyamin berjalan menaiki tanjakan. Dia tersenyum ketika menapaki tanah licin yang berparut bekas perosotan tubuhnya tadi. Di punggung tanjakan, Karyamin terpaku sejenak melihat tumpukan batu yang belum lagi mencapai seperempat kubik, tetapi harus ditinggalkannya. Di bawah pohon waru, Saidah sedang menggelar dagangannya, nasi pecel. Jakun Karyamin turun naik. Ususnya terasa terpilin.

“Masih pagi kok mau pulang, Min?” tanya Saidah. “Sakit?”

Karyamin menggeleng, dan tersenyum. Saidah memperhatikan bibirnya yang membiru dan kedua telapak tangannya yang pucat. Setelah dekat, Saidah mendengar suara keruyuk dari perut Karyamin.

“Makan, Min?”

“Tidak. Beri aku minum saja. Daganganmu sudah ciut seperti itu. Aku tak ingin menambah utang.”

“Iya, Min, iya. Tetapi kamu lapar, kan?”

Karyamin hanya tersenyum sambil menerima segelas air yang disodorkan oleh Saidah. Ada kehangatan menyapu kerongkongan Karyamin terus ke lambungnya.

“Makan, ya Min? Aku tak tahan melihat orang lapar. Tak usah bayar dulu. Aku sabar menunggu tengkulak datang. Batumu juga belum dibayarnya, kan?”

Si paruh udang kembali melintas cepat dengan suara mencecet. Karyamin tak lagi membencinya karena sadar, burung yang demikian pasti sedang mencari makan buat anak-anaknya dalam sarang entah di mana. Karyamin membayangkan anak-anak si paruh udang sedang meringkuk lemah dalam sarang yang dibangun dalam tanah di sebuah tebing yang terlindung. Angin kembali bertiup. Daun-daun jati beterbangan dan beberapa di antaranya jatuh ke permukaan sungai. Daun-daun itu selalu saja bergerak menentang arus karena dorongan angin.

“Jadi, kamu sungguh tak mau makan, Min?” tanya Saidah ketika melihat Karyamin bangkit.

“Tidak. Kalau kamu tak tahan melihat aku lapar, aku pun tak tega melihat daganganmu habis karena utang-utangku dan kawan-kawan.”

“Iya Min, iya. Tetapi….”

Saidah memutus kata-katanya sendiri karena Karyamin sudah berjalan menjauh. Tetapi Saidah masih sempat melihat Karyamin menoleh kepadanya sambil tersenyum. Saidah pun tersenyum sambil menelan ludah berulang-ulang. Ada yang mengganjal di tenggorokan yang tak berhasil didorongnya ke dalam. Diperhatikannya Karyamin yang berjalan melalui lorong liar sepanjang tepi sungai. Kawan-kawan Karyamin menyeru dengan segala macam seloroh cabul. Tetapi Karyamin hanya sekali berhenti dan menoleh sambil melempar senyum.

Sebelum naik meninggalkan pelataran sungai, mata Karyamin menangkap sesuatu yang bergerak pada sebuah ranting yang menggantung di atas air. Oh, si paruh udang. Punggungnya biru mengkilap, dadanya putih bersih, dan paruhnya merah saga. Tiba-tiba burung itu menukik menyambar ikan kepala timah sehingga air berkecipak. Dengan mangsa di paruhnya, burung itu melesat melintasi para pencari batu, naik menghindari rumpun gelagah dan lenyap di balik gerumbul pandan. Ada rasa iri di hati Karyamin terhadap si paruh udang. Tetapi dia hanya bisa tersenyum sambil melihat dua keranjangnya yang kosong.

Sesungguhnya Karyamin tidak tahu betul mengapa dia harus pulang. Di rumahnya tak ada sesuatu buat mengusir suara keruyuk dari lambungnya. Istrinya juga tak perlu dikhawatirkan. Oh ya, Karyamin ingat bahwa istrinya memang layak dijadikan alasan buat pulang. Semalaman tadi istrinya tak bisa tidur lantaran bisul di puncak pantatnya. “Maka apa salahnya bila aku pulang buat menemani istriku yang meriang.”

Karyamin mencoba berjalan lebih cepat meskipun kadang secara tiba-tiba banyak kunang-kunang menyerbu ke dalam rongga matanyta. Setelah melintasi titian Karyamin melihat sebutir buah jambu yang masak. Dia ingin memungutnya, tetapi urung karena pada buah itu terlihat jelas bekas gigitan kampret. Dilihatnya juga buah salak berceceran di tanah di sekitar pohonnya. Karyamin memungut sebuah, digigit, lalu dilemparkannya jauh-jauh. Lidahnya seakan terkena air tuba oleh rasa buah salak yang masih mentah. Dan Karyamin terus berjalan. Telinganya mendenging ketika Karyamin harus menempuh sebuah tanjakan. Tetapi tak mengapa, karena di balik tanjakan itulah rumahnya.

Sebelum habis mendaki tanjakan, Karyamin mendadak berhenti. Dia melihat dua buah sepeda jengki diparkir di halaman rumahnya. Denging dalam telinganya terdengar semakin nyaring. Kunang-kunang di matanya pun semakin banyak. Maka Karyamin sungguh-sungguh berhenti, dan termangu. Dibayangkan istrinya yang sedang sakit harus menghadapi dua penagih bank harian. Padahal Karyamin tahu, istrinya tidak mampu membayar kewajibannya hari ini, hari esok, hari lusa, dan entah hingga kapan, seperti entah kapan datangnya tengkulak yang telah setengah bulan membawa batunya.

Masih dengan seribu kunang-kunang di matanya, Karyamin mulai berpikir apa perlunya dia pulang. Dia merasa pasti tak bisa menolong keadaan, atau setidaknya menolong istrinya yang sedang menghadapi dua penagih bank harian. Maka pelan-pelan Karyamin membalikkan badan, siap kembali turun. Namun di bawah sana Karyamin melihat seorang lelaki dengan baju batik bermotif tertentu dan berlengan panjang. Kopiahnya yang mulai botak kemerahan meyakinkan Karyamin bahwa lelaki itu adalah Pak Pamong.

“Nah, akhirnya kamu ketemu juga, Min. Kucari kau di rumah, tak ada. Di pangkalan batu, tak ada. Kamu mau menghindar, ya?”

“Menghindar?”

“Ya, kamu memang mbeling, Min. Di gerumbul ini hanya kamu yang belum berpartisipasi. Hanya kamu yang belum setor uang dana Afrika, dana untuk menolong orang-orang yang kelaparan di sana. Nah, sekarang hari terakhir. Aku tak mau lebih lama kaupersulit.”

Karyamin mendengar suara napas sendiri. Samar-samar Karyamin juga mendengar detak jantung sendiri. Tetapi Karyamin tidak melihat bibir sendiri yang mulai menyungging senyum. Senyum yang sangat baik untuk mewakili kesadaran yang mendalam akan diri serta situasi yang harus dihadapinya. Sayangnya, Pak Pamong malah menjadi marah oleh senyum Karyamin.

“Kamu menghina aku, Min?”

“Tidak, Pak. Sungguh tidak.”

“Kalau tidak, mengapa kamu tersenyum-senyum? Hayo cepat; mana uang iuranmu?”

Kali ini Karyamin tidak hanya tersenyum, melainkan tertawa keras-keras. Demikian keras sehingga mengundang seribu lebah masuk ke telinganya, seribu kunang masuk ke matanya. Lambungnya yang kempong berguncang-guncang dan merapuhkan keseimbangan seluruh tubuhnya. Ketika melihat tubuh Karyamin jatuh terguling ke lembah, Pak Pamong berusaha menahannya. Sayang, gagal.

Kompas, 26 Juli 1987

2/16/2008

Pada Hari Kematian Seekor Kerbau

~Kuntowijoyo~

KETIKA pagi-pagi aku sedang mengeluarkan sepeda mau berangkat sekolah, seorang utusan dari desa ayah datang. Dia mengatakan bahwa Kakek sakit keras—yang belakangan aku tahu itu artinya bahwa Kakek sedang sekarat, menuju kematian. Kakek jadi lurah di desanya.

“Jangan pergi sekolah,” kata ibu.

“Pergilah sekolah, nanti pulangnya terus ke Kakek,” kata ayah.

Mereka terus ke kamar dengan maksud aku tidak mendengar perdebatan, begitulah biasanya kalau mereka berbeda pendapat. Tetapi, kamar kami hanya berdinding kayu, jadi pertengkaran mereka kudengar juga.

“Dia harus belajar bahwa Kakek ayah dari ayahnya,” kata ibu.

“Ya, tapi bagi laki-laki seperti dia sekolah itu lebih penting,” kata ayah.

“Mati hanya sekali, sedangkan sekolah itu setiap hari.”

“Laki-laki harus rasional, tidak emosional.”

“Ini bukan soal emosi dan rasio tapi cinta keluarga.”

Perdebatan itu diakhiri—seperti biasanya—dengan tangis ibu. Tetapi rupanya ayah berkeras, “Bagaimana pun Kakek adalah ayahku, jadi akulah yang berhak menentukan,” dengan penekanan pada kata “ku” dan “aku”. Ayah keluar kamar dan memerintahkan supaya aku segera berangkat lalu pulangnya ke desa kakek.

Pulang sekolah siang itu aku ke desa Kakek, 12 kilometer dari sekolah dan tiga kilometer dari desaku. Orang-orang sudah berkumpul. Kakek terbujur di dimpil, sedang lelaku, menghadapi sakaratul maut. Dimpil adalah sayap tambahan sebelah kanan rumah. Tujuh orang membaca Surat Yasin di dekatnya. Ibu membawaku ke belakang untuk makan dan shalat. Aku tahu matanya sembab karena menangis.

Selesai makan dan shalat aku terus ke kamar Kakek. Kudapatkan bahwa Bude dan Bulik menangis di sisi dipan. Melihat aku datang, ayah bangkit dari duduknya di tikar. Dia memberi isyarat supaya aku mengikutinya. Aku mengikutinya ke kamar lain.

“Kau laki-laki atau perempuan?”

“Laki-laki.”

“Nah kalau begitu, kau tidak boleh menangis kayak para perempuan itu.” Maksudnya tentu Bude dan Bulik.

“Apa Kakek akan mati?”

“Pasti. Semua yang hidup pasti mati. Hanya saatnya yang kita tidak tahu. Kalau waktunya tiba, tidak bisa dimajukan atau diundurkan sedetik pun.”

Aku mengambil buku Yasin yang tersedia dan ikut membacanya. Berulang-ulang. Sampai Ashar tiba, sampai Maghrib tiba, sampai Isya’ tiba. Kakek masih terbaring, tak sadar kanan-kiri.

Orang-orang tua lalu berkumpul di pendapa. Mereka prihatin karena Kakek tidak mati-mati. Menurut mereka, mati yang sempurna ialah yang cepat, sederhana, dan tidak menyusahkan orang.

“Ada yang ditunggunya?” tanya seorang.

“Ya, Si Bungsu belum datang.” Yang dimaksud adalah Paman, anak yang konon paling dicintainya. Ia bekerja di pemboran minyak lepas pantai. Maka ketika Paman datang menjelang tengah malam, orang-orang berharap bahwa Kakek akan dengan sukarela meninggalkan dunia ini. Tetapi tidak. Tetap saja Kakek terbaring lelaku. Kata ustadz di surau itu tanda mati yang tidak sempurna. Aku jatuh kasihan pada Kakek. Menurut ingatan saya Kakek adalah orang yang saleh, peramah, dan tidak pernah menyakiti hati orang.

“Kasihan,” bisik seorang.

“Mati saja kok susah,” bisik yang lain. Dini hari orang-orang tua berkumpul lagi.

“Sudah sehari lebih.”

“Ini luar biasa.”

“Pasti ada yang salah.”

“Apa dia punya jimat?”

“Apa dia punya ilmu?”

“Kalau ada harus dilepas.”

Ayah diminta datang dan ditanya soal jimat dan ilmu itu. Ayah mengatakan kalau sepanjang pengetahuannya Kakek tidak punya jimat dan ilmu apa pun, malah dapat dikatakan bahwa Kakek anti-jimat dan anti-ilmu. Sebangsa batu mulia, besi aji, dan senjata Kakek tidak suka.

“Dulu memang orang perlu bawa senjata, karena desa-desa masih berupa hutan. Sekarang, senjata tidak diperlukan lagi. Senjata kita adalah ini,” kata Kakek suatu kali sambil menunjuk ke jidatnya. Orang-orang yang sepermainan dengan Kakek waktu kecil, remaja, dan jejaka juga angkat saksi bahwa Kakek tidak punya jimat dan ilmu. “Ditanggung dia bersih,” kata mereka.

Orang-orang tua bingung. “Bagaimana mungkin bisa seperti ini?” Mereka hanya mondar-mandir dari kamar Kakek ke pendapa. Menjelang pagi mereka memutuskan untuk mengundang orang pintar, seorang kiai terkenal. Habis subuh orang pintar itu datang. Dia langsung ke dimpil tempat Kakek terbaring. Termenung sejenak, lalu dikatakannya, “Ada hutang yang belum dibayar, maka dia tak mau pergi.”

Orang pintar menuju pendapa untuk bermusyawarah dengan orang-orang tua.

“Coba umumkan ke seluruh desa apakah dia punya hutang.” Pemuda-pemuda disebar. Orang-orang kaya di desa dihubungi. Tidak seorang pun melaporkan hutang itu. Orang pintar berkata: “Panggil Pak Carik.” Carik adalah sekdes.

Pak Carik datang.

“Apakah dia menjanjikan sesuatu untuk desa?”

Pak Carik mengernyitkan dahi.

“Sepertinya tidak.”

“Coba diingat-ingat dulu.”

Kembali Pak Carik mengernyitkan dahi, mengingat-ingat.

“Ini bukan janji, cuma rasanan.”

“Ya, apa?”

“Dia rasanan untuk mengeraskan jalan desa dengan batu.”

“Ya, itu. Dia menganggapnya sebagai hutang yang dibayar.

“Sekarang begini saja. Pak Carik mengucapkan keras-keras, berjanji untuk meneruskan rencana itu.”

Menuruti nasehat orang pintar, Pak Carik menuju dimpil. Didekatkannya mulutnya ke telinga Kakek. Lalu dengan keras dikatakannya: “Jangan khawatir, Pak. Kami akan bangun jalan desa kita!”

Orang-orang berharap kata-kata itu akan membuat Kakek senang, dan meninggalkan dunia fana dengan tenang. Orang menahan napas, memandang tubuh yang terbujur. Setelah agak lama menunggu, Kakek masih juga lelaku, orang pintar mundur pelan-pelan. Demikian juga orang-orang tua. Mereka bermusyawarah lagi di pendapa. Orang pintar minta kepala-kepala dusun berkumpul. Mereka pun kumpul.

“Coba diingat-ingat, apakah ada di antara kalian mendengar dia menjanjikan sesuatu?”

Mereka semua terdiam. Seseorang menunjuk jari.

“Ada,” katanya.

“Apa?” tanya orang pintar.

“Ini sungguh-sungguh janji. Dia berjanji untuk membangun jembatan yang menghubungkan dusun kami dengan pasar.”

Plong! Ketemu sudah. Orang-orang merasa pasti bahwa persoalan akan segera selesai. Maka, sama seperti yang ditempuh Pak Carik, kepala dusun harus berjanji keras-keras bahwa pembangunan jembatan akan dilaksanakan. Demikianlah kepala dusun mendekat dan ke telinga kakek dikatakan keras-keras, “Akan kami bangun jembatan itu, Lurah.”

Begitu banyak orang ingin menyaksikan bagaimana Kakek menghembuskan napas yang penghabisan, sehingga dimpil jadi panas, orang-orang yang mengaji berhenti, ingin tahu apa yang kemudian terjadi. Orang-orang terdiam, hanya napas Kakek yang terdengar. Mereka menunggu lama, tapi tak ada perubahan. Orang mulai meninggalkan kamar, satu per satu.

Akhirnya orang pintar meninggalkan kamar menuju pendapa. Ia tidak menduga bahwa pekerjaannya sesulit itu.

“Coba semua anak-anak dan cucu suruh ngumpul di sini,” pintanya.

Keluarga pun berkumpul. Bude, Bulik, ayah, Paman, dan aku sebagai satu-satunya cucu yang sudah paham alif-ba-ta. Setelah semua kumpul, kata orang pintar:

“Adakah di antara kalian pernah dijanjikan sesuatu oleh Bapak?”

“Tidak,” Bude.

“Tidak,” Bulik.

“Tidak,” Paman.

“Tidak,” ayah.

“Kok semua tidak. Coba diingat-ingat lagi,” kata orang pintar.

Kata-kata “tidak” terdengar lagi.

“Mesti ada seorang di antara kalian.”

Kembali gelengan kepala dan “tidak” terdengar. Kemudian mata orang pintar itu menatap saya.

“Kaulah yang belum bicara, cucu,” katanya.

Semua yang hadir memandang aku. Dengan jujur kukatakan:

“Ya, sebenarnya ada. Tapi sudah lama sekali.”

Orang-orang bergumam. “Katakan, Nak. Katakan, Cucu,” desak orang.

Sebentar aku melihat wajah-wajah yang penuh harap.

“Kau sudah siap mengatakan, Cucu?” tanya orang pintar.

Pertanyaan itu kujawab dengan anggukan.

“Kalau begitu katakan.”

Aku pun bilang, “Kakek pernah berjanji padaku, akan membelikan seekor kerbau.”

Terdengar gumam panjang.

“Sekarang tugasmu ialah melepaskan Kakek dan penderitaan. Kau katakan keras-keras di telinganya bahwa yang kau perlukan ialah sepeda. Dan kau sudah punya. Kerbau tidak lagi diperlukan,” kata orang pintar.

Aku tidak setuju, lalu kukakatan, “Tapi….”

“Tapi apa, Cucu?”

“Tapi, mmm, Kakek bilang kalau kerbau itu sebagai modal pertama. Kakek mengatakan bahwa aku kelak akan jadi belantik besar.”

“Nah,” rupanya orang pintar sudah menemukan jawabnya, kemudian katanya, “kalau besar kau ingin jadi apa?”

“Dokter.”

“Kalau begitu katakan pada Kakek bahwa kau tidak perlu kerbau, sebab kau ingin jadi dokter.”

Kulihat ibu menyibak kerumunan menuju aku. Ia berbisik, katanya aku harus mengikutinya. Aku berdiri, dan mengikuti ibu ke kamar. Kulihat ayah juga ikut bangkit dan mengikuti kami. Kami bertiga masuk kamar.

“Jangan dikerjakan,” kata ibu.

“Kerjakan,” kata ayah dengan tenang.

Aku hanya terbengong-bengong.

“Aku tak mau dia jadi sebab kematian Kakek.”

“Aku mau dia menyegerakan kematian Kakek.”

Aku sungguh tak tahu siapa yang harus diturut. Ayah memungut tanganku dan membawaku keluar kamar. Ibu menangis di kamar. Masih kudengar sambil menangis dia berteniak, “Aku tak rela anakku jadi pembunuh Kakeknya!” Dengan keras ayah bilang, “Kau laki-laki. Ikuti ayah.” Seperti kerbau dicocok hidung, aku mengikuti ayah.

Aku mengerjakan seperti dikerjakan Pak Carik dan kepala dusun, sesuai dengan anjuran orang pintar. Orang-orang terdiam, menahan napas. Napas Kakek semakin pelan, lalu bernapas untuk yang terakhir kali. Kemudian orang-orang mengucap, “Alhamdulillah!” Ayah mengelus-elus kepalaku.

Aku menangis sejadi-jadinya, diikuti Bude dan Bulik. Tangisku semakin keras, selalu terngiang-ngiang kata-kata ibuku, “Anakku jadi pembunuh Kakeknya! Anakku jadi pembunuh Kakeknya!” Kata-kata itu kedengarannya makin lama makin nyaring saja. 

Republika, 30 Januari 2000

2/09/2008

Lauk Dari Langit

~Danarto~

Hari masih pagi ketika gadis kecil itu berjingkrak-jingkrak ke sana ke mari sambil berteriak-teriak, “Hujan ikan! Hujan Ikan!” Kepalanya menengadah menatap angkasa mencari tahu apakah ada lubang menganga nun di atas sana dari mana ikan-ikan melayang beramai-ramai terjun ke bumi. Gadis kecil itu juga berlari mengitari gubuk tempat tinggalnya dengan teriakan tak berkeputusan, “Hujan ikan! Hujan ikan!”

Ayah dan ibunya, juga dua kakaknya muncul dari dalam gubuk sambil menatap ke udara. Sesaat ratusan ekor ikan menghujani keluarga itu. Dengan mulut menganga, beruntun ucapan “masya Allah”, tak disadari keajaiban sedang berlangsung di kediaman mereka.

“Hujan ikan! Hujan ikan!” teriakan gadis kecil itu terus-menerus penuh kegembiraan.

Keluarga itu lalu memunguti dengan cekatan ratusan ekor ikan yang berserakan di rerumputan pelataran, kebun, dan atap gubuk mereka. “Subhanallah,” berulang-ulang terlantun dari mulut mereka. Apa yang sedang terjadi dengan langit? Mengapa hujan ikan seolah-olah disajikan kepada mereka? Hujan ikan sesaat yang meluncurkan ratusan ekor ikan dari langit, apakah ini berkah? Apakah ini bencana? Mereka mencoba memahami kehendak Tuhan yang tak terduga, seperti halnya memahami hidup mereka sendiri yang serba jauh dari pengandaian.

Kelihatan keluarga ini tak biasa berandai-andai. Hidup sehari-hari keluarga yang berkebun sayuran ini penuh kepastian. Kerja keras dan bersyukur kepada Tuhan. Sebuah keluarga dengan tiga anak, dua lelaki, satu perempuan, tahu apa yang harus dilakukan. Hidup terpencil di sebuah bukit, mereka tampak bebas menggarap lahan yang ada hampir-tak berbatas. Bayam, kangkung, kul, singkong, kacang panjang, cabai, sudah bertahun-tahun menghidupi keluarga ini sejak pengantin baru.

Merasa tak bisa hidup di kota, suami istri itu memilih menetap di sebuah bukit. Dengan tetangga yang berjauhan, keduanya merasakan kebebasan. Bukit yang tanpa tuan, keduanya serta-merta — sebagaimana para tetangganya — menjadi pemilik sepenggal lahan kebun yang dipilihnya secara bebas. Tangan-tangan Pemda boleh jadi tidak memadai jumlahnya untuk bisa mengurusi lahan perkebunan atau pertanian di daerah perbukitan itu, mengingat luasnya tanah dan sedikitnya minat penduduk untuk tinggal di situ sehingga terkesan siapa pun boleh mengolah tanah itu seberapa pun maunya. Mau menanam apa saja, tak ada yang melarang, tak ada juga yang mengizinkan. Sampai akhirnya keduanya beranak-pinak. Mereka berbahagia.

Sebagaimana para tetangganya, setiap saat keluarga itu dapat memperluas lahannya dengan leluasa. Disamping sayur-mayur, keluarga itu mencoba menanam kembang. Di antaranya anggrek. Namun sejauh ini belum dapat diukur keberhasilan usaha kebun anggrek itu. Sedang sayur-mayur yang menjadi kebutuhan sehari-hari, keluarga itu menjualnya kepada pedagang yang mengambilnya dan memasarkannya di kota. Dari sini keluarga itu hidup cukup memadai.

Jarak yang cukup jauh dari kota menyebabkan para penghuni perbukitan itu cukup sulit menyekolahkan anak-anaknya. Si bungsu, gadis kecil itu, sekitar enam tahun usianya, yang suka berjingkrak-jingkrak, hidup menyatu dengan kangkung, bayam, kacang panjang, burung, tikus, dan kijang. Gadis kecil itu sering ngobrol dengan burung maupun tikus yang berseliweran di sekitar kebun itu. Pada suatu hari, dia melihat kijang di kejauhan dan memanggilnya. Kijang itu nampak bengong, heran, ada seorang gadis kecil yang barangkali terlalu berani memanggil binatang yang punya tanduk itu. Kenapa tidak?

Satu saat, keluarga itu kedatangan tamu. Dari kota, tamu itu mencatat jumlah orang di keluarga itu. Hanya begitu saja. Petugas itu tak menanyakan soal lain, misalnya soal surat izin tinggal dan menggarap lahan. Barangkali saja, petugas itu tidak mau repot untuk menanyai ini dan itu, sementara pekerjaan di kantor sudah cukup melelahkan. Kemurnian hati para petugas kota dan keluarga itu agaknya terjalin baik sehingga urusan kartu keluarga dan tetek-bengek lainnya tidak perlu harus menguras keringat dan lain sebagainya.

Dari atas bukit itu, pemandangan kota tampak tergelar dengan jelas. Kesibukan kota dengan lalu-lalang lalu-lintasnya merupakan pemandangan yang menarik untuk mendorong siapa pun bekerja keras. Di malam hari, pemandangan kota lain lagi daya pikatnya. Lampu-lampu rumah, toko, jalan raya, dan lampu-lampu kendaraan yang susul-menyusul di malam gelap memberi suasana kehidupan yang lain dari kehidupan senyatanya. Di malam hari, kota tak perlu nama. Di malam hari, kota mencipta dunia yang tak dikenal manusia. Mengaduk rasa ramai di hati dan rasa tentaram di perasaan.

Sarapan kali ini mencatat hujan ikan disajikan di meja makan. Setelah sujud syukur berjamaah, keluarga itu mengitari meja makan. Meja makan dari anyaman bambu yang dibuat sendiri, merekam suara reyot, kri-et… kri-et… setiap meja makan itu disentuh atau pun ditindih. Makan pagi keluarga itu menikmati lauk-pauk ikan yang berlimpah. Belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, lauk hanya terdiri dari ikan asin dan sambal terasi di antara sayuran yang direbus dengan garam.

Sebelum makan, mereka berdoa. Mereka makan ikan yang dibakar sebanyak yang mereka suka. Anak-anak sangat menikmati. Mereka bertiga terus menambah ikannya. Di antara bunyi kecap bibirnya dan pergulatan lidahnya dengan ikannya, ketiga anak itu juga asyik ngobrol, hal yang sebelumnya tidak dibolehkan ayah dan ibunya. Ngobrol waktu makan hanya akan menjauhkan berkah Allah, kata ayah dan ibunya. Doanya tidak dikabulkan Allah. Makan sebagai berkah dari Allah harus dinikmati dengan benar. Pagi itu mereka lupa semuanya tentang hal itu. Si bungsu gadis kecil itu terus bercerita bagaimana dia tertimpa ikan-ikan yang terjun dari angkasa. Seekor di antaranya berhasil dia tangkap dengan jari-jemarinya yang kecil. Ikan itu menggelepar ingin lepas. Puluhan ekor menggelepar di rerumputan. Sejumlah lainnya meloncat dari atap gubuk.

Namun, tidak demikian dengan ayah dan ibunya. Kedua orangtua itu menikmati makannya dengan tercenung. Diam. Berkelindan dengan tanda tanya. Peristiwa pagi itu seperti memburu keduanya. Mau lari kemana pun akan terus diuber. Berondongan tanda tanya menyergap ke benaknya. Kedua orangtua itu terbenam di antara bunyi kunyahan ikannya.

“Apa yang dimaksud Allah dengan hujan ikan ini?” kata sang suami di dalam hati.

“Apa yang dimaksud Allah dengan hujan ikan ini, tidak perlu kita ketahui,” kata istrinya di dalam hati juga.

“Mengapa tidak boleh kita ketahui?” kata suami di dalam hati.

“Berkahnya akan berkurang,” kata si istri di dalam ahti.

“Mengapa berkahnya berkurang?”

“Karena kita ingin mengetahui suatu rahasia, padahal bersyukur lebih baik.”

“Saya tidak mengerti.”

“Makanya lebih baik diam.”

Percakapan di dalam hati itu kebetulan bisa bersambung. Suami itu tetap diam sambil mengunyah. Istrinya tetap diam juga sambil mengunyah. Terdengar bunyi kunyahan. Gigi-gigi yang menggerus makanan. Leher turun naik seperti mengirim barang dari atas ke bawah. Berapa ekor ikan yang habis dilahap, keduanya tentu tidak menghitungnya. Suami istri itu mencoba untuk berbicara tetapi ragu-ragu. Barangkali apa yang mau dikatakannya penting tapi desakan untuk tidak melakukannya juga keras. Sampai selesai makan keduanya diam untuk sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.

Banyak tanda-tanda Allah yang tidak perlu diketahui maknanya. Banyak pertimbangan untuk diam dari banyak gejala bagaimana pun musykilnya. Barangkali Tuhan lebih suka begitu. Atau kita sedang mengatasnamakan Tuhan? Bagaimana mungkin kita berani? Kita hanya pura-pura berani, Tuhan tahu itu. Atau kita menyikapi setiap gejala sebagai pahala dan bencana? Sebagai pahala karena kita suka. Sebagai bencana karena kesukaan kita menimbulkan kesedihan bagi yang lain.

~Danarto~

Ikan-ikan yang dikumpulkan pagi itu menggunung di dalam gubuk mereka. Berkah itu memusingkan mereka karena ikan-ikan itu tidak boleh busuk. Harus secepatnya digarami. Dari mana bisa didapat garam secepatnya? Keluarga itu tidak punya uang untuk memborong garam. Yang ada hanya sekadar garam persediaan untuk memasak. Ketika kelelahan mengumpulkan ratusan ekor ikan itu memporot tenaga mereka, keluarga itu hanya terduduk diam. Ayah, ibu, dan ketiga anaknya bagai patung yang dipajang di depan buat menyambut tamu yang datang. Tetapi ternyata tidak ada tamu yang datang. Yang bertamu hanya rasa bingung.

Tiba-tiba muncul suatu pikiran di benak sang suami. Ia menyat dari kursi bambunya seperti tersentak oleh berkah yang lain. Dengan cekatan ia merangkai ikan-ikan itu satu-persatu ditusuk dengan tali bambu. Dengan tongkat bambu yang dipanggul cukup banyak ikan yang bisa dibawa. Ia dapat menjual ikan-ikan itu di pasar atau menukarnya dengan garam. Ia berangkat dengan bocah sulungnya. Dengan penuh kegembiraan ayah dan anak itu meninggalkan gubuknya kali ini sebagai penjual ikan. Istri dan kedua anaknya yang tinggal, berdebar melihat kecekatan kerja sang suami dan ayah mereka. Si gadis kecil mau ikut tapi dilarang ibunya. Si kecil tentu tidak bisa berjalan cepat yang hanya akan memperlambat langkah.

Kaki yang kokoh, dada yang bidang, badan yang tegap, tangan yang cekatan, semuanya ini modal yang menjadikan sang suami sebagai kepala rumahtangga yang sigap bekerja. Kini ia dan anak sulungnya menuruni bukit pada jalan setapak yang diapit pohon dan rimbunan tanaman. Jalan setapak itu sehari-harinya licin. Namun kali ini lebih licin lagi, bahkan berlumpur.

Begitu sampai di bibir bukit dan menatap kota di depannya, sang ayah dan anaknya jatuh terduduk, kekuatannya dilolosi. Ikan yang dipanggulnya terserak di tanah. Keduanya meraung sejadi-jadinya: kota telah musnah, ribuan mayat bergelimpangan di mana-mana.

Tangerang, 14 Februari 2006

Harian Republika, 5 Maret 2006

2/02/2008

Bayangan Darah

~Yanusa Nugroho~

Setelah semua perkelahian ini, lalu apa? Setelah perseteruan ini, lantas apa? Masih adakah yang tersisa ketika kita habiskan seluruh kebencian dan sakit hati ini? Ataukah kita memang dilahirkan untuk saling bunuh? Mungkinkah kebencian adalah kehidupan kita? Dan tanpa itu, kita bahkan tak berbekas sama sekali?

Dua sosok itu termangu oleh pikiran masing-masing. Tubuh mereka menua. Napas mereka memburu, tetapi keinginan untuk saling bunuh masih saja menyala di mata mereka.

”Mengapa tak kau akhiri saja semua ini, di sini, sekarang juga…,” ucap yang satu dengan suara setengah menggeram.

”Aku pun heran, mengapa kau berlama-lama dengan urusan ini?” balas yang satunya dengan suara penuh dendam.

Sejak benda yang konon turun dari langit itu berada di tangan Anjani, kedua laki-laki itu seperti tersihir untuk merebutnya. Tak perlu alasan lain, keduanya sangat ingin memiliki benda ajaib yang berasal dari matahari itu. Benda yang mampu melihat dunia dan isinya. Benda yang berisi pengetahuan tentang masa lalu dan mendatang. Benda yang mampu menjawab apa yang masih menjadi pertanyaan manusia.

Keduanya masih mengatur napas, menghirup udara jeda, setelah tujuh hari tujuh malam baku hantam. Siang terik, ketika bergulat, tubuh mereka berkeringat, dan matahari membuatnya seolah jilatan kilat. Batu hancur, pohon tumbang, tanah berlubang, debu mengepul, menjauh, karena tak kuasa menahan hantaman tubuh-tubuh yang terjengkang. Malam, tubuh mereka berpijar ketika tangan mereka saling gampar. Angin malam hanya hilir mudik, mengamati pergumulan yang entah kapan akan berhenti.

Ibu mereka hanya menitikkan air mata beku, tubuhnya membatu.

Mereka, kedua anak laki-lakinya itu, sesungguhnya lahir dari sebuah dendam. Dendam yang tumbuh dari benih keinginan yang tak terpenuhi. Dan ketika mereka tumbuh dan saling memusuhi, sang ibu pun tak lagi bisa berbuat apa-apa. Jika saja dia tahu semua akan menjadi seperti saat ini, tentu kedua bayi kembarnya itu telah dibunuhnya, jauh bahkan ketika mereka masih di dalam rahimnya. Akan tetapi, siapakah yang mampu melawan kasih sayang?

Bahkan ketika benda langit itu—yang menurut sang ayah menjadi penyebab perkelahian anak kembarnya itu—dibuang ke udara, perkelahian mereka tak bisa dihentikan sama sekali. Mereka melesat, adu cepat, memburu, mengikuti ke mana benda langit itu akan jatuh. Berhari-hari mereka berlari, menerabas hutan, menghancurkan sawah ladang, melesat meninggalkan kobaran api di hamparan kering ilalang. Mereka berlari seperti adu kencang melawan angin, seolah terbang, sedemikian rupa sehingga seolah mereka lupa, apa sebenarnya yang tengah mereka kejar.

Hingga berminggu-minggu kemudian, ketika masing-masing mengira benda langit itu tenggelam di dasar telaga, barulah keduanya berhenti sejenak. Mereka berseberangan. Setelah bersitatap sesaat, seolah saling memperhitungkan langkah lawan, tiba-tiba mereka melompat dan menghilang ke perut telaga.

Sebatang pohon kawista tua, yang entah sejak kapan tumbuh di pinggir telaga, hanya sedikit mengangguk-anggukkan tubuhnya—ah, barangkali saja dia menggeleng-geleng; siapa yang peduli? Tak ada yang peduli apakah sebatang pohon mengangguk atau menggeleng, bukankah itu semua hanya penamaan dan celakanya manusia hanya punya keterbatasan kata-kata. Yang jelas, pohon kawista itu tersenyum menertawakan kedua manusia yang tiba-tiba menceburkan diri ke dalam telaga.

Seekor capung dengan sepasang matanya yang tak pernah berkedip itu menatap permukaan telaga. Sesaat kemudian menatap kawista, untuk kemudian memandangi permukaan telaga kembali. Hanya ada gelembung udara membuih. Telaga seperti wajah bayi yang lelap pulas dibuai mimpi.

Sementara di perut telaga, seekor ikan gabus tua, yang kumisnya melintang, memanjang mirip lengan gurita, mencoba mempertanyakan apa yang disaksikan matanya. Ketika dia tengah menunggu udang-udang kecil yang bodoh, bermain-main di dekat kumisnya—yang tentu saja akan segera disantapnya dengan tiba-tiba, matanya menangkap sebuah pendar cahaya jatuh dari langit dan tenggelam ke dasar telaga.

Bersamaan dengan gerak lamban benda bercahaya itu, yang perlahan-lahan tenggelam, tibatiba gabus tua itu seperti disadarkan bahwa dirinya adalah sebuah ciptaan. Dia tiba-tiba merasakan daya hidup luar biasa dan karenanya dia mampu mengagumi sebuah keindahan. Itu saja. Pendar cahaya itu kemudian menghilang di dasar telaga, dan dengan sendirinya air telaga menjadi serba temaram kembali.

Namun, baru beberapa saat si gabus merasakan keheningannya kembali, dan tepat ketika seekor udang kecil mengendus-endus bibirnya, tiba-tiba sebuah ceburan dahsyat terjadi di permukaan. Si gabus ternganga, si udang melejit entah ke mana. Dua benda jatuh bersamaan. Meluncur deras menuju dasar telaga, menyisakan buih putih di belakangnya.

Samar-samar, mata si gabus tua bisa menangkap yang jatuh itu adalah dua manusia. Matanya cukup hafal akan sosok makhluk bernama manusia itu. Namun, inilah yang pertama kali terjadi dalam hidupnya; mungkin hanya pernah terjadi di zaman moyang para gabus. Dua manusia itu, dalam perjalanannya menuju dasar telaga, tiba-tiba berubah menjadi kera. Kera bertubuh manusia. Lengan-lengan mereka berbulu. Wajah mereka berbulu. Dan di kedua ujung punggung mereka menjulur ekor panjang.

Yang juga tak dipahami oleh otaknya yang kecil itu adalah ketika dua manusia-kera itu, begitu menyadari bahwa ada ”sosok” asing, yang sama-sama melaju, tiba-tiba berhenti. Tubuh mereka melayang di perut telaga dan dengan tiba-tiba pergulatan pun terjadi.

Perkelahian. Bukan, ini sebuah nafsu membunuh yang tumpah begitu saja. Karena, di mata si gabus, keduanya benar-benar tak memiliki ampun bagi lawan. Seakan mereka hanya mau berhenti jika lawan mati. Bisakah kau menciptakan nama untuk kekejian ini?

Sesekali mereka berebut menuju dasar, tetapi sesaat kemudian, setelah pergulatan saling menghalangi terjadi, keduanya meluncur ke permukaan. Begitu berulang kali.

Para batu yang tertidur abadi terbangun oleh arus panas dua makhluk itu. Dalam diam dan kebekuan pandangan, mereka bersepakat dengan palung dan air untuk mengirimkan kembali kedua makhluk itu ke permukaan.

Maka, gabus tua itu menyaksikan dengan mata kepalanya kedua makhluk itu termuntahkan ke permukaan. Seketika telaga temaram dan sejuk kembali.

Sebaliknya, pohon kawista yang tengah terkantuk-kantuk setelah tadi tersenyum, atau menggeleng, mendadak terkejut. Seandainya saja dia tak berakar, tentu dia sudah terlontar entah ke mana. Tiba-tiba dua makhluk aneh, seperti manusia sekaligus kera, terlontar tinggi ke udara bersama semburan air dahsyat dari dasar telaga.

Dua tubuh itu terpelanting tak berdaya, satu ke kiri, yang satu ke kanan. Jatuh berdebuk ke bumi dan tak sadarkan diri. Hening. Capung-capung merubung, mungkin curiga. Di sela-sela bunga kemuning, lebah mendengung mendambakan madu bening. Uir-uir mendetir-detir, mewartakan keheningan hingga ke pinggir-pinggir.

Namun, itu semua hanya beberapa saat. Kelopak mata masing-masing mulai berkedut-kedut. Ada kehidupan kembali pada tubuh mereka. Sesaat kemudian keduanya menggeliat. Seperti disengat oleh ingatan purba, mereka melanjutkan perkelahian itu kembali. Begitu saja.

Matahari mulai melorot, merah, lelah memelototi dua makhluk yang masih saja saling menimpakan maut kepada lawannya. Malam gulita, seolah meniru seorang dewi yang bersumpah tak ingin menyaksikan matahari, dan kedua manusia-kera itu belum tahu kapan akan mengakhiri laga mereka.

Sementara itu, telaga itu sendiri, oleh daya gaib benda bercahaya yang ada di dasarnya, telah berubah menjadi sebuah dunia. Gabus tua itu kini sudah bisa mengenali sanak saudaranya, dan membentuk keluarga-keluarga baru, beranak pinak, bercucu dan bercicit. Udang-udang pun yang tak lagi terancam tertelan gabus-gabus mengembangkan kebudayaan mereka di sela-sela karang di dasar telaga. Adapun ras para batu berkembang dalam kebekuan dan tidur abadinya. Tubuhnya dipersembahkan bagi kaum lumut untuk berkembang dan menebal hijau. Dan kaum lumut kian sadar bahwa dirinya tercipta sebagai dunia bagi kaum kriwil kecil tak kasatmata.

Aneh memang. Telaga dan penghuninya itu seolah mendapat cahaya baru, pengertian baru, pandangan baru tentang keberadaan mereka.

Kawista, yang menyerap air telaga, kini berkembang biak dengan buah-buahnya yang manis. Dia kian muda dan karenanya buahnya bertambah lebat. Di sepanjang bibir telaga kini telah tumbuh ratusan batang kawista muda, di sela-sela kemuning, soka, dan bunga api rimba.

Namun, manusia-kera itu belum juga menyudahi sengketa mereka. Hidup mereka sudah kusut masai, tetapi perkelahian mereka belum usai.

Mereka telah benar-benar lupa, apa yang membuat mereka berlaga. Mereka mungkin sudah tak peduli mengapa mereka ingin membuat hidup lawan tersudahi.

Bulu-bulu di tubuh mereka sudah mengelabu termakan waktu, tetapi keinginan membunuh masih saja menggebu.

Seribu tahun berlalu dan mereka belum juga jemu. Perkelahian mereka menjadi adat yang dipahami manusia sebagai teladan. Ketika dunia dipenuhi manusia yang selalu terburu waktu ke mana pun mereka menuju, pergulatan manusia-kera itu masih berkelebat, berpijar, di sana-sini.

Tak perlu lagi alasan mengapa sebuah perkelahian terjadi, karena bukankah sudah seperti makan, minum, tidur, dan bercinta? Rasanya kurang pas jika dalam hidup tak ada laga, begitulah angin berkisah tentang pengalaman perjalanannya mengelilingi dunia.

Para orangtua hanya merenung, memandangi kelebatan bayangan yang melintas dan melibas peradaban anak cucunya. Mereka menyebut dua manusia kera itu Sugriwa-Subali. Perseteruan yang tak pernah usai. Perselisihan yang tak pernah lerai. Persengketaan yang tak kunjung selesai.

Bumi seakan tak lagi dihuni para laksmi. Mereka pergi menuju kayangan Saraswati karena bumi telah tak lagi suci.

Dua manusia kera itu terkutuk dalam sebuah laga tanpa tepi. Mungkin saja mereka sengsara, tetapi sekali lagi itu hanya kata-kata yang, sekali lagi, hanya sebatas itu yang kita pahami. Mereka kembali mendengar gaung suara itu, yang seakan mengingatkan mereka akan sesuatu. Setelah semua ini, lalu apa? Setelah perseteruan ini, lantas apa? Masih adakah yang tersisa ketika kita habiskan seluruh kebencian dan sakit hati ini? Ataukah kita memang dilahirkan untuk saling bunuh?

Namun, sekali lagi, perkelahian itu sudah mengadat, padat, dan mereka—dua manusia-kera itu—terkurung di dalamnya tanpa daya sama sekali.

Bukit Nusa Indah, 1982